Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan
Allaahu ghayatunaa
Ar rasuul qudwatuna
Al qur'aan dusturuna
Al jihaadu sabiiluna
Al mautu fii sabilillah
Asma amanina
Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur'an pedoman hidup
Jihad adalah jalan juang kami
Mati dijalan Allah adalah
Cita cita kami tertinggi
Alunan nasyid lawas Shoutul Harokah ini mengalun gempita dari atas panggung. Para senior partai dakwah ini, sedikit bernostalgia, memimpin nasyid dengan lirik penuh semangat perjuangan. Peserta pun terbawa suasana, mengikuti irama dan turut dalam gempita, menyusupkan kembali bara semangat yang terkadang seperti nyala lilin tersapu angin.
"Selamat milad PKS ke-24!"
MasyaAllah... Ternyata sudah 24 tahun! Mendengar dan kembali melantunkan nasyid "Bingkai Kehidupan" ini serentak, seperti mesin waktu yang membawaku kembali ke masa-masa dulu. Masa ketika seolah tak kenal lelah untuk bergerak ke sana kemari, turun ke jalan untuk aksi menyuarakan aspirasi rakyat, dan seabrek aktivitas dari pukul 6 hingga pukul 9, hari Ahad hingga Sabtu.
2005, pertama kalinya aku tergabung dalam "lingkaran cinta" itu. Dan kini, di tahun 2026, ternyata aku pun masih di sini. Meski tak lagi di tempat yang sama, ternyata di setiap tempat, selalu kembali ke "rumah" yang sama.
Ah, apalah diri ini. Yang masih secuiiil kontribusi. Yang masih kerap mencari alasan, terkadang datang hanya "raga tanpa jiwa". Terkadang masih ini-itu, acapkali ingin berhenti, tak jarang merasa lelah, masih sering terlupa, terasa berat beban di pundak, ingin lari saja.
Tapi lagi-lagi aku kembali. Benar, ternyata "lingkaran cinta" itu, seperti "charger super vooc" yang dalam waktu 1-2 jam bisa "recharging soul" battery untuk sepekan. Bertemu seorang teman yang hafalan Qur'annya paling banyak, seolah ada yang nampol pipi: "hayoloh! Udah nambah hafalan belum? Udah murojaah belum?"
Melihat wajah beliau yang tilawahnya selalu full, seperti ada yang menepuk pundak, "yuk, semangat terus tilawahnya tiap hari. Jangan sampai nggak ada interaksi sama sekali dengan Al-Qur'an, ya!"
Lalu saat bersalaman dengan beliau yang paling ringan mengulurkan tangan saat ada keperluan, dalam hati menyusup doa, "Allah.. kami juga ingin menjadi seorang Aghnia yang dermawan, agar jangkauan tangan kami makin panjang dan luas."
Ketika melempar senyum dengan ibu yang lembut, rasanya harus menyembunyikan muka, "berapa kali hari ini offside ngomel-ngomel, Mak?" Uhuk!
Begitulah. Saat datang dalam lingkaran itu, sejatinya aku tengah mengais nasihat untuk diri-sendiri.
Tak salah jika dibilang "lingkaran" itu adalah nyawa. Karena pribadi-pribadi itu lah yang menjadi "wajah" PKS di tengah masyarakat. Lingkaran-lingkaran itu menjadi pusat penempaan, menjadi seorang mushlih, tak sekadar shalih.
Apa lah diri ini yang masih jauuuh dari karakter-karakter mushlih itu. Tapi setidaknya di sini, selalu mendapat pengingat dan mencoba terus berproses menjadi lebih baik dan terus lebih baik, tanpa merasa sudah menjadi yang paling baik. Nahloh!
Di sudut ruangan yang ramai itu, aku seperti berada di tempat lain yang sepi. Mellow. Tiba-tiba "mbrambang", lalu saat harus ke panggung, masih dengan suasana hati yang sebenarnya entah! Ada rasa gembira, haru, sedih saat bertemu teman-teman seperjuangan, juga harapan penuh untuk masa depan. Ya, semoga kita Istiqomah, terus bersama berada di jalan yang lurus.
Lalu seseorang kembali memberi pengingat, mengutip kalimat Ustadz Alifudin yang hari itu datang silaturahmi ke Bali.
"Intinya wajar jika ketika terkena musibah orang-orang akan sedih. Tapi yang istimewa itu, yang masih bisa tersenyum dan bersyukur saat terkena musibah."
Bukankah sejatinya, hidup itu seperti jalinan masalah dengan masalah lainnya? Sudahkah bersyukur hari ini? Atas segala nikmat Allah.
Selamat Milad ke -24, PKS. Partai yang selalu penuh inovasi tapi acapkali mendapat caci-maki. Teruslah berjuang untuk umat, untuk rakyat. Semoga Allah ridhai.
Sudut Kampung Pinggiran Kota Denpasar,
Ahad, 26 April 2026
Arina Mabruroh


0 Komentar