Saya diberi amanah untuk menyapa kembali para saksi PKS yang dulu pernah membantu perjuangan di pemilu.
Tugasnya sederhana…
Hanya menghubungi satu per satu lewat WA.
Awalnya saya pikir ini cuma pekerjaan administrasi biasa.
Ternyata saya salah.
Di balik satu nomor yang dihubungi…
Ada banyak kisah yang diam-diam menyimpan air mata.
Ada satu pesan yang membuat saya lama menatap layar HP.
“Maaf pak, ini nomor kakak saya yang sudah meninggal. Dulu beliau memang saksi PKS. Kalau masih butuh saksi, saya dan keluarga siap menggantikan. Anak saya dua sudah lulus SMA, insyaAllah siap bantu. Itu amanah abang saya sebelum meninggal… beliau bilang jangan tinggalkan perjuangan ini.”
Saya membaca pesan itu berulang-ulang.
Lalu diam.
Entah kenapa dada terasa sesak.
Karena di zaman hari ini, ketika loyalitas sering dihitung dengan untung rugi… masih ada orang yang memegang amanah sampai diwariskan ke keluarganya.
Belum selesai rasa haru itu… masuk lagi pesan lain dari seorang bapak tua.
“Pak, saya sekarang sudah sakit-sakitan dan penglihatan mulai kabur. Mungkin sudah tidak kuat jadi saksi lagi. Tapi anak saya insyaAllah siap menggantikan saya. Dari dulu saya selalu bilang ke anak-anak, kalau kita mungkin bukan orang besar… tapi jangan pernah berhenti bantu orang-orang baik.”
Saya langsung membayangkan seorang bapak sederhana di rumah kecilnya… mungkin sambil memegang HP dengan tangan gemetar… masih memikirkan perjuangan yang bahkan tidak memberinya apa-apa selain keyakinan.
Ada juga ibu-ibu yang membalas singkat.
“Siap pak. Kalau waktunya tiba kabari lagi. Saya masih ingat dulu almarhum suami selalu semangat jadi saksi.”
Pendek.
Tapi entah kenapa kalimat itu terasa berat.
Kadang kita terlalu sibuk melihat politik dari layar TV dan media sosial… sampai lupa bahwa di bawah sana ada orang-orang biasa yang menjaga idealisme dengan sangat tulus.
Orang-orang yang tidak pernah tampil.
Tidak dikenal.
Tidak punya jabatan.
Tapi diam-diam menjaga rumah ini tetap berdiri.
Dan dari semua pesan itu saya belajar…
ternyata perjuangan tidak selalu diwariskan lewat harta.
Kadang diwariskan lewat keteladanan.
Lewat cerita sederhana di meja makan.
Lewat ayah yang mengajak anaknya menjaga TPS sejak kecil.
Lewat ibu yang tetap menyimpan nomor kontak perjuangan meski suaminya sudah lama tiada.
Malam itu saya menutup data saksi sambil menahan haru.
Rumah ini ternyata belum kehabisan orang baik.
Masih banyak yang menjaganya dengan doa, tenaga, bahkan kenangan.
Dan itu membuat saya malu kalau sampai lelah terlalu cepat.
Karena di luar sana… ada orang-orang sederhana yang diam-diam tetap setia menjaga cahaya kecil ini agar tidak padam.
Bang Jian
Temen ngupi tanpa gula


0 Komentar