Sang Penyintas dari Cibitung: Rumah Terendam, Hati Tetap untuk Sesama


Penulis: Sahabat Baik

Hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu malam, 17 Januari 2026, seolah tak memberi jeda bagi warga Perumahan Villa Mutiara Jaya, Cibitung Kabupaten Bekasi. Air turun tanpa ampun. Menjelang dini hari, kekhawatiran yang selama ini membayangi perlahan menjadi kenyataan: Kali Sadang meluap.


Sekitar pukul 04.30 WIB, air mulai merangsek masuk ke rumah-rumah warga di wilayah RW 09. Bagi mereka yang sudah "akrab" dengan banjir, refleks bertahan hidup muncul tanpa komando. Kendaraan segera dipindahkan ke area yang lebih tinggi; perabot rumah tangga diangkat seadanya. Tak ada kepanikan yang berlebihan, yang ada hanyalah gerak cepat yang lahir dari pengalaman dan rasa waswas jika air terus meninggi.


Di salah satu sudut perumahan, Riyanto, seorang pegawai swasta, berjibaku melakukan hal yang sama. Lelaki paruh baya itu sibuk menyelamatkan isi rumahnya saat air terus merayap naik hingga setinggi dada orang dewasa. Rumahnya, seperti banyak hunian lain di kawasan itu, memang berada di titik langganan banjir.


Namun, pagi itu kisah Riyanto tidak berhenti sebagai "korban".

Sekitar pukul 07.00 WIB, setelah memastikan kondisi keluarganya cukup aman, Riyanto melangkah keluar. Bukan untuk mengeluh, bukan pula sekadar menonton keadaan. Ia memantau lingkungan dan langsung berkoordinasi dengan tim Destana (Desa Tangguh Bencana) Wanajaya untuk langkah evakuasi. Di tengah kondisi dirinya yang juga terdampak, ia memilih untuk bergerak bagi orang lain.


Instruksi pembagian bantuan logistik dari RW setempat pun turun. Bersama warga lainnya, Riyanto ikut membagikan bantuan dari rumah ke rumah. Meski air masih tinggi dan tenaga mulai terkuras, langkahnya tak surut sedikit pun.


Sosok Riyanto memang dikenal aktif sebagai kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan merupakan mantan Ketua DPRa Wanajaya. Namun hari itu, identitas yang paling menonjol darinya bukanlah jabatan atau afiliasi politik, melainkan kemurnian kepeduliannya sebagai sesama warga.


Menjelang siang, bantuan dari DPC PKS Cibitung dan berbagai elemen masyarakat mulai mengalir. Para relawan berjibaku menyalurkan logistik kepada warga yang masih terjebak di dalam rumah. Riyanto kembali bergabung dengan rekan-rekan kadernya, membantu proses evakuasi dan mendistribusikan konsumsi.


Tak ada panggung. Tak ada sorotan kamera yang berlebihan. Hanya ada air keruh, tubuh yang lelah, dan hati yang tetap hangat.


Di tengah banjir yang merendam kediamannya sendiri, Riyanto menunjukkan sebuah teladan sederhana namun langka: menjadi korban tidak menghalangi seseorang untuk tetap menjadi penolong. Saat banyak orang sibuk menyelamatkan diri, ia memilih memperluas makna "selamat"—bukan hanya untuk keluarganya, tapi juga untuk tetangga dan lingkungannya.


Banjir mungkin datang berulang setiap tahun. Namun di antara genangan itu, selalu ada kisah tentang manusia-manusia yang memilih untuk tetap peduli. Ia tidak merasa sebagai pahlawan, apalagi pahlawan super. Bagi Riyanto, aksi nyata ini adalah manifestasi dari "Tarbiyah Mada al-Hayah"—sebuah proses pembinaan diri sepanjang hayat yang telah membentuk DNA-nya untuk selalu hadir menolong sesama di tengah musibah.

Posting Komentar

0 Komentar