Mereka Tidak dibayar Untuk Selelah Itu!



“BuDet, bisa tolong bawain pompa ASI?”


Demikian ketuplak Merry Briefingwati (bukan nama sebenarnya) menelpon saya malam itu (15/5/2026).


Benar. Di tengah peserta, pun panitia, ada ibu menyusui.


Dan ini bukan acara kongkow syantik. Justru sarat penggemblengan fisik, mental, spiritual, organisasional.


Tiga hari dua malam di lembah dengan sungai mengalir di bawahnya. Ada pelatihan penanggulangan bencana, jurit malam di gelap rimba mengingatkan betapa tiada daya selain hanya kepada Allah SWT.


Ditutup klimaks long march lebih dari 20 kilometer ditemani hujan. Hampir setara half marathon.


Pesertanya bukan laki-laki tangguh perkasa, tapi 120 perempuan se-Lampung yang sebagian datang dengan pertanyaan: “Apa saya sanggup ikut acara beginian?”


Notabene harus ninggalin keluarga, bayar pendaftaran, nyiapin ini itu, termasuk didahului kewajiban jasmani-ruhani rutin seperti lari, push up, sit up, tahajud tiap malam, tilawah Al Qur’an, dan lain-lain sekira sebulan sebelum kegiatan.


SIMULASI BENCANA DIRANCANG DETAIL

Gimana tetap chill saat chaos. Ga mati gaya walau panik dan sumber daya terbatas. Dan menghadapi segenap aspek peruntuh ego dalam kerja tim khas pelatihan outdoor.


Di tengah era manusia dibentuk jadi penonton tragedi, mereka justru jadi anomali yang sukarela ditempa sigap menolong, gerak cepat, memimpin saat situasi kacau, dan mikirin orang lain walau dirinya sendiri sudah lelah di tingkat ya salaam.


Di tengah gempuran narasi perempuan identik self care, healing, glow up, me time, dan semua jargon empowerment individualistik lain, di sini ada model pemberdayaan yang berbeda: perempuan yang dilatih jadi penyangga masyarakat.


Bukan cuma individu tangguh, tapi komunitas tangguh.


Bukan semata individual resilience, tapi social resilience.


Betapa mahalnya itu di negara yang akrab dengan banjir, gempa, tsunami, longsor, konflik sosial, dan krisis ekonomi.


Mereka juga ga sedang dilatih jadi “cewe kuat” dalam pengertian maskulin. Tapi perempuan yang tetap hangat, peduli, keibuan, namun sigap dan tahan krisis.


BERJIWA KESATRIA, TAPI TETAP PADA FITRAHNYA

Kombinasi langka.


Karena banyak orang mengira perempuan tangguh harus keras. Padahal ketangguhan tidak menghilangkan feminitas sosialnya.


Mereka menjelma jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.


Sesuatu yang mulai hilang di dunia modern yang sibuk membangun personal brand dan menjadi tokoh utama.


“Gue nih the main character.”


Tapi lihat apa yang dibentuk di kegiatan ini: menekan ego, mengutamakan regu, saling bantu, saling menyemangati.


Counter culture sekali bukan?


Peserta lintas generasi, dari generasi “Kemesraan” sampai generasi “stand up comedy”, tiba-tiba merasakan sesuatu yang sekarang makin langka:


“Jalan ini memang jauh dan melelahkan. Tapi aku ga berjalan sendiri.”


Mengutip Imam Hasan al Bashri, umi tercinta sekaligus Komdis kami Umi Damayanti mengatakan bahwa laa yukallifullahu nafsan illa wus ‘aha itu kalau sudah jatuh-bangun-jatuh-bangun sampai ga bisa bangun lagi.


*


Terakhir, saya rasanya ga bisa menyebut teman-teman kepanduan dan Santika (Barisan Putri Keadilan) sejati tanpa takzim.


Sejak awal berinteraksi dan terlibat dalam aktivitas Santika, saya yang lebih dari separuh hidup berkecimpung di dunia kehumasan makin yakin bahwa masih ada manusia-manusia yang bergerak tanpa sibuk mencari sorotan.


Sat-set baik saat rapat maupun eksekusi. Asik banget.


Bayangkan, survei rute long march sudah dilakukan dua kali — dua kali, pemirsa — lalu malamnya diputuskan rute berubah.


“Keamanan peserta tetap jauh lebih penting.”


Kalau peserta kaget tengah malam dibangunkan mercon, bayangkan panitia yang bangun lebih dulu menyiapkan semua itu.


Saya punya pengalaman sangat personal di Diksar kemarin. Mobil saya hampir gagal menanjak di jalan curam karena tetiba bertemu mobil yang turun dari arah berlawanan. Saya sendirian bareng ransel-ransel dan perlengkapan panitia. Refleks saya istighfar dan teriak tolong. Singkatnya saya selamat turun dari mobil. Tapi yang bikin haru, teman-teman dari bawah berduyun-duyun naik. Mba Winda, sie konsumsi, sampe menangis dan saya masih ga ngeuh: kenapa pada naik? Kenapa nangis? Rupanya mengkuatirkan saya 😭


Saya terhura.


Jadi kalau ada yang bertanya: “Memang masih ada orang yang rela cape tanpa dibayar? Bahkan diajarkan bertahun-tahun untuk demikian?”


Saya akan menjawab:

TENTU SAJA.


Saya saksi hidup keberadaan manusia-manusia macam itu.


Orang-orang ajaib.


Bangga jadi bagian kalian. Ga ada lain.


Salam sayang, salam juang.


Detti Febrina  

(Pecinta pita kuning dan semua warna, Koordinator Lapangan dalam Diksar 2 Santika Lampung)


Bandar Lampung, 16 Mei 2026

Posting Komentar

0 Komentar