![]() |
| Buku Jogja Punya Cerita/dokpri |
Oleh: Yosi Prastiwi
Terlibat dalam penulisan buku Jogja Punya Cerita ini menambah sudut pandang saya tentang PKS DIY. Minimal kantor DPW PKS di jalan Gambiran 43 sana jadi enggak serem-serem amat kalo saya lewati.
Satpamnya ternyata ramah, menyapa balik tiap saya pamit ngundurke motor. Office man-nya hapal tiap saya datang telat rapat setoran progres nulis, “Sudah ditunggu, Pak Pi’i,” begitu katanya tiap melihat saya tergesa naik tangga.
Bahkan dari pengalaman nulis buku ini, saya baru tau kalo basemen kantor PKS dipake latihan karate tiap Jumat sore. Gratis tentu saja. Sesekali, ada juga warga walimahan di basemen kantor partai rasa balai warga. Kami menyebut tempat ini Balai Budaya Gambiran.
Mendokumentasikan catatan perjalanan partai lima tahun terakhir bukan perkara mudah. Saya memang dimodali Gus Ud- ketua DPW PKS DIY periode sebelumnya, file LPJ sebanyak 134 halaman. Diberi akses wawancara ke pengurus dan semua orang yang terlibat. Tapi mengubahnya jadi cerita-cerita menarik dalam waktu 3 bulan itu tantangan tersendiri.
Saya, Mbak Lutfi dan Mbak Nanis dari relawan literasi saling membagi tugas. Mulanya sih ngikutin timeline tapi berakhir kepontal-pontal di akhir bulan Juli. Termasuk ketika mendadak Gus Ud rikues beberapa program ditulis juga. Cerita perahu boat relawan yang digigit tikus, piknik kabeh, dan ziarah salah satunya. Dengan bantuan Mas Dyta yang ikut turun nulis dan tentu saja ngeditori akhirnya Jogja Punya Cerita lahir di Musywil PKS DIY 24/8 tadi.
Selain berisi cerita-cerita tentang inovasi DPW PKS DIY 5 tahun kemarin, buku ini juga memuat beberapa tulisan para ketua dan sesepuh PKS DIY terdahulu.
Ada satu tulisan Pak Cah yang menarik dan dijadikan pembuka buku ini. Perseteruan ‘osan-osin’ di Jogja, blio tulis indah dengan judul Tenang Menghadapi Badai. Pak Cah menulis bagaimana orang-orang yang pergi memilih rumah baru itu seumpama anak-anak yang pergi di pagi hari. Ketika malam masih ada, tau-tau pagi udah hilang aja. Diksi ‘anak-anak’ yang dipilih Pak Cah menjelaskan kedekatan hubungan tanpa penghakiman. Tulus.
Ada juga cerita hadiah umroh untuk 50 guru ngaji di PKS DIY dari salah satu pengusaha lokal Jogja. Umroh di bulan Ramadhan adalah impian banyak orang. Berangkat umroh karena jadi anggota PKS dan dedikasi mengajarkan Al Quran adalah rejeki yang enggak semua orang dapatkan.
Cerita-cerita semasa pandemi covid-19 juga mengisi buku ini melalui Jogo Sedulur. PKS DIY bukan saja menjadikan basemen jadi pusat kesehatan sementara tapi juga mengerahkan segala sumber daya untuk mengedukasi dan pulih bersama. Ya fisiknya, ya ekonominya. Makanya ada Pasar Kita Semua yang semangatnya nglarisi kancane dhewe. Lu jual, gue beli.
Soal kaderisasi PKS DIY yang mampet paska pandemi bisa dibaca lewat tulisan Gumregah Tarbiyah yang jadi kegiatan kolaborasi bersama dan Yaumut Taurits, biar enggak punah macam dinosaurus.
Tentang pangkalan data PKS DIY yang dulu tercatat konvensional kini direkam melalui portal Sistem Informasi Anggota DIY. Saya tulis dengan judul: Jadul Boleh, Gaptek Jangan, Sebab PKS DIY Punya SIADIY.
Selain cerita-cerita program, kami juga mendokumentasikan struktur pengurus PKS DIY sejak jaman Partai Keadilan di era Ustadz Cholid Mahmud, allahu yarham. Sebagai pengingat bahwa kerja-kerja dakwah yang kita teruskan hari ini tidak lepas dari ikhtiar para sesepuh dakwah sebelumnya.
Tertarik baca bukunya? Silakan hubungi DPW PKS DIY ya.


0 Komentar