Cara Memilah Info Hoaks (Perspektif #PalestinaMerdeka)



Oleh: Detti Febrina

Kadept Riset dan Media monitoring Humas DPP PKS

Mendukung Palestina Merdeka sudah menjadi ideologi kita, dan itu sesuai dengan Alinea 1 Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

 

Namun dalam upaya mendukung Palestina Merdeka, satu hal yang terus kita pelajari di era melimpahnya informasi saat ini adalah: bagaimana kita bisa memilih dan memilah informasi, agar tidak terjebak menyebarkan informasi yang justru hoaks.

 

Sedikit bercerita, tahun 2017 sebagai perwakilan Bidang Humas saya dan Andi Windarto diamanahi bergabung dengan Crisis Center for Rohingya, sebuah gugus tugas di bawah DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dikomandani Dr. Sukamta. Tugas kami melakukan monitoring berita dan memberi edukasi konten berita Rohingya yang notabene ditaburi banyak sekali hoaks.

 

Hoaks Rohingya terhitung "kasar" karena kalau pembaca berita jeli mudah sekali mencurigai konten itu misinformasi atau sebaliknya, yaitu tabayun atau bahasa kerennya disiplin verifikasi. Tapi problemnya SATU: segala sesuatu yang instan, clickbait, bombastis, selalu lebih menggoda dibandingkan yang faktual.

 

Waktu Andi, pun saya, menghidangkan konten-konten hoaks Rohingya di media sosial. Ada yang mengapresiasi, namun kami sempat terkejut karena gak sedikit yang melabeli kami: dasar kafir, PKI, dan sejenisnya, karena dianggap tidak berempati dengan penderitaan muslimin Rohingya.

 

Intinya ada saja yang tidak  menerima diedukasi soal konten hoaks. Jaka sembung bawa huawei, ga nyambung weii.

 

***

 

Ketika pejuang Gaza berhasil menembus jantung selatan wilayah okupasi Israel Sabtu 7/10/2023 lalu, dan tentu saja hoaks-hoaks ala zionis kemudian bertebaran, ada yang menyarankan agar saya dan Andi kembali melakukan aktivitas sebagaimana ketika di Crisis Center for Rohingya pada 2017 itu. Artinya, memonitoring berita-berita seputar isu tersebut, lalu memisahkan yang hoaks dari yang fakta.

Saya kira justru ini saatnya menegakkan akal di atas emosi. Betapa pembelaan kita terhadap Palestina Merdeka tidak menyurutkan semangat mengedukasi diri untuk hal yang tampak sepele seperti pemilahan hoaks.

 

Apalagi hoaks produksi Israel jauh lebih canggih. Butuh literasi yang lebih mendalam, walaupun prinsip verifikasinya sama.

 

Tiada lain agar kita bisa mewaspadai kelicikan laknatullah alayh itu dan tidak terjebak termakan lalu ikut-ikutan menghidangkan hoaks.

 

JENIS SALAH INFORMASI

1.      MISINFORMASI

Misinformasi adalah kesalahan yang tidak disengaja, misal: typo (salah ketik), salah translasi, atau disengaja salah tapi diyakini sebagai kebenaran.

2.      DISINFORMASI

Kesalahan yang disengaja. Membuat konten atau fabrikasi konten yang manipulative untuk membentuk opini publik.

3.      MALINFORMASI

Info yang disebar asli, tapi dalam rangka mencelakai orang lain, misalnya pembocoran data pribadi dan pelecehan terhadap seseorang atau organisasi.




KONTEN FABRIKASI

Konten yang sengaja dibuat untuk menipu dan memojokan pihak tertentu. Dalam kasus ini konten yang berusaha memojokan pihak Pejuang Palestina.



Contoh fabrikasi konten lainnya. Hoaks 40 bayi Israel dipenggal. Beberapa media internasional memuatnya. Dari Inggris hingga India. Tak ada bukti yang bisa diverifikasi.



KONTEN MANIPULATIF

Informasi yang dimanipulasi sedemikian rupa demi membingkai opini dan menyudutkan pihak tertentu. Dalam contoh berikut ini adalah menyudutkan pihak pejuang Palestina. Viral hoaks pemerkosaan massal yang dilakukan pejuang Gaza di konser musik. Tidak ada foto atau video pemerkosaan, yang ada hanyalah narasi-narasi. Perempuan-perempuan itu memang datang ke acara konser sudah dalam kondisi pakaian yang minimalis.



Ini contoh konten manipulatif lainnya. Shani Louk, cewek yang punya dua kewarganegaraan yang dikabarkan mengalami pemerkosaan, ditelanjangi dan diarak keliling. Padahal ia masih segar bugar. Mirisnya banyak juga warga negara Indonesia yang menyebarkan konten manipulatif ini.



KONTEN MISLEADING

Memakai informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu. Ini contohnya, pejuang Palestina dikabarkan menculik dan memperkosa warga sipil. Padahal ia bukan warga sipil, tetapi tentara IDF dan masih hidup.




Contoh selanjutnya bisa dilihat di Akun Facebook Detti Febrina





Konten ini sudah ada juga di Instagram


Posting Komentar

0 Komentar