Politik Itu Husnul Khotimah Seperti Mang Oded

 


Ungkapan "Politik itu kejam" sudah terlalu sering didengar. Masyarakat sudah terlanjur banyak yang antipati. Padahal dunia politik itu netral, sama seperti dunia bisnis, pergaulan sosial, dan lain-lain. Yang jahat adalah oknum. Ya kebetulan saja oknumnya banyak. 

 

Mudah-mudahan setelah wafatnya Mang Oded, orang bisa berkata, "Politik itu husnul khotimah." Tidak selalu, terjun ke politik kudu berbuat yang tidak diridhoi Allah. Kalau ada yang mengejek "politik kok cari berkah? politik itu cari kekuasaan," insyaallah sosok mantan walikota Bandung Allahuyarham bisa mematahkan keraguan tersebut. Kekuasaan didapat, dan ridho Allah juga tak hilang. 

 

Kita hanya bisa menerka-nerka amalan baik apa yang dilakukan oleh beliau sehingga diberi akhir hayat yang indah. Di waktu yang baik, tempat yang baik, aktivitas yang baik, dan dalam kondisi suci dari hadats. Tentu, aktivitas terakhirnya tak kan jauh dari kebiasaan yang dilakukan, dalam hal ini salat berjamaah. 

 

Ada juga cerita bahwa beliau selalu menyisipkan pesan dakwah dalam rapatnya. Atau beliau selalu menyempatkan diri membaca Al-Qur'an. 

 

Namun ada satu hal yang tidak boleh luput dari kemungkinan. Tentang amalnya sebagai seorang pemimpin yang adil. Bukankah amalan itu istimewa sehingga menjadi kriteria orang yang mendapat naungan di hari kiamat di mana tidak ada naungan selainNya? 

 

Jalan Mang Oded menjadi pemimpin adalah dengan berkecimpung di dunia politik. Ia aktif di Partai Keadilan Sejahtera dan menjadi orang yang terpandang di sana. Mungkin benar, politik itu kejam, tapi kuasa Allah membuat beliau terpilih menembus rintangan intrik dan muslihat. 

 

Orang baik di mana pun berada akan tetap baik. Jadi politik tidak perlu dihindari. Justru dunia itu butuh banyak asupan orang yang jujur dan istiqomah. Meskipun ada ujian konsistensi di tengah sistem yang - meminjam ucapan Mahfud MD - "malaikat saja bila masuk ke situ bisa berubah menjadi setan". 

 

Tak menutup kemungkinan beliau ada kelemahan selama memimpin. Banyak terdengar nada sumbing dari netizen tentang ketidakpuasan terhadap kota Bandung. Mang Oded juga manusia. Tapi jangan lupa pula, bahwa beliau cuma wali kota di mana banyak pihak yang punya kewenangan lebih darinya. Kadang untuk menyelesaikan satu masalah perlu berurusan dengan banyak pihak terkait. Itu makanya Jokowi ketika masih menjadi Gubernur DKI pernah berkata, "Macet dan banjir lebih mudah diatasi bila jadi presiden." 

 

Kesan saya terhadapnya: saya tidak pernah berinteraksi dengan Mang Oded. Namun sering mendengar kawan-kawan membicarakan beliau. 

 

Yang saya simpulkan, ada ketidakpuasan kepada mantan anak buah BJ Habibie ini karena kurang bisa "diarahkan" untuk tujuan penokohan atau mengangkat popularitas. Beliau kan politisi dan kepala daerah. Sudah sepatutnya jadi bahan pembicaraan khalayak untuk hal yang baik, kinerjanya terpublikasi dan populer. Setelah kursi wali kota Bandung, ada jenjang karir yang lebih tinggi menanti. 

 

Alhamdulillah saya sempat husnuzhon bahwa beliau inginnya terkenal di langit. Ya cukup aneh sih buat politisi apalagi kepala daerah. Tapi begitulah. Serius, saya benar-benar husnuzhon seperti itu, hanya saja tidak saya sampaikan ke kawan-kawan yang sedang mengungkapkan rasa kurang puasnya. 

 

Rasanya prasangka saya benar. Pada saatnya, Allah buat ia populer dengan cara-Nya sendiri. Ia berhasil menjadi buah bibir dan kecemburuan umat muslim. Namun sayang, popularitas itu tidak bisa digunakan untuk menanjak karir politik yang lebih tinggi. Allah memilihkan kedudukan yang lebih mulia dari prestasi dunia untuknya. 

 

Selamat jalan, Mang Oded. Pada 10 Desember 2021, Anda telah memainkan - meminjam istilah Hasan Al Banna - seni kematian yang indah sebagai muslim.


Zico Alviandri

Posting Komentar

0 Komentar