Ibu-Ibu di Jayapura: Tahun Baru Nanti Bukan Pesta Kembang Api, tapi Pesta Eco Enzyme



Tahukah kalian di tahun 2019, tumpukan sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton dan didominasi oleh sampah organik/ sampah rumah tangga. Apa sih sampah rumah tangga itu? Well, kalau kalian habis masak dan sisa-sisa pembuangan kulit serta  air bekas cucian sayur/beras, mereka masuk kategori sampah organik. 


Thanks to covid-19, mungkin jumlah sampah tidak sebanyak tahun 2019, tapi produksi sampah khususnya sampah dapur akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan dan aktivitas manusia, dan emang natural nya begitu. 


Dengan kemajuan teknologi yang semakin mind blowing, banyak yang kita ekspektasikan, tapi ternyata masalah lingkungan masih jadi momok di setiap negara, nggak terkecuali di Indonesia. 


Ngapain kita ngobrolin lingkungan juga? Karena bumi tempat kita berpijak adalah tanggung jawab kita. Jika kalian memiliki kekhawatiran yang sama, maka bersyukur lah bahwa kita setidaknya memikirkan kondisi negeri ini walaupun dari perspektif yang berbeda. 


Ibu-ibu dari Jayapura juga nggak kalah dinamis dalam menyikapi persoalan lingkungan ini. Pasalnya, isu-isu kayak gini selalu dibarengi dengan isu lain, seperti kelangkaan cabai, tomat serta bahan makanan lainnya. Terlebih lagi covid yang sampai saat ini faktanya belum menunjukkan fakta-fakta akan berakhir. Yang pusing bukan cuma Presiden sampai jajaran mentri, tapi ibu-ibu jadi stress luar biasa karena  harus kerja keras ngajar anak belajar, dan memutar otak untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi keluarga. 


Tentu saja, kedinamisan dan kreatifitas ini di inisiasi oleh RKI atau Rumah Keluarga Indonesia, yakni unit di bawah Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS untuk membatu ibu-ibu meringankan masalah-masalah yang berurusan dengan ketahan keluarga. Instead of marah-marah karena dari pemimpin sampai rakyat bingung mengatasi kelangkaan pangan dan lain-lain, kenapa nggak cari solusi aja? Ya kan? 


Yup, salah satunya adalah Eco Enzyme. Well, membuat eco enzyme bukan satu-satunya cara untuk menyelamatkan lingkungan sekaligus membantu kesuburan tanah, tetapi bisa jadi salah satu alternatif buat ibu-ibu yang sedang concern untuk mulai berkebun atau sekedar hobi dengan sesuatu yang lebih organik. 


Nah selepas pelantikan RKI di 8 titik di Kota Jayapura bulan Agustus lalu, tim BPKK PKS Jayapura road show nih untuk workshop pembuatan Eco Enzyme. Ternyata, antusias masyarakat lumayan bagus, apa lagi ibu-ibu yang mana akhirnya mereka punya insight baru mengenai pengelolaan sampah sekaligus belajar sains. 

Kelihatan banget dari pertanyaan-pertanyaan mereka, sperti “eco-enzyme buat apa aja?” bahkan “eco-enzyme bisa diminum?” Dan seterusnya. 


Oke, sekarang kita bahas sedikit mengenai apa itu eco enzyme. Sebenarnya buat yang punya background di bidang pertanian atau biologi atau sejenisnya, atau bahkan yang hobi berkebun, eco enzyme sebenarnya bukan barang baru lagi. Bahkan jika kalian mau mencari tau lebih presisi definisi dan cara pembuatannya, bisa langsung searching aja, mulai dari wikipedia sampai wikihow ada semua, bahkan jadi bahan penelitian, juga ada. But, please don’t worry tulisan ini nggak bakal memuat hasil penelitian, karena nanti nggak jadi-jadi eco enzyme nya.


Jadi, sederhananya econenzyme itu adalah hasil fermentasi dari bahan organik dapur, seperti sisa gula (gula coklat, gula merah, gula tebu) sayur dan ampas kulit buah plus air. Cara buatnya? Gampang sekali kisana, tinggal dicampurkan saja semua bahannya kedalam air, sama seperti membuat infused water. Kalian tau kan infused water? Air yang di campur irisan buah, dan dibiarkan sari buahnya menyatu dengan air untuk beberapa hari. Nah bedanya, kalau buat eco enzyme pakai air keran aja cukup sekitar 10 L air ditambahkan 3kg sisa organik. Ukurannya nggak meluku liter dan kilogram ya, bisa diubah ke gram dan 1 L air, yang jelas perbandinhannya adalah 1:3:1; 100 gr gula apa aja, sisa-sisa juga boleh, 300 gram sisa organik (kulit buah dan sayuran) ; dan 1 L air.


Kalau contoh yang diberikan ketua BPKK (Bu Arifa) tambahin kulit Nanas ya supaya wangi, dan tuangkan gula apapun, sekarang gula merah yang low grade udah banyak dikomersilkan, bisa pakai itu aja. Sekilonya sekitaran 9 ribuan dan bisa untuk 10 L cairan eco enzyme. 


Selanjutnya ngapain? Ditunggu selama 3 bulan. Lama bener ya? Iya, karena dalam waktu itu proses fermentasi sedang berlangsung. Nah proses fermentasi itu ngapain aja? Yang tiba-tiba pikirannya lari ke tape, tempe dan tahu, kalian nggak salah. Kurang lebih prosesnya sama. Tapi untuk refresh kembali, jadi proses selama 3 bulan dalam pembuatan eco enzyme adalah proses dimana bakteri yang ada pada bahan organik bertransformasi untuk menghasilkan  asam asetat/ alkohol atau bahkan keduanya, yang di duga sebagai bahan yang efektif buat disinfektan. Nah untuk menghasilkan apa yang disebut dengan alkohol/ asam asetat tersebut, bakteri butuh gula alias karbohidrat, yang di sedikan oleh gula. Makanya butuh waktu tertentu dalam kondisi tertutup. Kalau bahasa kerennya kondisi an aerobik, an berarti tanpa, aerobik berarti oksigen. Jadi kalau mau senam aerobik, berarti pakai oksigen. Tapi kalau fermentasi, nggak pakai oksigen. Hehe. Kenapa? Karena kebanyakan bakteri jika ingin menghasilkan produk fermentasi, maka harus dihindarkan dari oksigen. Catet yaa.. 


Teori ini serupa dengan cara pembuatan produk fermentasi lainnya, mulai dari tahu, tempe, tape sampai taucho. 


Trus apa kegunaannya nih si eco emzyme? Banyak banget ternyata, bisa jadi disinfektan, bisa jadi sabun cuci tangan dan piring, baju juga bisa, pupuk bisa pokoknya macem-macem deh. Makanya kalau ibu-ibu khawatir harga cabai naik lagi, trus nanem sayuran nya gagal terus, coba tanahnya di semprotin eco enzyme, karena salah satu fungsinya juga menyuburkan tanah. Ini bukan cuma teori lho bun, coba cek beberapa pemerintah kota yang sudah menerapkan ini. Selain ramah lingkungan dan lebih sustain, ternyata fungsinya juga banyak. Asalkan, cairan eco ezyme yang dihasilkan dincairkan dulu ya bun, karena larutannya terlalu pekat, jadi harus di cairkan lalu bisa digunakan. 


Oh ya kalau bisa diletakkan ditempat yang aman, jauh dari jangkauan anak-anak. Karena wangi yang asam dan manis lumayan tempting buat di konsumsi, padahal tidak untuk dikonsumsi. Kalau mau di konsumsi buat infused water aja. 


Nah, karena workshop nya baru berjalan beberapa hari ini, akhirnya ibu-ibu memutuskan yang lain pesta kembang api dan petasan di malam tahun baru, kita pesta eco enzyme.  Karena waktu fermentasi butuh waktu 3 bulan mulai bulan sept sekitar 27-30 berakhir pada desember di sekitar tanggal yang sama. (Bat)

Posting Komentar

0 Komentar