Sebelum sampai di Goa Rumah Batu, kami terlebih dahulu singgah menikmati wisata alam Sawah Koto terletak di Desa Rokan koto Ruang, Kecamatan Rokan IV Koto, serta mengunjungi situs cagar budaya, yaitu Istana Raja Rokan yang berlokasi di Luhak Rokan IV Koto, Kecamatan Rokan IV Koto, Rokan Hulu, Riau
Situs sejarah Rumah Raja Rokan yang berbentuk panggung dan beberapa rumah adat lain yang ada di sekelilingnya, tampak masih sangat asli. Istana Rokan merupakan peninggalan dari kesultanan “Nagari Tuo” berumur 200 tahun. Istana dan beberapa rumah penduduk sekitar ini memiliki koleksi ukiran dan bentuk bangunan lama khas Melayu (Rumah tinggi).
Perjalanan kali ini terasa spesial, kami ditemani oleh salah satu Anggota DPRD Provinsi Riau, Dapil Rohul, Ustadz Adam Syafaat. Keikutsertaan beliau sekaligus ingin menyerap aspirasi masyarakat desa Cipang Kiri Hulu.
Objek Wisata Sawah Koto
Objek wisata ini lokasinya tak jauh dari Rumah Raja Rokan, tepatnya di Desa Rokan Koto Ruang. Objek wisata Sawah Koto menawarkan hamparan pematang sawah yang luas, bisa memanjakan bagi pengunjung yang sedang melihat hijaunya sawah yang terbentang.
Pengunjung tidak perlu turun ke sawah atau terkena lumpur. Sebab, di obyek Wisata Sawah Koto dibangun jembatan-jembatan kayu memanjang di atas hamparan persawahan seluas 3 hektar, yang merupakan tanah milik keturunan Raja Rokan.
Wisata ini dikelola oleh Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Pengunjung yang datang ke obyek wisata ini bisa bebas berjalan, foto-foto serta menikmati keindahan pematang sawah yang terhampar indah.
Untuk dapat masuk ke Sawah Koto ini, pengunjung hanya merogoh kocek sebesar Rp. 5.000 saja untuk dewasa, sedangkan untuk anak-anak Rp. 2.000.
Goa Rumah Batu
Setelah puas mengelilingi dan mengambil beberapa foto dan video drone. Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Cipang Kiri Hulu dengan menggunakan mobil double gardan, melewati jalan berbukit, yang sebagian besarnya masih tanah. Perjalanan ditempuh dalam waktu lebih kurang 3 jam dari kota Ujung Batu, Rokan Hulu.
Sesampainya di Dusun V Ulek Bulu, Desa Cipang Kiri Hulu. Kami terlebih dahulu melaksanakan shalat dzuhur, kemudian mendapat jamuan makan siang di Rumah masyarakat, yang merupakan lokasi acara serap aspirasi masyarakat oleh Anggota Fraksi PKS DPRD Riau Adam Syafaat.
Didampingi beberapa pemuda setempat (pemudanya ramah-ramah dan asyik), total rombongan yang berangkat menuju Goa Rumah Batu bertambah menjadi 11 orang. Mobil yang kami gunakan hanya sampai setengah perjalanan. Terhenti oleh anak sungai yang tidak bisa dilewati . Selain itu, track jalan setelah anak sungai menuju goa berupa jalan setapak.
Dengan berjalan kaki, kami melewati dua anak sungai lagi yang masih terlihat alami, airnya jernih mengalir di antara bebatuan.
Lebih kurang 30 menit berjalan menyusuri hutan yang masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, berusia puluhan bahkan ratusan tahun, kamipun akhirnya sampai di kawasan Goa Rumah Batu.
Kami sempat mencari-cari pintu Goa, karena memang masih tersembunyi di balik pohon-pohon besar. Tidak butuh waktu lama, pintu Goa ditemukan.
Sesampainya di pintu Goa Rumah Batu yang cukup luas, salah seorang kawan kami dikejutkan gigitan beberapa pacet di kaki dan mengeluarkan darah. Sontak semua rombongan juga memeriksa kaki masing-masing, ternyata juga sudah terdapat gigitan pacet. Hanya satu orang saja dalam rombongan kami yang aman dari hewan air itu, yaitu pemuda setempat yang memang sudah sering keluar masuk ke Goa memandu wisatawan.
Di pintu goa, beberapa pohon terlihat merambat, serta ada beberapa akar-akar tumbuhan yang terjuntai, ada juga yang menempel di dinding goa.
Medan masuk kedalam goa tidak mudah. Terdapat bebatuan besar yang terjal dan tidak beraturan. Jalur masuk dari pintu goa juga terjal, dan menurun. Membutuhkan konsentrasi dan ekstra hati-hati, apalagi jika sedang musim hujan, batu-batu tersebut akan menjadi sangat licin.
Sangat disarankan memakai sepatu atau sendal gunung, jika ingin berwisata ke Goa Rumah Batu ini.
Alhamdulillah, tidak lama kemudian kami dengan lancar masuk ke dalam Goa.
Setelah masuk ke dalam goa, nyanyian dari suara ratusan burung walet dan kelelawar menyambut kehadiran kami, diantaranya ada yang terbang-terbang di atas kepala kami. Beberapa kawan tidak melewatkan kesempatan tersebut untuk mengabadikannya dalam foto dan video. Juga terdapat puluhan sarang burung walet yang menempel di dinding-dinding goa.
Lorong-lorong goa juga sangat luas dan tinggi, yang tampak sangat alami dan gelap, karena tidak ada sumber penerangan. Beruntung kami telah menyiapkan senter sebelum berangkat.
Keindahan goa semakin menakjubkan, banyak terdapat Stalakti/Stalakmit menggantung yang terbentuk secara alami. Tetesan air yang jatuh dari ujung Stalakti/Stalakmit menambah pesona Rumah Goa Batu semakin sejuk dan nyaman.
Lorong goa ini memiliki banyak cabang pendek, sebagian besarnya buntu. Ada juga lorong naik ke bagian atas goa. Menurut pemuda setempat yang memandu kami, goa tersebut terdiri dari 2 lantai. Namun, kami tidak naik ke lantai atas goa.
Lebih kurang satu jam menikmati keindahan goa, kami memutuskan untuk keluar lewat pintu masuk sebelumnya. Sebenarnya, gua ini memiliki pintu keluar tersendiri. Namun kami memilih putar balik.
InsyaAllah, Goa ini aman untuk dikunjungi.
Harapan Kepada Pemerintah
Anggota DPRD Provinsi Riau, Adam Syafaat, yang menyertai kami mengatakan bahwa Rokan Hulu memiliki banyak potensi wisata alam yang sangat menakjubkan. Khususnya di Desa Cipang Kiri Hulu terdapat beberapa objek wisata yang potensial untuk dikembangkan. Diantaranya Goa Rumah Batu, Bukit Tungku Nasi, Bukit Bulu Perindu dan Arung Jeram. Di Kecamatan lainnya juga masih banyak lagi potensi pariwisata.
“Jika potensi di sektor pariwisata ini dikembangkan, maka bisa menghidupkan ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, dapat mengenalkan pariwisata lokal kepada wisatawan dalam dan luar negeri,” pungkasnya.
“Saya mendorong Potensi Wisata Rokan Hulu Maju dan Berkembang,” imbuhnya.
Dirinya juga menyadari bahwa banyak potensi pariwisata di Kabupaten Rohul yang belum tersentuh oleh pemerintah. Contohnya saja seperti di Desa Cipang Kiri Hulu tersebut.
Sehingga, terhadap hal ini, dibutuhkan perhatian lebih. Yaitu peningkatan infrastruktur, hingga melengkapi fasilitas pendukung di masing-masing objek wisata.
“Maka saya mengharapkan adanya sinergi berbagai elemen, seperti Dinas Pariwisata, Dinas PUPR terkait jalan maupun jembatan dan Dinas lainnya. Pihak swasta, perusahaan yang beroperasi di Rohul juga harus aktif berpartisipasi mendorong sektor pariwisata Rohul,” tutupnya.
Harusnya, kami merencanakan di malam hari , setelah acara syukuran langsung naik ke puncak bukit Wisata Tungku Nasi. Namun, besarnya keinginan tak sebanding dengan kondisi fisik yang seharian berjalan tanpa jeda. Akhirnya, malam itu kami pun tertidur dengan lelapnya di tengah sejuknya suasana tersebut. InsyaAllah akan kembali berkunjung dilain waktu.
Puncak Bukit Tungkus Nasi berada di Desa Cipang Kiri Hulu, Kenagarian Sei Kijang, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.
Berada diketinggian lebih kurang 1500 Mdpl membuat tempat ini selalu di lalui kabut dingin setiap harinya. Pada tahun 2012 bukit ini dijadikan oleh pemerintah provinsi riau sebagai landasan pacu olahraga paralayang, karena pada saat itu provinsi riau menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), event bergengsi ditingkat nasional.



0 Komentar