Agar Tetap Sabar Saat Karantina dan Isolasi Mandiri

 

Kisah Sebelumnya: Pengalaman Menarik dari yang Telah Sembuh 

Pada hari ke 6 kondisi membaik. Saya bertanya ke dokter apakah sudah boleh pulang? Dokter tidak langsung menjawabnya. Baru pada malam hari, suster saat kontrol ke kamar, mengatakan saya sudah diijinkan pulang, tetapi harus menjalani karantina mandiri di rumah. 

Karantina mandiri di rumah harus benar-benar terpisah dari anggota keluarga lainnya. Karena aturan ketat ini, saya memilih cek out dari rumah sakit dan karantina mandiri di sebuah penginapan. 

Siapa saja yang wajib mengisolasi diri sesuai protokol Kemenkes?

1. Orang sakit (demam/batuk/pilek/nyeri tenggorokan/penyakit pernapasan) yang tidak memiliki risiko penyakit penyerta seperti diabetes.

2. Orang dalam pemantauan (ODP) yang punya gejala demam/penyakit pernapasan dengan riwayat dari negara atau wilayah terjangkit corona. 

 3. Orang tanpa gejala tapi pernah kontak erat dengan pasien COVID-19.

Apa yang harus dilakukan selama isolasi mandiri bila masih satu rumah dengan anggota keluarga lainnya? 

Isolasi mandiri dilakukan selama 14 hari, jaga kebersihan rumah, kamar harus terpisah dari anggota keluarga lainnya

1. Amati perkembangan gejala seperti batuk, kesulitan bernafas

2. Hindari pemakaian alat makan dan perlengkapan mandi secara bersama.

3. Bejermur dibawah sinar matahari pagi

4. Jaga jarak dengan anggota keluarga lain

5. Gunakan masker dan ukur suhu tubuh setiap hari

6. Hubungi layanan kesehatan jika kondisi memburuk

Jadi selama saya menjalani karantina mandiri, karena di penginapan kegiatannya tetap merujuk pada protokol Kemenkes cuma ditambah dengan kegiatan mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak doa, zikir, doa matsurat dan tilawah disela-sela waktu dan tambahan asupan suplemen herbal.

Kalau pagi jam 06.00-07.00 saya jalan santai cari keringat tidak jauh-jauh masih sekitar tempat isolasi, karena saya butuh oksigen yang masih bersih dan habis sarapan lanjut berjemur sinar matahari.

Kalau kegiatan malam banyak aktiftas santainya buat menghilangkan kejenuhan ya nonton TV atau mantau Smartphone membalas-balas WA.

Teman saya juga menitipakan doa yang selalu saya ucapkan selama sakit :

Banyak doa:

1. Faidza maridhtu, fahuwa yasyfin

2. Rabbi anni massaniyaddhurru wa anta arhamurraahimin. 

Dan dawamkan dzikir:

1. Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syaiun fil ardhi walaa fissamaa i wahuwas sami'ul 'alim

2. Laa ilaaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dzaalimin. 

Sesering mungkin

Doa Ketika Sakit 


بِسْمِ اللَّهِ (3×) أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)

Bismillaah (3x). A'uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x).

Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khawatirkan (7x).

HR. Muslim 4/1728, Abu Daud, Malik, dll.

Keterangan:

Doa ini dibaca ketika ada salah satu bagian tubuh kita yang sakit.

Caranya: letakkan tangan kita di bagian tubuh yang sakit, pijat pelan-pelan, sambil membaca: (doa di atas).

Hadits selengkapnya:

Dari Utsman bin Abil 'Ash radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena rasa sakit yang ada di badannya. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi nasihat kepadanya: "Letakkan tanganmu di bagian tubuh yang sakit, dan ucapkanlah: (doa di atas)."

Selama di rawat di RS ruang full AC jadi selama di rawat saya tidak kena sinar matahari, menurut saya juga kurang sehat. Jadi selama karantina mandiri saya mengalami kondisi yang lebih baik, nafsu makan membaik, tidak demam dan batuk berkurang, dan kena sinar matahari.

Oleh: 

Fajar Martiono (Bang Fai), Pasien Positif Covid 19 yang telah sembuh

Posting Komentar

0 Komentar