Oleh: Abinya Mehmed
(Kabid Komdigi DPW PKS Sulteng)
Personal branding penting bagi setiap pejabat publik atau politisi. Mengampanyekan diri sebagai orang baik adalah sesuatu yang harus dilakukan dalam rangka menggalang dukungan publik.
Namun, upaya untuk menggalang dukungan tidak hanya melalui personal branding. Kata Ketua Majelis Syura PKS, Ustaz Mohamad Sohibul Iman (MSI), ada tiga level atau upaya yang dapat dilakukan oleh politisi di PKS.
Tiga level pelayanan tersebut adalah charity (kedermawanan), empowerment (pemberdayaan), dan advocacy (pembelaan).
Kata Ustaz MSI, charity atau kemanusiaan adalah pelayanan pada tingkat mempertahankan hidup (survival), kemudian empowerment atau pemberdayaan adalah pelayanan pada tingkat membangkitkan seluruh potensi (capable). Sedangkan advocacy adalah pelayanan pada tingkat melipatgandakan potensi dan produktivitas.
Silih Agung Wasesa, yang dikenal sebagai ahli dalam pengembangan merek, perilaku konsumen, strategi pemasaran, komunikasi, pendidikan publik, dan modifikasi perilaku dengan berbagai pengalaman di dunia perusahaan, memberikan tips bahwa membangun branding tidak harus mahal dan bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana, namun menyentuh.
Bang Silih mencontohkan, di suatu kabupaten sang bupati melihat potensi pasar dari kebutuhan akan kacang tanah bagi perusahaan yang memproduksi Kacang Garuda. Ternyata selama ini Kacang Garuda mengimpor lebih dari 80 persen bahan baku atau kacang tanah mentahnya.
Sang bupati kemudian mendatangi Perusahaan Kacang Garuda dan menawarkan daerahnya untuk menjadi penyuplai bahan baku. Perusahaan siap menerima, tetapi tentu kacang yang dihasilkan harus sesuai standar.
"Bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam riset dan pengembangan, sekarang Kacang Garuda sudah mengambil kacang tanah dari kabupaten itu," kata Bang Silih.
Dengan upaya itu, sang bupati mendapatkan branding dari rakyatnya, minimal dari ratusan kepala keluarga yang merupakan petani kacang yang merasa diuntungkan. Jika dalam satu keluarga ada empat atau lima orang anggotanya, maka berapa ribu orang yang memberikan simpati kepada sang bupati.
Contoh sederhana lain yang diungkapkan Bang Silih, di sebuah lokasi parkir swalayan, ia mendapati seorang petugas parkir yang memberikan pelayanan berbeda dengan juru parkir pada umumnya. Melalui sebuah pelatihan, tukang parkir tersebut diajarkan bagaimana cara menata kendaraan supaya pemiliknya tidak kesulitan saat hendak keluar. Selain itu, sang juru parkir juga memberikan layanan tambahan, yakni membukakan pintu swalayan dan membantu membawakan belanjaan.
"Ujungnya, bapak juru parkir ini mendapatkan tambahan tip. Nah, bagaimana, Bapak-Ibu anggota DPR, tidak tertarik untuk melatih para juru parkir dengan hal seperti ini dan selanjutnya mereka dibina secara berkesinambungan?" kata Bang Silih.
Seorang kawan di Jakarta kemudian menyeletuk saat menyaksikan penampilan Komunitas Musisi Jalanan (Komjal) di pentas (panggung) Bimteknas. Katanya PKS Jakarta sudah lama menyentuh komunitas-komunitas tersebut untuk dibina. Walaupun namanya bukan UPA, namun model pembinaannya ya UPA.
"Di setiap even PKS, Komjal tersebut selalu diberi panggung. Diberikan pembinaan rutin, disentuh dengan bantuan namun tidak membuat mereka menjadi ketergantungan, diberdayakan dengan bantuan yang membuat mereka kreatif dan bisa survive. Serta banyak program lainnya dengan pendekatan kepada kelompok-kelompok atau orang-orang yang memiliki hobi, kebiasaan, profesi yang sama untuk dibuatkan komunitasnya lalu diberikan pembinaan," ujarnya.
"Kalau sudah diberi sekali bantuan jangan dilepas, Bang. Dikawal, minimal setiap dua pekan ketemuan dengan mereka. Kalau lepas, pasti ditangkap sama kompetitor. Kalau masih sulit diajak salat, kita yang mencontohkan. Buat agenda pertemuan dekat waktu salat. Lalu bilang, 'Abis ini kita makan ya, tapi ane mau salat dulu.' Awalnya mereka tidak ikut, lama-kelamaan risih juga kalau tidak salat. Abis salat disalami, diberi nasihat tentang agama, jangan kelamaan, paling 10 menitan. Alhamdulillah keterusan salat sampai sekarang. Eh, sekarang malah jadi pasukan ane kalau pasang bendera malamnya. Siangnya, ya mereka mengamen," katanya.
(Bersambung sambil menunggu panas air untuk membuat kopi gelas ketiga)
Wallahu a'lam bish-shawab
Jakarta, 21 Oktober 2026


0 Komentar