Haji Jalal dan Politik Mengetuk Pintu Warga



Sabtu, 4 Oktober 2026. Di Gedung Serbaguna GP, musik hajatan masih mengalun. Keluarga di RT 008/033 sedang berbahagia melepas anaknya menikah. Di antara tamu-tamu yang datang, ada satu sosok yang datang tanpa rombongan besar. Ia hanya menyalami satu per satu warga yang ditemuinya.


Dia adalah H. Jalal Abdul Nasir. Warga biasa menyapanya Haji Jalal.


Tidak ada agenda resmi. Tidak ada susunan acara. Tidak ada protokol yang kaku. Yang ada hanya seorang wakil rakyat yang datang memenuhi undangan warganya, duduk bersama pengurus RT 008 dan berbincang hangat dengan panitia pernikahan.


Bagi kami warga Cibitung, Kabupaten Bekasi, pemandangan ini bukanlah hal yang asing.


Saya sendiri pernah menyaksikannya. Di sebuah hajatan pernikahan lain, Haji Jalal datang sendiri, tanpa pengawalan. Jika tidak mengenalnya, ia akan tampak seperti tamu biasa. Padahal, beliau adalah Anggota DPR RI dari Fraksi PKS untuk Daerah Pemilihan Kabupaten Bekasi.


Kehadirannya memang jarang di panggung tinggi. Ia lebih sering ditemukan di jalan-jalan kecil permukiman warga.


Salah satu pintunya adalah olahraga. Di beberapa lingkungan RT, ia terlihat membagikan perlengkapan tenis meja. Ia juga mendorong warga untuk mengadakan kejuaraan tenis meja dan bola voli. Di balik pantulan bola dan tarikan net, ada tujuan yang lebih besar: membuat warga berkumpul, saling mengenal, dan kembali membangun kebersamaan.


Namun, kedekatan itu tidak hanya hadir saat suasana gembira.


Ketika kabar duka datang, ia pun berupaya hadir. Jika jadwal di Senayan tidak memungkinkan, sebuah karangan bunga duka dikirim sebagai tanda belasungkawa. Saya pernah mengalaminya sendiri. Saat seorang tetangga di perumahan meninggal dunia, tiba-tiba saya ditelepon tim beliau menanyakan alamat lengkap untuk pengiriman karangan bunga.


Begitu pula dengan undangan pernikahan. Sesibuk apa pun tugasnya sebagai anggota parlemen, ia akan berusaha datang jika waktu memungkinkan. Seperti yang terjadi pada 4 Oktober lalu di Gedung Serbaguna GP. Yang ia temui bukan hanya keluarga berbahagia, melainkan para pengurus RT, panitia, dan warga yang sehari-hari membangun kehidupan sosial di Bekasi.


Mungkin perjumpaan itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi masyarakat, kedekatan seorang wakil rakyat justru diukur dari hal-hal sederhana seperti itu: masihkah ia datang ketika diundang? Masihkah ia mau mendengar ketika bertemu? Masihkah ia mengenali denyut kehidupan orang-orang yang diwakilinya?


Sebab, jarak antara Gedung Parlemen di Jakarta dan gang-gang di Cibitung bukan sekadar soal kilometer.


Jarak itu akan terasa sangat jauh jika wakil rakyat hanya hadir di baliho dan spanduk menjelang pemilu. Namun, jarak itu akan terasa sangat dekat jika komunikasi tetap terjaga dalam keseharian.


Tampaknya, Haji Jalal Abdul Nasir memilih cara yang kedua. Cara yang sederhana: datang jika bisa datang, menyapa jika bertemu, dan tetap hadir dalam setiap peristiwa kehidupan warga. Dari lapangan tenis meja hingga lapangan voli, dari suasana duka hingga pesta pernikahan.


Karena bagi masyarakat, menjadi wakil rakyat bukan hanya soal siapa yang paling lantang berbicara di ruang sidang. Ada harapan yang lebih dekat dan lebih manusiawi: ketika kembali ke daerah pemilihannya, ia tetap menjadi sosok yang bisa ditemui dan disapa.


Dan pada sebuah pesta pernikahan sederhana di RT 008/033, kedekatan itu kembali menemukan bentuknya. Bukan melalui pidato panjang, melainkan melalui sebuah kunjungan yang tulus.


Semoga Allah SWT menjaga Pak Haji Jalal Abdul Nasir agar tetap istiqomah dan sehat selalu.


Penulis: Kang Holil (Warga Cibitung)



Posting Komentar

0 Komentar