Api tidak pernah menunggu siapa yang siap. Ia menjalar, membesar, menghitamkan udara, dan mengancam apa saja yang berada di hadapannya. Di saat sebagian orang memilih menjauh dari kobaran, ada mereka yang justru bergerak mendekat.
Mereka adalah para relawan Pemadam Api Pandu Siaga PKS Kalimantan Barat.
Dengan pakaian lapangan yang sederhana, sepatu bot yang sudah penuh lumpur dan debu, serta perlengkapan seadanya, mereka berjibaku menghadapi panas dan asap. Tidak ada panggung. Tidak ada karpet merah. Tidak ada sorotan kamera yang mereka tunggu. Yang ada hanya satu panggilan: api harus dipadamkan, sebelum menjadi bencana yang lebih besar.
Foto ini mungkin terlihat sederhana. Beberapa orang terbaring di atas aspal, sebagian duduk melepas lelah. Ada yang masih mengenakan perlengkapan lapangan, ada pula yang sekadar mengambil napas setelah menyelesaikan tugasnya. Namun di balik tubuh yang tergeletak itu, ada cerita tentang tenaga yang terkuras, keringat yang mengering, dan keberanian yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Mereka bukan manusia super.
Mereka bisa lelah. Bisa kepanasan. Bisa kehausan. Bisa merasa takut. Tetapi ketika api memanggil, rasa takut itu mereka lawan dengan keberanian.
Sepatu bot yang tampak kotor bukan sekadar alas kaki. Ia menjadi saksi bahwa mereka pernah melangkah ke tempat yang mungkin ingin dihindari banyak orang. Seragam yang basah dan penuh kotoran bukan sekadar pakaian kerja. Ia menjadi tanda bahwa tubuh-tubuh itu baru saja berhadapan dengan panas, asap, dan medan yang tidak mudah.
Di lapangan, tidak ada yang bertanya apakah api itu milik siapa.
Rumah siapa yang terancam. Lahan siapa yang terbakar. Siapa yang akan memberikan penghargaan setelah semuanya selesai.
Yang mereka tahu, ketika api membesar, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas.
Maka mereka datang.
Kadang dengan kendaraan yang sederhana. Kadang dengan peralatan yang jauh dari kata sempurna. Tetapi semangat untuk membantu tidak pernah sederhana. Mereka membawa keberanian yang jauh lebih besar daripada perlengkapan yang mereka punya.
Dan setelah api berhasil dijinakkan, tidak selalu ada tepuk tangan.
Yang tersisa hanyalah tubuh yang lelah, napas yang berat, pakaian yang kotor, dan sejenak rebah di atas aspal untuk mengembalikan tenaga.
Di situlah letak makna pengabdian yang sesungguhnya.
Sebab menjadi relawan bukan tentang siapa yang paling dikenal. Bukan pula tentang siapa yang paling sering tampil di depan kamera. Pengabdian terkadang justru terjadi ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Ketika orang lain berlari menjauh dari api, mereka berlari mendekat.
Ketika orang lain mencari tempat aman, mereka mencari sumber api.
Ketika tubuh meminta berhenti, mereka masih berusaha bertahan.
Pandu Siaga PKS Kalimantan Barat menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang gagah. Kadang keberanian hanya berupa sepasang sepatu bot yang kotor, seragam yang penuh debu, dan tubuh yang terbaring kelelahan setelah berjuang menyelamatkan sesama.
Mereka mungkin pulang tanpa medali. Tanpa penghargaan. Tanpa berita besar.
Tetapi setiap api yang berhasil dipadamkan, setiap rumah yang terselamatkan, dan setiap warga yang bisa kembali bernapas dengan tenang adalah penghargaan yang jauh lebih berarti.
Karena pada akhirnya, seorang relawan tidak bekerja untuk terlihat sebagai pahlawan.
Ia bekerja karena ada orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Dan ketika api kembali membara, mungkin mereka akan kembali berdiri, kembali mengenakan sepatu bot, kembali membawa peralatan, lalu kembali menuju kepulan asap.
Sebab bagi mereka, pengabdian tidak selesai ketika kamera berhenti merekam. Pengabdian selesai ketika api benar-benar padam dan masyarakat kembali merasa aman.
Mereka datang ketika api mengganas.
Mereka bertahan ketika tenaga terkuras.
Mereka pulang ketika bahaya telah reda.
Itulah wajah lain dari Kalimantan Barat: orang-orang biasa yang memilih melakukan hal luar biasa. (Ben)


0 Komentar