Pertanyaan ini terlalu menggelitik untuk diabaikan. Disampaikan seorang kader muda ketika saya mengisi workshop di kotanya.
“Gimana caranya, Mik, biar gak kena mental di kultur yang
antikritik? Padahal diklaim kami calon penerus. Yang disenangi orang-orang
kalem, no komen, ikut arus. Padahal kritik bukan untuk membahayakan, tapi untuk
membangun dan memperbaiki.”
Menarik bukan? (BUKAN 😩).
Ada satu hal yang mungkin perlu direnungkan dalam perjalanan
dakwah kita.
Pertama, kita
sudah punya tradisi merdeka berpikir.
Ini bukan gagasan
baru.
Dalam tradisi
dakwah ini, syura justru lahir dari kesadaran bahwa tiada seorang pun memiliki
seluruh jawaban.
KH Hilmi
Aminuddin menjelaskan pentingnya syura dan istisyārah (= saling berkonsultasi
atau minta pandangan), termasuk secara informal.
“Attasyji' 'indal ijtihad. Dorong untuk berani mengemukakan
pendapat. Dan jangan dahulukan pendapat qiyadah. Sebab junud (kader) itu kalau
qiyadah sudah berpendapat biasanya akan diam.”
Jadi, memberi ruang berpikir bukan gagasan yang bertentangan
dengan kultur kepemimpinan dakwah. Justru bagian dari nasihat kepemimpinan itu
sendiri.
Bahkan berkali-kali Ustadz Almuzzammil Yusuf menyebut
pentingnya collective genius—bahwa kecerdasan, pengalaman, dan perspektif yang
tersebar di kepala banyak orang perlu dimunculkan dan dipertemukan.
Artinya, bukankah
fondasi nilainya sudah ada?
Pertanyaannya: Apakah
nilai itu sudah terasa sebagai budaya dalam keseharian kita?
Kedua, kader yang
berani berpikir gak harus selalu menghasilkan jawaban yang persis sama.
Ini mungkin bagian yang paling perlu direnungkan.
Mudah bilang:
“Silakan kritis.” Sampai kritik itu datang kepada kita.
Mudah mengatakan: “Ayo dong berinisiatif.” Sampai inisiatif
itu dilakukan dengan cara yang gak biasa kita lakukan.
Mudah menyebut: “Generasi muda harus kreatif.” Sampai kreativitas itu mempertanyakan
sesuatu yang selama ini terlanjur kita anggap mapan.
“Loh kok begitu?
Harusnya kan begini.”
Mendidik orang
untuk berpikir berarti menerima kemungkinan bahwa ia akan berpikir berbeda dari
kita.
Dan berbeda kan gak otomatis salah.
Tentu tiap
gagasan tetap perlu diuji. Kritik tidak otomatis benar. Pengalaman senior tetap
sangat berharga dan ga bisa diabaikan.
Tapi ya beda beud
antara: “Mari uji gagasanmu.” dengan: “Kamu ngerti apa? Kamu kan belum lama di
sini.” (atau kadang ga letter lek begitu, tapi semua gestur mengomunikasikan
itu).
Yang pertama
adalah proses kaderisasi. Proses menumbuhkan. Yang kedua mematikan proses
berpikir.
Ketiga, kita
ingin penerus. Tapi apakah kita sedang menyiapkan penerus atau salinan?
Generasi muda
hari ini hidup di dunia yang berbeda.
Mereka menghadapi
persoalan yang berbeda, teknologi yang berbeda, berkomunikasi dengan cara
berbeda, dan menemukan solusi yang dulu gak terpikir oleh generasi muda era
1990-an yang sudah pada beruban ini.
Maka sangat
mungkin mereka meneruskan nilai yang sama dengan cara yang berbeda.
Dan bukankah itu
yang justru kita inginkan? Pewarisan nilai. Bukan pewarisan cetakan yang harus
sama mak plek dengan umi-abi?
Tugas generasi
sebelumnya bukan membuat generasi berikutnya menjadi versi muda dari dirinya.
Tugas kita adalah
memberi mereka akar yang cukup kuat untuk tumbuh dengan bentuknya sendiri.
Ada kalimat KH
Rahmat Abdullah yang sangat relevan di buku “Untukmu Kader Dakwah”.
“Kader harus
menerima jabatan sebagai amanah. Menyikapi binaan dengan benar yaitu sekiranya
mereka lebih berpotensi, harus diakui.”
Ini menarik.
Karena salah satu
tanda kematangan justru kemampuan mengakui potensi orang yang berada di
bawahnya.
Bukan merasa
terancam ketika orang lain tumbuh.
Tapi yang mampu
berkata: “Dia punya sesuatu yang saya gak punya.”
Lalu memberinya
ruang.
Keempat, tapi ini
bukan cerita “generasi tua salah, generasi muda benar”.
Generasi muda
juga punya sejuta pe-er. Berani berpikir bukan berarti merasa paling tahu.
Berani bertanya
bukan berarti jadi nir-adab.
Beda pendapat
bukan berarti merendahkan pengalaman yang lebih tua.
Saya juga pernah
kasih pelajaran pada si muda yang mungkin merasa kelewat nyaman sampe pada
tahap kurang ajar.
Atau para lambe yang lemes banget komen: “Dasar boomer.”
“Mak-mak FB.” Sedangkan di seberang sana, generasi senior beranggapan: ah,
kalian bocil-bocil belum layak.
Jadi, satu sama
lain saling memandang rendah. Syedih syekali, warga 😭
Bukankah sombong, salah satu deadliest sin menurut Nabi SAW,
adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain? Ini berlaku untuk semua generasi, bukan?
Dan btw punya
cara baru bukan berarti cara lama pasti jelek. Kalo ingin didengar, juga
harus belajar mendengar. Kalau pengen dikasi kepercayaan, harus tunjukin
tanggung jawab.
Kader muda lain di workshop yang sama bertanya: “Gimana kalo
kita diberi amanah, Mik?”
Jawaban saya: Ya, kerjain totalitas dengan penuh tanggung
jawab, seoptimal mungkin, bahkan kalo bisa melampaui ekspektasi orang-orang.
Jangan
normalisasi jawaban ala demotivator: “kalo ada yang lain, kenapa harus saya?”
🫠
Kelima, collective genius butuh kultur yang suportif.
Collective genius bukan berarti semua orang harus jenius
karena tentu gak ada satu orang yang punya seluruh potongan jawaban.
Ada yang fasih
ngeliat lapangan. Ada yang paham isi pikiran sampe tulang sumsum generasi muda.
Ada yang punya pengalaman panjang. Ada yang menguasai teknologi. Ada yang
cerdas melihat risiko. Ada yang berani mencoba. Ada yang mampu ngeliat
persoalan dari POV yang sama sekali berbeda.
Kalau semua hanya
mengikuti suara yang paling senior, paling nyaring, atau paling berpengaruh,
kita kehilangan sebagian kecerdasan yang sebenarnya sudah ada dalam jamaah.
Maka collective
genius butuh satu hal yang sangat sederhana, yaitu kultur yang membuat orang
berani mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.
Kultur di mana orang lain cukup dewasa untuk mendengar. Yang
siap menerima “Apa yang kamu lihat yang mungkin belum saya lihat?”
Keenam, sebaliknya, perlu diwaspadai lingkungan yang
mematikan kultur collective genius.
Akhir-akhir ini
stagnasi mengemuka menjadi isu yang terjadi di merata tempat. Padahal bisa jadi
asbabnya sudah berlangsung berbilang generasi.
Mungkin karena gak
keliatan. Gak dianggap masalah besar. Kadang justru terlihat sangat
tenang.
Kapan itu?
Waktu banyak orang mulai berhenti bertanya. Berhenti ngasih usul. Berhenti nyoba. Berhenti
mengoreksi. Berhenti berharap perubahan.
Rapat sih jalan.
Program tetap jalan. Bahkan semua tetap hadir.
Tapi pelan-pelan
orang belajar: “Lebih aman diam.”
Alih-alih jadi
taman bunga yang dirindu sebagai tempat bertemu berbagai gagasan, unit-unit
pembinaan justru lebih sunyi daripada mobil listrik. Lebih mencekam dari
kuburan 🥲.
Itu sebab,
mungkin salah satu tanda kultur dakwah yang sehat bukan tidak adanya perbedaan.
Justru orang
boleh berbeda, tapi tetap merasa punya tempat. Boleh bertanya, tapi
dengan hormat. Boleh mengkritik, tapi dalam rangka kasih sayang. Boleh mencoba,
tapi gak kabur atau pundung (= ngambek) tiap gagal atau dikritisi.
Pada akhirnya,
taat dan sepakat adalah hilir. Hulunya adalah jalan panjang fahmu, ikhlas,
amal, jihad, dan seterusnya.
Fahmu, kepahaman,
tak lain diawali dari keberanian berpikir.
Berani berpikir, berani bertanya, berani berbeda. Bersanding
dengan mentalitas mau mendengar, mau belajar, berani ngaku salah, dan bisa move
on.
Mampu tetap berkhidmat dan berbuat setelah perbedaan selesai
dibicarakan.
Tiada lain.
Selalu, nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.
Afwun minkum.
Salam sayang. Salam juang.
Detti Febrina
Bandar Lampung, 30 September 2026


0 Komentar