Dukungan Berbasis Teritori, Antisipasi Black Campaign AI, Ya UPA …
Oleh: Abinya Mehmed
(Kabid Komdigi DPW PKS Sulteng)
Mendengarkan paparan seorang psikolog yang kemudian lihai dalam berbagai platform Artificial Intelligence (AI), serta profesinya seorang yang concern dengan membangun personal branding, adalah sesuatu yang begitu banget (Pinjam istilah orang Jakarte).
Di forum Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) bagi pejabat publik dan pimpinan PKS se-Indonesia, DPP PKS sebagai penyelenggara menghadirkan Silih Agung Wasesa, S.Psi., M.Si, yang dikenal sebagai ahli dalam mengembangkan merk, perilaku konsumen, strategi pemasaran, komunikasi, Pendidikan publik, dan modifikasi perilaku dengan berbagai pengalaman dalam masalah perusahaan.
Pria yang yang akrab disapa Silih dan merupakan lulusan Sarjana Psikologi Universitas Gadjah Mada tersebut, banyak memberikan gambaran, dan tips dalam membangun strategi pemenangan di Pemilu mendatang.
Sepanggung dengan Eep Saifullah Fatah, CEO PolMark Indonesia dalam materi tentang Kompetensi Komunikasi Politik Pejabat Publik, Bang Silih sepakat dengan pendapat Kang Eep, bahwa Pemilu 2024 memang brutal sejak awal, mulai dari rekayasa hukum, hingga penggunaan instrumen negara. Melihat gelagatnya saat ini, Bang Silih dan Kang Eep sepakat pula, bahwa Pemilu di 2029 akan lebih brutal dengan melihat indikasi saat ini.
Namun demikian kata Bang Silih, PKS sebaiknya fokus saja dengan kerja-kerja politiknya, memenangkan hati rakyat dengan cara elegan yang selama ini telah menjadi jalan agung (meminjam istilah Kang Eep) PKS.
PKS kata Bang Silih sudah memiliki modal yang tidak dimiliki partai lain dalam membangun branding dan merebut hati rakyat.
Bang Silih mengatakan, strategi teritori saat ini banyak diadopsi negara-negara maju dalam memenangkan sebuah pertarungan. Kata Bang Silih, strategi Teritori sejatinya Adalah konsep yang lahir di Indonesia, yakni strategi gerilya yang dilakukan TNI dulunya sehingga memenangkan perang melawan Belanda. Strategi ini kemudian diadopsi negara-negara maju dan mengembangkannya. Sekarang Indonesia, justru belajar di negara yang dulunya mengadopsi strategi tersebut.
Membangun basis dukungan melalui pendekatan teritori kata Bang Silih, adalah upaya yang real dan hasilnya dapat terukur. Dan kata Bang Silih, PKS sudah lama melakukan tersebut melalui Unit Pembinaan Anggota (UPA)-nya.
“UPA ini luar biasa. Kalau kita mau ukur dengan nilai, kira-kira berapa duit tuh yang dikeluarkan PKS untuk membiayai UPA. Ayo kita hitung, mulai dari BBM setiap anggota UPA untuk datang, belum lagi konsumsinya, kopi dan yang dimakan,” katanya.
Belum lagi satu estimasi yang belum diketahui Bang Silih, bahwa di setiap UPA selalu ada kopiah, tas kecil, atau apa saja yang bisa dipakai untuk diedar ke setiap anggota UPA, untuk infaq.
Modal UPA ini kata Bang Silih adalah salah satu bentuk paling efektif yang telah dilakukan PKS. Di zaman dulu, TNI bisa mengalahkan Belanda yang punya senjata lengkap dan personel yang terlatih, karena TNI bisa merebut hati rakyat dan ikut bersama berjuang dengan segala kemampuan yang mereka miliki.
Nah strategi tersebut, hendaknya dilakukan oleh PKS dengan mengoptimalkan UPA dalam rangka memenangkan hati rakyat.
Selain itu UPA kata Bang Silih, juga menjadi jalan paling efektif dalam mengantisipasi serangan cyber yang dipastikan akan makin massif menjelang Pemilu nanti. Semua memiliki potensi ancaman, tidak terkecuali PKS.
Jika PKS dianggap berpotensi bisa menang, maka pasti akan mendapat serangan dari berbagai arah dan banyak isu yang dimainkan. Jika pun pihak lawan tidak mendapatkan celah untuk menjatuhkan PKS, maka dengan kecanggihan teknologi saat ini, apa yang tidak bisa dilakukan dalam rangka menciptakan isu, membuat framing negative dalam menjatuhkan lawan politik.
Saya jadi ingat, waktu materi yang dilaksanakan Komdigi DPP PKS, bahwa yang perlu diantisipasi adalah *SERANGAN FAJAR CYBER.* Serangan yang dilakukan, tidak dalam bentuk uang tunai atau paket sembako. Tapi di saat injury time tersebut, akan ada postingan hoax dengan memanfaatkan AI dalam membuat video atau poster kampanye hitam dengan sasaran Caleg PKS.
Saat itu, dengan waktu yang kian dekat dengan pencoblosan, Caleg PKS tidak punya waktu untuk melakukan klarifikasi secara memadai. Dengan waktu hanya hitungan beberapa menit, Caleg PKS tidak punya waktu untuk membuat konten klarifikasi dan memviralkan, atau minimal menjangkau public yang telah telanjur melihat postingan kampanye hitam tersebut.
Tapi ternyata kata Bang Silih, upaya kampanye hitam tersebut, salah satu yang paling efektif untuk menangkalnya adalah dengan pendekatan teritori atau UPA dalam Bahasa PKS.
“Begitu ada kampanye hitam, setiap UPA kan pasti punya group WA kan. Langsung aja buat klarifikasinya di group UPA-nya. Nah audiens yang sudah sekian lama interaksi dengan kita melalui UPA itu, kira-kira percaya mana? Informasi di Medsos yang belum terverifikasi atau informasi dari kita temannya di UPA? Apalagi kalau orang di UPA itu, sudah kenal baik dengan kita sebagai sosok yang baik dan tidak neko-neko,”katanya.
Namun ada satu hal yang menjadi pesan Bang Silih, agar PKS tidak lagi malu-malu untuk mempromosikan kampanye politiknya. Termasuk di UPA. Katanya, kalau saat ini UPA tidak membahas isu politik, namun menjelang Pemilu, UPA bisa menjadi salah satu jalan menggalang simpati dan dukungan Masyarakat.
“Jangan lagi sudah besok Pemilu, eh di UPA dibilangin, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu besok Pemilu ya, kami silakan Bapak Ibu pilih siapa dan apa saja, yang penting baik. Bagi PKS, walaupun Bapak-Ibu tidak memilih kami, insya Allah kami akan tetap menolong,” Ambyar deh!...
(Bersambung sambil menunggu panas air untuk buat kopi)
Wallahu’alam bish shawab
Jarakata, 21 Oktober 2026


0 Komentar