Ketika Lidah Guru dijadikan Quality Control



Sebuah catatan getir tentang sepiring MBG, anak-anak yang sakit, dan guru yang perlahan-lahan dijadikan tempat terakhir untuk melempar kesalahan.

Ada sesuatu yang terasa begitu pahit dari polemik Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bukan hanya tentang makanan yang diduga bermasalah.

Bukan hanya tentang anak-anak yang jatuh sakit setelah menyantap makanan yang seharusnya membuat mereka sehat.

Tetapi tentang sebuah kalimat yang membuat kita bertanya-tanya.

Mengapa ketika makanan bermasalah, guru justru diminta menjadi orang pertama yang harus mencium dan mencicipinya ?

Seorang guru besar bidang gizi, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah dari IPB dalam sebuah diskusi menyampaikan bahwa guru perlu mencium dan mencicipi makanan MBG sebelum diberikan kepada siswa apabila hal itu memang menjadi bagian dari SOP.

Sekilas terdengar sederhana.

Cium.

Cicip.

Kalau terasa atau beraroma tidak enak, laporkan.

Tetapi mari kita berhenti sebentar.

Sejak kapan guru harus menjadi petugas keamanan pangan ?

Guru datang ke sekolah membawa buku pelajaran, bukan alat laboratorium.

Ia masuk kelas membawa rencana pembelajaran, bukan termometer makanan.

Ia mengajarkan matematika, bahasa, agama, sains, sejarah dan berbagai pengetahuan kepada anak-anak.

Bukan memeriksa kandungan mikrobiologis makanan.

Bukan menguji bakteri.

Bukan memastikan rantai dingin.

Bukan melakukan quality control terhadap dapur penyedia makanan.

Dan yang paling menyedihkan, ada hal-hal berbahaya dalam makanan yang memang tidak selalu bisa dilihat, dicium, apalagi dirasakan dengan lidah.

Makanan bisa saja terlihat baik.

Baunya bisa saja biasa.

Rasanya mungkin tidak aneh.

Tetapi keamanan pangan tidak pernah sesederhana itu.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar soal “guru sudah mencicipi atau belum”.

Karena kalau sebuah sistem keamanan pangan bergantung pada lidah seorang guru di ruang kelas, kita patut bertanya.

Lalu untuk apa ada dapur produksi ?

Untuk apa ada pengawasan ?

Untuk apa ada prosedur sanitasi ?

Untuk apa ada pemeriksaan bahan baku ?

Untuk apa ada pengendalian proses memasak, penyimpanan, pengemasan dan distribusi ?

Bukankah makanan yang diberikan kepada anak-anak seharusnya sudah melewati sistem pengamanan sebelum tiba di tangan mereka ?

Bayangkan seorang guru.

Pagi-pagi ia berangkat dari rumah.

Mungkin sarapan belum sempat selesai.

Sesampainya di sekolah, ia harus mengajar.

Memeriksa tugas.

Mengisi administrasi.

Menghadapi anak yang bermasalah.

Menenangkan siswa yang menangis.

Mengejar target pembelajaran.

Mengikuti rapat.

Mengurus berbagai urusan sekolah.

Dan sekarang ia diminta pula menjadi “penjaga rasa” makanan MBG.

Cium dulu.

Cicip dulu.

Kalau aman, anak makan.

Kalau tidak aman, guru yang harus menyadari.

Lalu kalau terjadi keracunan?

Apakah guru pula yang akan ditunjuk karena dianggap lalai ?

Di titik inilah hati kita terasa sesak.

Sebab guru bukan pabrik.

Guru bukan laboratorium.

Guru bukan ahli keamanan pangan.

Dan guru bukanlah tameng terakhir untuk menutupi kelemahan sebuah sistem.

Kalau ada makanan yang menyebabkan anak-anak sakit, semestinya pertanyaan pertama bukan,

“Mengapa gurunya tidak mencicipi ?”

Tetapi,

“Dari mana masalahnya berasal ?”

Periksa bahan bakunya.

Periksa dapurnya.

Periksa kebersihannya.

Periksa pekerjanya.

Periksa proses memasaknya.

Periksa suhu penyimpanan.

Periksa waktu antara makanan selesai dimasak sampai diterima anak.

Periksa pengemasan.

Periksa transportasi.

Periksa distribusi.

Periksa pengawasannya.

Dan yang paling penting,

periksa sistemnya.

Jangan ketika sistem gagal, manusia yang paling dekat dengan anak dijadikan kambing hitam.

Sebab guru sering menjadi orang terakhir yang berada di depan anak-anak.

Ia menerima makanan.

Ia membagikan.

Ia melihat anak-anak makan.

Ia ikut cemas ketika seorang anak tiba-tiba memegang perut.

Ketika muntah.

Ketika lemas.

Ketika wajah kecil itu berubah pucat.

Dan ketika ambulans datang, siapa yang biasanya ikut panik?

Guru.

Ia ikut mengantar.

Ia ikut menelepon orang tua.

Ia ikut menenangkan anak.

Ia mungkin bahkan lupa bahwa dirinya sendiri belum makan.

Maka sungguh ironis apabila setelah semua itu, ketika anak-anak jatuh sakit, guru justru diposisikan sebagai bagian dari masalah.

MBG adalah program untuk anak-anak.

Mereka bukan kelinci percobaan.

Mereka bukan angka dalam laporan.

Mereka adalah anak-anak yang pagi hari berpamitan kepada orang tuanya dengan satu pesan sederhana,

“Belajar yang rajin, Nak.”

Orang tua menitipkan anaknya ke sekolah dengan kepercayaan.

Dan ketika siang tiba, anak itu menerima sepiring makanan yang seharusnya menjadi bentuk kasih sayang negara.

Bayangkan perasaan seorang ibu ketika menerima telepon,

“Bu, anak Ibu sakit setelah makan MBG !!!”

Dunia seorang ibu mungkin mendadak berhenti.

Ia tidak akan bertanya siapa yang paling bertanggung jawab secara administratif.

Ia hanya akan bertanya,

“Anakku bagaimana ?”

Sebab bagi seorang ibu, satu anak yang muntah bukan statistik.

Satu anak yang lemas bukan angka.

Satu anak yang harus dibawa ke rumah sakit bukan sekadar laporan kejadian.

Itu adalah nyawa yang dipercayakan kepada kita.

Karena itu, kritik terhadap persoalan MBG bukan berarti menolak MBG.

Justru sebaliknya.

Kalau kita ingin program ini berhasil, maka kita harus berani mengatakan ketika ada yang perlu diperbaiki.

Jangan alergi terhadap kritik.

Jangan buru-buru mencari siapa yang bisa disalahkan.

Carilah akar masalahnya.

Kalau SOP lemah, perbaiki SOP.

Kalau dapur bermasalah, periksa dapurnya.

Kalau distribusi bermasalah, benahi distribusinya.

Kalau pengawasan lemah, kuatkan pengawasannya.

Kalau ada kelalaian, temukan siapa yang memang bertanggung jawab sesuai kewenangannya dan anehnya sampai saat ini yang terpantau belum ada yang menjadi” tersangka ” akibat keracunan MBG.

Tetapi jangan menjadikan guru sebagai tempat terakhir untuk melempar kesalahan.

Guru sudah terlalu lama menjadi tempat semua beban dititipkan.

Ketika pendidikan bermasalah, guru ditanya.

Ketika karakter anak rusak, guru disorot.

Ketika administrasi menumpuk, guru yang mengerjakan.

Kini ketika makanan bermasalah, guru diminta mencium dan mencicipi.

Lalu kapan guru boleh benar-benar menjadi guru ?

Barangkali kita lupa bahwa di balik seragam dan papan tulis itu ada manusia.

Ada guru yang juga punya keluarga.

Ada guru yang juga lelah.

Ada guru yang juga ingin pulang.

Ada guru yang setiap hari hanya berusaha melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya.

Maka jangan tambahkan beban mereka dengan menjadikan mereka sebagai pagar terakhir dari sistem yang seharusnya sudah aman sejak awal.

Sebab pada akhirnya, anak-anak membutuhkan makanan yang aman, bukan guru yang dipaksa menjadi laboratorium.

Dan guru membutuhkan penghormatan, bukan tudingan.

Jangan mencari kambing hitam ketika yang harus diperbaiki adalah sistem.

Karena kalau sepiring makanan gagal menjaga kesehatan anak-anak, yang harus kita selamatkan bukan hanya nama sebuah program.

Yang harus kita selamatkan adalah kepercayaan orang tua.

Martabat guru.

Dan yang paling utama anak-anak kita.

 

@PenaLegi

 

Posting Komentar

0 Komentar