oleh: Ya’Asurandi
Dua hari ini rasanya
bernafas lebih berat di Ngabang, di kota saya kabut asap tampak lebih pekat dari
hari sebelumnya, keluar rumah sebentar saja rasanya kepala mulai pusing
sedangkan di Kubu Raya dan Pontianak Kalimantan Barat sudah beberapa minggu
mengalaminya, Matahari berwarna oranye kemerahan, Bulan pun tak kalah
menyeramkan warnanya, merah! kabut asap jangan ditanya lagi, Pada hari ini, 29
Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, Data stasiun pemantau BMKG Pontianak mencatatkan kondisi Kualitas
udara wilayah terparah adalah Kubu Raya daerah penyangga Kota
Pontianak yaitu mencapai angka kritis 320,2 µg/m³ dengan status Berbahaya, Catat ya, Berbahaya. Jadi jika ada misi ke
Mars, boleh lah warga Kalimantan ini ikut misi tersebut, paru paru kami sudah
teruji dengan siksaan kabut asap ini.
Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan didapat dari data satelit
Terra/Aqua pada enam provinsi prioritas, hotspot dengan tingkat kepercayaan
tinggi terutama terpantau di Kalimantan Tengah sebanyak 280 titik, Kalimantan
Barat 128 titik, Sumatera Selatan 82 titik, Kalimantan Selatan 16 titik, Jambi
empat titik, dan Riau satu titik. Sementara pada kategori tingkat kepercayaan
menengah, terpantau 4.358 hotspot di Kalimantan Tengah, 1.787 di Kalimantan
Barat, 1.037 di Sumatera Selatan, 825 di Kalimantan Selatan, 183 di Riau, dan
60 di Jambi. Total luas area indikatif terdampak kebakaran hutan dan lahan di
Indonesia periode Agustus 2026 sebesar 72.798 hektar sampai 107.649 hektar.
Fakta Lahan Gambut di Kalimantan
Di Kalimantan, lahan gambut tropis dengan luas 5,4 juta hektar
menunjukkan kemampuan penyimpanan karbon yang luar biasa. Lahan gambut
ini dapat mencapai kedalaman hingga 6 meter, menyimpan sekitar 3000 MgC per
hektar. Di beberapa lokasi yang terpencil, gambut bahkan bisa mencapai
kedalaman 10-18 meter dan menyimpan lebih dari 6000 MgC per hektar. Lahan
gambut ini berfungsi menjaga keseimbangan iklim bumi karena kemampuannya
menyimpan karbon, saat lahan
gambut berada dalam kondisi alami dan tetap basah, karbon di dalamnya akan
tetap tersimpan dengan stabil selama ribuan tahun. Lahan gambut juga berperan
dalam mengatur siklus air, menyimpan cadangan air saat musim hujan dan melepaskannya secara perlahan di musim kemarau. Dengan demikian, gambut turut mencegah banjir dan kekeringan
ekstrem.
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sulit dipadamkan apinya
dikarenakan terbakar dikawasan gambut, tanah gambut yang kering sangat mudah
terbakar dan sulit dipadamkan karena api dapat menyala jauh di bawah permukaan
tanah.
Apa yang menyebabkan tanah gambut rusak? salah satu penyebab utamanya
adalah alih fungsi lahan untuk keperluan budidaya atau industri perkebunan,
proses pembukaan lahan seringkali dilakukan dengan cara yang tidak ramah
lingkungan dan cari cara paling murah, mengeringkan rawa gambut dan membakar
lahan. Jika hotspot kebakaran lahan itu dilacak titiknya pasti ditemukan
mayoritas kebakaran terjadi dikawasan HGU perusahaan perkebunan sawit, kenapa
kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 ini begitu parah dampaknya? karena terjadi
di masa el nino.
Efiensi Anggaran Menghadapi El Nino
El Nino adalah fenomena
memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur, El
nino memiliki dampak yang beragam dalam lingkup skala global. Beberapa Negara
dikawasan Amerika Latin seperti Peru, saat terjadi el nino malah menyebabkan
meningkatnya curah hujan di wilayah tersebut sedangkan di Indonesia dampak dari
el nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. Fenomenan el nino
ini menyebabkan potensi pertumbuhan awan penyebab hujan berkurang maka
dampaknya curah hujan akan berkurang drastis.
El Nino dan dampaknya di
Indonesia tentunya sudah dapat diprediksi, celakanya kita cuma bisa memprediksi
tanpa bersiap serius menghadapi dampaknya.
Pada 31 Desember 2025, Pemerintah resmi
membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Melalui surat Mensesneg B- 175/M/D-1/HK.03.00/04/2025, restorasi gambut
dan rehabilitasi mangrove pecah ke Kementerian Kehutanan, Kementerian
Lingkungan Hidup, dan Kementeria Kelautan dan Perikanan. Padahal BRGM ini
adalah satu satunya lembaga yang fokus tugasnya adalah membasahi kembali gambut
kering di Indonesia, BRGM telah merestorasi 1,6 juta
hektar kawasan gambut dan hal ini terbukti menurunkan kebakaran hutan dan lahan
sebesar 29,59%. Ibarat mematikan pompa air saat rumah
terbakar, negara mencabut instrumen penting di tengah krisis ekologi yang belum
selesai. Sebuah ironi ekologis
di saat ancaman kebakaran lahan menghantui Indonesia dari prediksi kemungkinan
dampak el nino.
Dengan
semangat efisiensi, Negara ini malah tidak pintar menentukan prioritas
anggaran. Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), badan yang berfungsi
merumuskan kebijakan penanggulangan bencana dan menggoordinasikan
pelaksanaannya secara terpadu malah dipotong dahsyat anggarannya ditengah
prediksi dampak el nino yang sudah diprediksi oleh pemerintah, lihat saja
alokasi anggaran berikut: tahun 2021 anggaran sebesar Rp. 7,14 trilyun, tahun
2024 sebesar Rp. 4,92 trilyun, kemudian tahun 2025 menjadi Rp. 1,43 trilyun dan
dalam APBN 2026 anggaran hanya tersisa Rp. 491 milyar untuk BNPB.
Sedangan anggaran Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada awal tahun 2025 dipotong
sebesar 50,35 persen atau senilai Rp1,423 triliun dari pagu awal Rp2,826
triliun menjadi Rp1,423 triliun sebagai bagian dari kebijakan efisiensi
pemerintahan, hal ini berdampak pada Kemampuan perawatan Alat Operasional Utama
(Aloptama) berkurang hingga 71 persen, yang berisiko mengancam fungsi alat
deteksi, kemudian anggaran program layanan meteorologi, klimatologi, dan
geofisika menyusut tajam, memaksa lembaga melakukan penghematan ketat, dan
Pemangkasan ini dikhawatirkan menurunkan kecepatan serta akurasi informasi
cuaca, gempa bumi, dan peringatan dini tsunami, padahal BMKG adalah lembaga
yang memprediksi dampak el nino ini dan yang memiliki kemampuan memodifikasi
cuaca.
Kemudian, kementerian
yang menjadi sorotan dalam kebakaran hutan dan lahan ini yaitu Kementerian
Kehutanan yang tidak diajak rapat oleh Presiden terkait penangganan Karhutla
ini, anggarannya mulai tahun 2025 dipotong menjadi Rp. 5,16 trilyun, walau
tahun 2026 naik menjadi Rp. 6,04 trilyun tapi postur anggarannya 70%
diperuntukkan untuk manajemen dan sisanya untuk pengelolaan hutan berkelanjutan
padahal mereka lah kementerian penjaga hutan, harusnya postur anggaran untuk
menjaga hutan lebih besar.
Operasi Modifikasi Cuaca
(OMC) telah dilakukan oleh BMKG, sejauh ini belum membuahkan hasil menghadirkan
hujan diwilayah Kalimantan, upaya pemadaman tentunya sudah dilakukan oleh
pemerintah dibantu berbagai pihak, hasilnya masih belum optimal karena memang
skala dampaknya sangat luas.
Politik Anggaran Jangan Salah Prioritas
Sebagai masyarakat
tentunya kami memprotes keras atas lambannya pencairan anggaran penanggulangan
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebesar Rp. 290,9 milyar karena hingga
akhir Agustus 2026 ini masih tertahan oleh birokraksi Kementerian Keuangan
(kemenkeu) padahal kebakaran sudah sangat massif, kami sebagai masyarkat
terdampak sangat menderita dengan kabut asap ini, api masih dan terus menyala
sementara operasional tim dilapangan terhambat masalah dana. Memantau
penanganan karhutla ini di daerah sudah mulai kewalahan dan terhambat
pemangkasan anggaran, kami mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil
alih penanganan karhutla secara sistematis.
Penanggulangan Karhutla
ini kategori darurat dan sangat mendesak, pemerintah pusat sudah seharusnya
memprioritaskan anggaran untuk eksekusi pemadaman api Karhutla dan dampak
kesehatannya seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang semakin
meningkat. Anggaran ini harus proporsional agar maksimal pemanfaatanya dan
jangan menjadi aji mumpung digelembungkan untuk dikorupsi.
Usulan Upaya Penanggulangan Karhutla
Hari ini mengembirakan
mendengar kabar bahwa Jepang bersedia membantu Indonesia mengatasi Karhutla ini
dengan mengirimkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 personel Self Defense Force (SDF), Malaysia pun berkenan membantu Indonesia
lagi seperti mengatasi kebakaran hutan di sumatera terdahulu.
Berikut beberapa usulan penangganan darurat:
- Segera cairkan anggaran penangganan karhutla untuk memaksimalkan operasional tim dilapangan
- Untuk masa el nino ini terapkan pembatasan menyeluruh tanpa pengecualian aktivitas pembakaran hutan dan lahan, zero burning. Setelah el nino selesai, aturan pengecualian boleh diberlakukan kembali sebagai kearifan lokal.
- Hadirkan helikopter water bombing di titik titik krisis karhutla, kedepan Indonesia harus punya sendiri agar tidak berharap kepada bantuan asing. Helikopter ini akan sangat berguna untuk lokasi yang sulit terjangkau oleh personel pemadam.
- Menyatukan koordinasi lapangan (TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan Masyarakat Peduli Api) di bawah satu komando taktis per zona wilayah agar mobilisasi personel lebih presisi
- Optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menahan laju kekeringan dengan menghadirkan hujan buatan.
Mencegah Lebih Baik daripada
Menghirup Kabut Asap
Kabut asap Indonesia
berdampak ke Malaysia, Singapura dan Brunei. Menariknya, jika dilihat peta
titik asap, bahwa banyak titik asap di Kalimantan barat, Kalimantan tengah dan
Kalimantan timur, titik asap itu berhenti disepanjang garis perbatasan
Indonesia Malaysia, Sarawak. Padahal Sarawak Malaysia pun punya lahan gambut
seluas 1,6 juta hektar dan secara ekonomi juga bertumpu pada sawit, tetapi
kenapa Sarawak Malaysia tidak kebakaran? Malaysia fokus pada pencegahan
kebakaran sedangkan kita fokus memadamkan kebakaran.
Setelah bencana karhutla
tahun 2026 ini, Negara ini perlu berbenah bagaimana menangani lahan gambut,
menegakkan hukum bagi perusahaan pembakar hutan dan lahan, dan menghidupkan
kembali Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan tugas yang lebih luas
untuk mencegah karhutla dan keberlangsungan ekosistem gambut dan mangrove di
Indonesia. Pembangunan harus bertumpu pada keberlangsungan ekologis,
keserakahan pembangunan yang mengabaikan keamanan ekologis justru mengancam
hidup rakyat, rakyat yang menderita, rakyat yang merasakan langsung dampak
kerusakan lingkungan, seperti kabut asap ini, kami “serasa” hidup di Mars bukan
di Bumi.
*Penulis
adalah Mahasiswa Magister Ilmu Politik
Universitas
Muhammadiyah Jakarta


0 Komentar