Janji yang Dipegang Hingga Akhir
oleh: Khairil Anwar
Pada malam 17 Mei 2026, selepas shalat Isya, saya bersama Pak Bukron dan Pak Desriwal bersilaturahmi ke Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng Bali. Selain mempererat ukhuwah, kami juga membicarakan persiapan kegiatan pemotongan hewan qurban yang akan datang.
Malam itu hadir Ketua, Sekretaris, dan Bendahara DPC. Di antara mereka ada Bapak Mahfudz. Dalam obrolan yang mengalir hangat, saya baru mengetahui bahwa beliau baru saja pulang dari Denpasar dan secara khusus menyempatkan diri hadir dalam musyawarah malam itu.
Sejujurnya, saya terhenyak dan merasa tidak enak hati. Saya membayangkan perjalanan yang telah beliau tempuh, tenaga yang terkuras, serta pekerjaan yang harus beliau tinggalkan hanya untuk menghadiri pertemuan sederhana bersama kami.
Menjelang acara ditutup, saya melontarkan sebuah pertanyaan yang awalnya hanya saya sampaikan dengan nada bercanda.
"Kenapa bapak-bapak masih mau menerima amanah sebagai pengurus PKS Kecamatan Banjar? Padahal kami jarang datang menyapa, kadang pesan WhatsApp pun berjarak. Apa karena kasihan sama PKS ya?"
Semua tersenyum. Namun ketika giliran Pak Mahfudz menjawab, suasana berubah.
Dengan tenang beliau berkata,
"Ketika kami sudah berjanji dan diambil sumpah, maka pantang bagi kami untuk mundur dan tidak bersama jamaah ini."
Saya terdiam.
Jawaban itu sama sekali tidak saya perkirakan. Tidak ada keluhan, tidak ada tuntutan penghargaan, tidak ada perhitungan untung dan rugi. Yang ada hanyalah kesetiaan pada janji dan komitmen pada amanah.
Hari ini, Allah telah memanggil beliau kembali.
Namun kalimat yang beliau ucapkan malam itu masih terngiang di telinga saya. Seolah menjadi wasiat yang ditinggalkan untuk kita semua.
Di zaman ketika banyak orang mudah datang dan pergi, mudah semangat ketika senang lalu menjauh ketika keadaan sulit, Pak Mahfudz menunjukkan arti sebenarnya dari istiqamah. Bahwa amanah bukan sekadar jabatan, melainkan janji yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan semoga kita yang masih diberi kesempatan hidup dapat mengambil pelajaran berharga dari keteladanan beliau: setia pada janji, teguh dalam amanah, dan tetap bersama jamaah hingga akhir hayat.
Al-Fatihah untuk Bapak Mahfudz.


0 Komentar