Kembara: Ketika Tarbiyah Turun dari Kepala ke dalam Jiwa



(BKAP PKS Lampung)

 

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.”

(QS. Ash-Shaff: 4)

 

Ada ilmu yang cukup dipahami.

Ada ilmu yang harus diyakini.

Dan ada ilmu yang baru benar-benar hidup setelah dialami.

 

Tarbiyah selama ini mengajarkan kita tentang ukhuwah, ketaatan, pengorbanan, kesabaran, ketangguhan, dan amal jama’i. Kita mendengar tentangnya dalam pertemuan pekanan. Kita membacanya dalam buku. Kita mendiskusikannya dalam forum-forum pembinaan.

Namun tarbiyah tidak pernah dimaksudkan berhenti pada pemahaman.

Sebab dakwah tidak membutuhkan kader yang hanya mampu menjelaskan konsep. Dakwah membutuhkan kader yang mampu menjelma menjadi konsep itu sendiri.

Di sinilah salah satu makna penting Kembara.

 

Kembara bukan sekadar agenda tahunan. Bukan pula kegiatan penyegar suasana. Ia adalah salah satu wasail tarbawiyah yang diwariskan dalam tradisi pembinaan kader dakwah untuk mengubah ilmu menjadi pengalaman, dan pengalaman menjadi karakter.

 

Kyai Hasan pernah mengingatkan:

“Kata-kata akan tetap menjadi kata-kata, tulisan akan tetap menjadi tulisan, dan teori akan tetap menjadi teori sampai ia menjelma menjadi gerakan yang hidup.”

 

Kembara adalah ruang tempat teori itu dijelmakan.

Di sana, seorang kader tidak hanya berbicara tentang kesabaran, tetapi mempraktikkannya ketika lelah.

Tidak hanya berbicara tentang ukhuwah, tetapi merasakannya ketika berbagi beban dengan saudaranya.

 

Tidak hanya berbicara tentang ketaatan, tetapi menjalaninya ketika harus tunduk pada keputusan jamaah.

Tidak hanya berbicara tentang ketangguhan, tetapi mengujinya dalam keterbatasan.

Karena itu para murabbi sejak dahulu memahami bahwa pembinaan tidak cukup dilakukan di ruang-ruang nyaman.

 

Perhatikan Perjalanan Para Nabi

 

Nabi Musa ’alaihissalam ditempa di padang pasir sebelum memimpin Bani Israil.

Nabi Muhammad ï·º menggembala kambing di usia muda, menempuh perjalanan-perjalanan panjang, dan berkhalwat di Gua Hira sebelum memikul risalah besar.

 

Generasi sahabat juga tidak dibentuk dalam kenyamanan. Mereka ditempa oleh perjalanan, perpindahan, jihad, dan berbagai bentuk pengorbanan.

 

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata:

Bukanlah ilmu itu karena banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”

Dan cahaya itu sering kali tumbuh ketika seseorang keluar dari zona nyamannya.

Inilah yang dicontohkan generasi sahabat. Mereka bukan hanya ahli ilmu, bukan hanya ahli ibadah, dan bukan hanya pribadi yang kuat secara fisik. Mereka adalah generasi yang tumbuh secara utuh.

Allah menggambarkan sosok yang ideal dalam kisah Thalut:

"Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa."  (QS. Al-Baqarah: 247).

 

Kembara sesungguhnya adalah puncak integrasi tiga aspek tarbiyah yang selama ini dibangun. Samapai sejauh mana implementasi dari proses pembinaan jasadiyah, fikriyah, dan kekuatan ruhiyah menjadi karakter seorang kader.

 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, janganlah kamu bersikap lemah (putus asa).” (HR. Muslim No. 2664)

 

Jasadiyah diuji ketika tubuh mulai lelah.

Ruhiyah diuji ketika kondisi tidak lagi ideal.

Fikriyah diuji ketika seseorang harus menerjemahkan nilai-nilai dakwah ke dalam perilaku nyata.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Kembara adalah salah satu momentum evaluasi terbesar bagi seorang kader.

Karena saat itu kita dapat melihat dengan jujur:

Apakah pemahaman yang selama ini kita bangun sudah benar-benar menjadi karakter?

Ataukah ia masih berhenti sebagai pengetahuan?

 

Di tengah zaman yang menawarkan kenyamanan tanpa batas, Kembara mengingatkan bahwa dakwah besar tidak pernah dibangun oleh jiwa-jiwa yang dimanjakan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia ditempa.

 

Kembara adalah pertemuan antara ruh yang ingin dekat dengan Allah, akal yang ingin memahami kebenaran, dan jasad yang sedang dipersiapkan untuk mengemban amanah dakwah. Karena kader yang kokoh tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari proses tarbiyah yang menyentuh hati, menguatkan fikrah, dan menempa jiwa.

 

Oleh sebab itu, menghadiri Kembara maupun Latansa bukan sekadar memenuhi undangan kegiatan.

Ia adalah memenuhi hak diri sendiri untuk kembali dididik.

Kembali dipersatukan.

Kembali diingatkan.

Bahwa jalan dakwah yang kita pilih sejak awal memang bukan jalan yang paling mudah, tetapi insya Allah jalan yang paling mulia.

Posting Komentar

0 Komentar