Catatan Kecil Untuk yang Berniat Tidak Ikut Kembara



oleh : Iqbal Anas (Payakumbuh) 


Sebelum keputusan itu benar-benar dibulatkan, izinkan saya bercerita sebentar.


Saya ingin bercerita tentang seseorang kawan peserta Kembara Gelombang 1 yang saya saksikan sendiri, dari satu kembara ke kembara yang berikutnya. 


Usianya sudah sangat tidak muda lagi. Fisiknya pun sudah memiliki keterbatasan, bukan lagi fisik yang lincah untuk berjalan, berlari apalagi untuk mendaki bukit, mendirikan tenda, tidur beralas tanah, dan menjalani agenda padat yang menuntut stamina penuh dari subuh hingga larut malam. 


Saya yakin jika beliau meminta izin untuk tidak hadir dan tidak ikut kembara, sungguh tidak akan ada yang keberatan. Keterbatasan fisik ada di tangannya, sah dan mudah ditemukan siapa pun yang memahami aturan organisasi.


Tapi belum sekali pun saya menyaksikan beliau alpa dalam agenda organisasi yang penuh tantangan ini.


Saya melihat beliau berjalan lebih pelan dari yang lain bahkan harus dibantu pakai tongkat, nafasnya lebih berat di tanjakan, langkahnya kadang dibantu tongkat atau pundak ikhwah di sampingnya. 


Tapi beliau tetap berangkat. Tetap memasang tenda dengan tangan yang gemetar. Tetap duduk di antara barisan ketika yang lain berdiri tegap menghadap bendera. 


Bukan karena beliau tidak tahu bahwa dirinya punya alasan untuk tinggal di rumahnya. Beliau tahu betul. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang lebih kuat dari rasa lelah, dan itu yang membuatnya tetap datang, tahun demi tahun, tanpa pernah sekali pun mengajukan izin.


Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat seseorang dengan keterbatasan fisik yang nyata, dengan kekurangan fisik dan kondisi kesehatan yang menjadi pengecualian, tetap memaksakan diri hadir di tengah agenda yang menyita tenaga seperti ini? 


Jawabannya sederhana, tapi dalam: karena bagi beliau, kembara bukan sekadar kehadiran fisik semata, berkumpul dan mendirikan tenda. Kembara atau kemah bakti nusantara adalah bukti komitmen akan janji yang harus ditunaikan. 


Kembara adalah persiapan seorang prajurit dalam berjuang di Jalan Allah SWT dan juga latihan bela negara jika kelak diperlukan. Kembara adalah bukti ketaatan seorang prajurit terhadap program organisasi yang telah lama beliau pilih sebagai jalan hidupnya.


Mungkin sebagian dari kita menganggap kembara hanya seremoni tahunan. Capek, lelah, panas panas, jauh dari kenyamanan rumah, dan rasanya bisa digantikan dengan alasan yang masuk akal: pekerjaan banyak menumpuk, anak anak masih kecil, badan kurang fit, istri lagi hamil, mertua sakit atau sekadar malas berlelah-lelah di alam terbuka. 


Semua alasan itu manusiawi, dan sebagiannya bahkan sah secara aturan organisasi. Tapi pertanyaan yang lebih dalam bukan soal sah atau tidaknya alasan kita. 


Pertanyaannya adalah, jika seseorang yang fisiknya jauh lebih lemah dari kita, yang punya alasan jauh lebih kuat untuk absen, masih memilih hadir, lalu apa yang sesungguhnya sedang kita ukur ketika kita memilih tidak ikut?


Komitmen tidak diuji ketika segalanya mudah. Ia diuji justru ketika ada pintu keluar yang sah, ketika tidak ada yang akan menyalahkan kita jika kita memilih jalan yang lebih ringan, dan di titik itulah kita memilih tetap berjalan bersama organisasi. 


Ketaatan kepada organisasi bukan ditunjukkan lewat kata-kata di forum atau status di media sosial, tapi lewat keputusan kecil yang berulang: hadir ketika lelah, datang ketika banyak alasan untuk tidak datang, dan tetap berbaris ketika tubuh ingin rebah.


Saya tidak menulis ini untuk menghakimi siapa pun yang benar-benar berhalangan. Yang tidak bisa ikut karena alasan kesehatan ya bisa dimaklumi, dan organisasi memberi keringanan bukan tanpa alasan. 


Tapi saya menulis ini untuk teman-teman kader PKS yang sedang menimbang-nimbang, yang sebenarnya mampu, yang sebenarnya hanya butuh sedikit dorongan untuk meluruskan niat. 


Kembara bisa saja akan terasa berat. Tapi ingatlah, ada orang yang fisiknya lebih berat dari Antum yang tetap memilih untuk berdiri di barisan itu, bukan karena ia tidak punya alasan untuk pulang, tapi karena ia tahu ke mana hatinya berlabuh.


Organisasi ini dibangun bukan oleh mereka yang hadir saat kondisi ringan dan mudah saja, tapi oleh mereka yang tetap memilih hadir meski kondisi sedang berat. 


Pertanyaannya kini ada di tangan Antum: kembara ini akan menjadi catatan ketaatan, atau catatan alasan?


Wallahu'alam bissowab.

Posting Komentar

0 Komentar