Satu Dekade Lebih Berkhidmat: Jejak Langkah Sang Korsad dari Lamno



Oleh: Sofyan

Ketua Bidang Kepanduan & Bela Negara, DPD PKS Aceh Jaya


Awal Mula: Seragam Sekolah dan Panas Lapangan Basket

Semuanya bermula di awal tahun 2003. Saat itu, saya masih seorang pelajar SMA di Lamno. Seorang kawan yang baru pulang kuliah dari kota membawa kabar: "Akan ada deklarasi PKS di Stadion Banda Aceh." Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan ajakannya.


Perjalanan dua jam dari Lamno kami isi dengan gema nasyid Izzatul Islam yang membakar semangat di dalam bus. Sesampainya di Stadion Utama, mata saya terbelalak melihat lautan manusia dan kibaran bendera partai di setiap sudut. Itulah momen pertama saya jatuh cinta pada perjuangan ini.


Namun, keberanian itu ada harganya. Esoknya di sekolah, saya dan kawan-kawan disidang oleh guru olahraga di tengah lapangan.

"Siapa yang ajak? Dikasih apa kalian ke sana?" cecar beliau.

Dengan tenang saya menjawab, "Tidak ada yang menyuruh, Pak. Kami pergi atas keinginan sendiri dan kami ikhlas," hari itu, kami dihukum berdiri di bawah terik matahari lapangan basket. Di bawah sengatan panas itu, batin saya berbisik: "Inilah langkah awal perjuanganku."


Tsunami 2004: Rompi PKS dan Helikopter Harapan

Waktu terus berjalan hingga musibah besar itu tiba. Minggu pagi, 26 Desember 2004. Saat sedang menyiapkan dagangan di pasar, bumi berguncang hebat disusul kabar air laut naik. Alhamdulillah, pasar tempat saya berada selamat. Hal pertama yang saya cari saat sampai di rumah adalah rompi PKS pemberian seorang sahabat.


Pasca-tsunami, Lamno terisolasi. Jalur darat putus total. Saya bergabung dengan relawan, bolak-balik ke Banda Aceh menggunakan bot ikan untuk mengantar relawan dan menjemput bantuan.


Suatu hari, amanah baru datang: menjadi pengasuh anak yatim korban tsunami. Setelah meminta izin kepada Ibu untuk merantau, saya menunggu di lapangan bola. Tak disangka, kami dievakuasi menggunakan helikopter menuju Banda Aceh. Itulah kali pertama saya merasakan terbang di angkasa, menuju tugas mulia bersama Ustadz Yos dan tim relawan lainnya di bawah bimbingan Bang Munardi dan Ustadz Suwardi.


Menempa Diri di Markas Perjuangan

Setahun menjadi pengasuh anak yatim, hingga akhirnya anak-anak tersebut pindah ke Dayah Darul Hijrah di bawah pimpinan Ustadz Irawan Abdullah. Meski tugas formal selesai, ikatan batin dengan mereka tetap terjaga hingga mereka sarjana.


Tahun 2006, dedikasi saya berlanjut di Kantor DPW PKS Aceh. Di sinilah saya mulai aktif di kepanduan yang saat itu diketuai dan dipimpin langsung oleh Cek Lan sebagai BKO-nya. Di bawah bimbingan beliau, saya diberikan amanah untuk menjaga malam Kantor DPW PKS Aceh di Tanjong.


Siang hari saya bekerja keras—mulai dari bengkel hingga pabrik pengolahan plastik—dan malam harinya saya mengabdi di bawah komando Cek Lan. Seluruh jenjang pengkaderan saya ikuti dengan disiplin, mulai dari Mukhayam MD 1, MD 2, hingga LPK di Sabang.


Ujian Kesetiaan: Meninggalkan Pelaminan Demi Korsad

Tahun 2008 adalah tahun yang tak terlupakan. Baru satu bulan mengecap manisnya pernikahan, instruksi tegas turun dari Cek Lan selaku BKO agar saya berangkat mengikuti DIKSAR KORSAD (Diklat Dasar Korps Satuan Tugas Keadilan) yang diadakan oleh BKO DPP di Jakarta.


Berat rasanya meninggalkan istri yang baru satu bulan saya nikahi. Namun, sebagai prajurit yang patuh pada pimpinan, saya berangkat mewakili DPW Aceh. Di sana, fisik dan mental saya ditempa habis-habisan. Alhamdulillah, saya berhasil finis sebagai peserta tercepat ke-9 dari 100 orang dalam rintangan halangrintang, dan berhak menyandang Slayer Merah Korsad.


Istiqomah Hingga Kini

Tahun berganti, namun semangat tidak pernah luntur. Dari menjaga gedung DPW hingga tahun 2015, kini amanah itu semakin besar. Saat ini, saya dipercayakan mengemban tiga tanggung jawab sekaligus di DPD PKS Aceh Jaya:

1. Ketua Bidang Kepanduan dan Bela Negara

2. Bidang Olahraga

3. Bidang Kepemudaan


Dari seorang siswa SMA yang dihukum berjemur di lapangan basket, kini saya berdiri sebagai pelayan masyarakat di tanah kelahiran sendiri. Perjalanan ini belum usai, dan semangat Korsad akan terus mengalir di dalam darah saya.


Bersambung...


Pesan Moral: Cerita ini sangat kuat di bagian "keikhlasan" (saat menjawab guru SMA). Ini bisa menjadi teladan bagi kader-kader muda zaman sekarang.


#miladpks

#24tahunpks

Posting Komentar

0 Komentar