24 Tahun PKS: Bertahan, Bertumbuh, dan Tetap Bersama Rakyat



oleh : Murtini, S.TP _ Kabid Komdigi PKS Kab Madiun


Di bawah langit Pertiwi yang tak pernah benar-benar sunyi dari riuh harap dan cemas, perjalanan sebuah ikhtiar politik kerap kali menyerupai kisah panjang para pengembara: berdebu, berliku, kadang diterpa badai, namun tetap melangkah dengan keyakinan yang tak lekang oleh waktu. 


Dua puluh empat tahun bukanlah sekadar hitungan angka dalam kalender sejarah; ia adalah rentang usia yang ditempa oleh ujian, kesetiaan, dan harapan yang berkali-kali diuji oleh realitas.


Sejak mula bersemi pada 20 April 2002, langkah itu tidak serta-merta menemukan jalan yang lapang. Ia tumbuh di tengah tanah yang kadang retak oleh krisis kepercayaan, di antara keraguan publik terhadap wajah politik yang kerap berubah arah. Dalam suasana demikian, berdiri tegak bukanlah perkara mudah. Banyak yang tumbang sebelum sempat berakar, banyak pula yang berubah arah demi sekadar bertahan. Namun ada pula yang memilih tetap berjalan, meski tertatih, meski tak selalu dimengerti.


Perjalanan itu, bagi Partai Keadilan Sejahtera, adalah kisah tentang kesabaran yang dirawat, tentang cita-cita yang tidak dibiarkan layu oleh musim. Ia bukan sekadar organisasi politik yang mengejar kursi kekuasaan, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk menanam nilai, menumbuhkan harapan, dan menjaga keyakinan bahwa politik dapat menjadi jalan pengabdian.


Betapa tidak, perjalanan dua dasawarsa lebih ini menyimpan banyak kisah yang tak selalu tampak di permukaan. Ada masa ketika suara rakyat terasa jauh dari genggaman, ada saat ketika badai opini menghantam dari segala penjuru, seakan hendak meruntuhkan kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah. Namun di tengah segala itu, tetap ada mereka yang memilih bertahan—para kader yang berjalan dari kampung ke kampung, menyapa dengan sederhana, mendengar dengan tulus, dan bekerja tanpa banyak sorot cahaya.


Barangkali di situlah letak kekuatan yang sering luput dari perhatian: kesediaan untuk tetap dekat dengan rakyat, bahkan ketika jalan menuju kekuasaan tidak selalu terbuka lebar. Sebab sesungguhnya, kekuatan bangsa tidak lahir dari gemerlap janji, melainkan dari ketulusan untuk hadir di tengah kebutuhan yang nyata.


Dalam denyut kehidupan masyarakat, persoalan ekonomi kerap menjadi nadi yang paling terasa. Harga yang naik, lapangan kerja yang menyempit, dan ketidakpastian masa depan menjadi beban yang dipikul oleh banyak keluarga. Di tengah realitas demikian, keberpihakan bukan lagi sekadar jargon, melainkan tuntutan yang harus diwujudkan. Ekonomi yang berpihak adalah ekonomi yang menghidupkan, bukan menyingkirkan; yang memberi ruang bagi usaha kecil untuk tumbuh, bukan sekadar memberi karpet merah bagi yang telah besar.


Demikian pula dengan pangan—urusan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya menjadi dasar dari kedaulatan bangsa. Ketika sawah-sawah menyempit, ketika petani kian renta dan generasi muda enggan turun ke ladang, di situlah masa depan diuji. Kemandirian pangan bukan sekadar impian romantik, melainkan kebutuhan yang mendesak. Sebab bangsa yang tidak mampu memberi makan dirinya sendiri akan selalu bergantung pada kemurahan pihak lain.


Di sisi lain, energi menjadi babak baru dalam pergulatan zaman. Dunia bergerak cepat, menuntut perubahan yang tak bisa ditunda. Ketergantungan pada sumber daya yang terbatas harus perlahan ditinggalkan, diganti dengan langkah-langkah berani menuju keberlanjutan. Energi bukan lagi sekadar soal pasokan, tetapi tentang keberanian mengambil arah yang lebih bijak bagi generasi mendatang.

Dalam ketiga bidang itulah—ekonomi, pangan, dan energi—terletak simpul-simpul perjuangan yang tak mudah diurai. Ia membutuhkan kerja panjang, kesabaran, dan keberanian untuk tetap konsisten di tengah godaan pragmatisme yang kerap menggoda.


Namun perjalanan ini bukan hanya tentang program dan kebijakan. Ia juga tentang manusia-manusia yang menghidupkannya. Tentang kader-kader yang memilih jalan sunyi pengabdian, yang mungkin tak selalu dikenal namanya, namun jejaknya terasa dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang hadir di saat bencana, yang menyapa di saat sunyi, yang mengulurkan tangan tanpa menunggu sorot kamera.


Ada keindahan tersendiri dalam kesederhanaan itu. Sebuah keyakinan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Bahwa membangun bangsa tidak selalu harus dengan gebrakan yang mengguncang, tetapi dengan kesabaran yang menumbuhkan.


Tentu saja, perjalanan ini tidak luput dari kritik dan kekurangan. Sebab tiada yang sempurna di dunia yang fana ini. Namun justru di situlah letak ujian sesungguhnya: apakah sebuah gerakan mampu bertahan, belajar, dan memperbaiki diri, atau justru larut dalam keputusasaan. Sejarah mencatat, banyak yang gugur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena kehilangan arah dari dalam.


Maka usia dua puluh empat tahun ini sepatutnya menjadi cermin, bukan sekadar perayaan. Sebuah jeda untuk menengok ke belakang, menimbang langkah yang telah dilalui, dan memperbaiki apa yang masih kurang. Sebab perjalanan ke depan masih panjang, dan tantangan yang menanti tidak akan lebih ringan.


Di tengah dunia yang kian kompleks, di mana batas antara benar dan salah kerap menjadi kabur, kehadiran nilai menjadi semakin penting. Politik tanpa nilai akan kehilangan ruhnya, menjadi sekadar alat untuk mencapai tujuan sesaat. Namun politik yang berpijak pada nilai akan menemukan maknanya sebagai jalan pengabdian.


Dan di situlah harapan itu tetap menyala. Harapan bahwa di tengah segala keterbatasan, masih ada mereka yang percaya bahwa Indonesia dapat berdiri tegak dengan kekuatannya sendiri. Bahwa kesejahteraan rakyat bukanlah utopia, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.


“Bersama rakyat menguatkan Indonesia”—sebuah kalimat yang sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Ia bukan sekadar slogan, melainkan janji yang harus terus dihidupkan. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari megahnya gedung atau tingginya angka statistik, tetapi dari seberapa sejahtera rakyatnya, seberapa adil kesempatan yang diberikan, dan seberapa besar harapan yang bisa dirasakan oleh setiap warganya.


Di usia yang ke-24 ini, perjalanan itu masih jauh dari usai. Ia masih akan menemui tikungan-tikungan tajam, mungkin juga jalan buntu yang menuntut keberanian untuk mencari arah baru. Namun selama langkah itu tetap berpijak pada niat yang lurus, selama ia tetap dekat dengan rakyat yang menjadi alasan keberadaannya, maka harapan itu akan selalu menemukan jalannya.


Dan di bawah langit Pertiwi yang sama, kisah ini akan terus ditulis—bukan hanya oleh mereka yang berada di panggung, tetapi oleh setiap insan yang percaya bahwa pengabdian, sekecil apa pun, akan selalu memiliki arti.


Maka pada ujung perjalanan yang sejenak kita berhenti untuk menengok ke belakang ini, terselip doa yang lirih namun penuh makna. Semoga setiap langkah yang telah ditempuh tidak menjadi sia-sia, setiap peluh yang jatuh menjadi saksi kesungguhan, dan setiap luka yang pernah ada menjelma pelajaran yang menguatkan.


Perjalanan masih panjang, dan jalan ke depan tak selalu ramah. Namun selama niat tetap terjaga, selama hati tetap tertaut pada rakyat, dan selama pengabdian tak bergeser menjadi kepentingan semata, maka harapan itu akan terus hidup—meski dalam sunyi, meski tanpa gemuruh tepuk tangan.


Sebab sejatinya, kekuatan tidak lahir dari gemerlap perayaan, melainkan dari keteguhan untuk tetap berdiri ketika yang lain memilih berhenti.


Selamat Milad Berdaya PKS.

Teruslah tumbuh, mengakar dalam kepercayaan rakyat, dan menjulang dalam cita-cita untuk Indonesia yang lebih kuat, adil, dan bermartabat.


Foto: Presiden PKS Almuzzammil Yusuf didampingi pengurus DPTW PKS Gorontalo silaturahim dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat Gorontalo di Warung Kopi Dino'x Pasar Tua, Kota Gorontalo, Sabtu (11/4). 


Kegiatan yang berlangsung sederhana dan khidmat ini menghasilkan diskusi yang hangat. 


Di warkop sederhana ini, Almuzzammil menyampaikan update politik Nasional dan Internasional.

Posting Komentar

0 Komentar