Iduladha seharusnya memang melelehkan air mata. Jika dimaknai bukan semata hari raya.
Juga bukan dark joke kebablasan seperti mereka yang mengatakan Tuhan nge-prank Ibrahim dan Ismail.
*
Mungkin ini familiar, orang tua yang berkata: “Ini semua demi kebaikan kamu.”
Padahal sejatinya yang diperjuangkan gengsi orang tua, ambisi yang dulu gagal, standar keluarga, atau takut dinilai orang.
Lalu anak dipaksa jadi versi yang membuat orang tua tenang. Bukan versi terbaik dirinya sendiri.
Lihat bagaimana Nabi Ibrahim tidak datang kepada Ismail dengan bentakan: “Ayah sudah putuskan!” “Ini perintah Allah! Kerjakan!” “Kamu harus mau!”
Indah sekali Ash-Shaffat: 102 melukiskan konversasi bapak-anak di momen krusial itu.
Pertama, betapa panggilan yang digunakan Ibrahim adalah “yaa bunayya”, bukan “yaa waladi” yang lebih formal, lebih menunjukkan otoritas sebagai orang tua.
Yaa bunayya - menurut para mufassir adalah panggilan penuh kasih sayang, kelembutan, dan kedekatan emosional. Kurang lebih seperti “wahai anakku sayang” atau “duhai kesayangan ayah”.
Kedua, Nabi Ibrahim mendeskripsikan situasi yang ia hadapi kepada Ismail: “Aku melihat dalam mimpi ..”
Bukan to the point mengatakan: “Allah memerintahkan ayahmu ini menyembelihmu.”
Kenapa menarik? Karena ada transparansi proses, ada kelembutan penyampaian, dan kalau dalam ilmu komunikasi disebut “pesan aku”.
The powerfull pesan aku. Bukan “pesan kamu” yang cenderung menghakimi, “ga mau tau”, “pokoknya”.
“Kamu tuh memang selalu ..”
“Kamu harusnya ngerti posisi ayahmu ..”
Bahkan Nabi Ibrahim sebagai orang tua sudah mengajari komunikasi efektif, sejak ribuan tahun lalu.
Ketiga, walau punya otoritas sebagai Nabi, sebagai orangtua, dan mimpi itu adalah wahyu, Ibrahim tidak menggunakan relasi kuasa itu dan justru bertanya: “Bagaimana pendapatmu?”
Bagaimana pendapatmu, duhai anakku sayang?
Beautiful, right? ðŸ˜
Ada penghormatan. Ada dialog. Ada pengakuan bahwa anak juga manusia paripurna.
Kita bukan nabi, tapi lihat betapa kini ego kita sebagai orang tua jauh membumbung tinggi.
*
Maka mungkin yang perlu disembelih hari ini bukan hanya hewan kurban.
Tapi juga pikiran bahwa anak ga ada urusan dengan pilihan hidup orang tua, ego merasa paling tahu hidup anak, obsesi membandingkan dengan anak orang lain, keyakinan bahwa anak yang baik adalah yang selalu menuruti kemauan orang tua.
Seegois apa jua kemauan itu.
Idul Adha mengajarkan bahkan Nabi Ibrahim pun diuji untuk tidak menjadikan anak sebagai “milik”, apa lagi properti.
“Gimana sih kamu, udah les mahal-mahal masih ga lulus juga?”
Berbangga ketika dia berprestasi, sepi ketika dia membuat gundah hati ..
Maka orang tua hari ini pun mungkin sedang diuji apakah benar mencintai anak, *atau hanya mencintai versi anak yang mereka inginkan?*
Sungguh tiada lain, kaca diri bagi yang menuliskan ini.
Selamat mengkhidmati Idul Adha. Maaf lahir batin.
Bandar Lampung, 27 Mei 2026
Detti Febrina


0 Komentar