Oleh: Murtini
Kabid Komdigi PKS Kabupaten Madiun
Setiap tahun, dunia menyaksikan sesuatu yang unik.
Di tengah sistem ekonomi modern yang serba transaksi, laba, dan hitung-hitungan untung rugi, miliaran umat Muslim justru melakukan hal yang tampak “tidak ekonomis”. Jutaan kambing, sapi, dan domba disembelih.
Dagingnya dibagikan. Gratis. Tanpa invoice, tanpa kontrak bisnis, tanpa keuntungan finansial yang dicatat di laporan perusahaan.
Namun justru di situlah letak keajaiban Idul Adha.
Di balik takbir yang menggema dan aroma sate yang memenuhi kampung-kampung, ada sebuah sistem besar yang diam-diam bekerja: sistem distribusi kesejahteraan yang telah bertahan lebih dari empat belas abad.
Tema Idul Adha PKS tahun ini, “Berkurban Berbagi Berdaya”, bukan sekadar slogan. Ia adalah gambaran nyata tentang bagaimana ibadah mampu menggerakkan ekonomi rakyat sekaligus menguatkan solidaritas sosial.
Ketika seseorang membeli seekor sapi kurban, yang bergerak bukan hanya hewan itu menuju tempat penyembelihan. Yang bergerak adalah rantai kehidupan panjang di belakangnya.
Ada peternak kecil di pelosok desa yang selama berbulan-bulan merawat ternaknya dengan harapan Idul Adha datang lebih cepat. Ada pedagang pakan, sopir pengangkut ternak, pekerja pasar hewan, tukang jagal, penjual bumbu, pembuat tusukan sate, hingga relawan yang membagikan daging dari rumah ke rumah.
Satu ibadah menghidupkan banyak dapur.
Bagi banyak peternak di Nusa Tenggara Timur, Jawa, Sulawesi, hingga pelosok Sumatera, Idul Adha bukan sekadar hari raya. Ia adalah musim panen. Momentum ketika hasil jerih payah setahun penuh akhirnya berubah menjadi biaya sekolah anak, pembayaran utang, atau modal usaha baru.
Inilah ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya. Ekonomi yang tidak berputar hanya di pusat kota dan gedung-gedung tinggi, tetapi sampai ke kandang-kandang sederhana di desa terpencil.
Lebih dari itu, kurban juga menyentuh sisi yang paling mendasar dari kehidupan manusia: pangan dan gizi.
Di negeri yang masih menghadapi persoalan stunting dan rendahnya konsumsi protein hewani pada keluarga miskin, Idul Adha hadir sebagai bentuk subsidi protein terbesar yang dilakukan masyarakat secara sukarela.
Bagi sebagian keluarga, daging kurban mungkin hanya hadir setahun sekali. Namun dari potongan daging itulah anak-anak mendapatkan protein, zat besi, dan nutrisi penting yang selama ini sulit mereka jangkau karena harga daging yang mahal.
Maka ketika panitia kurban mengetuk pintu rumah warga sambil membawa kantong daging, yang datang sebenarnya bukan hanya makanan. Yang datang adalah rasa diperhatikan. Rasa dipedulikan. Rasa bahwa mereka tidak sendiri.
Di sinilah kurban membangun sesuatu yang lebih mahal daripada uang: kepercayaan sosial.
Masyarakat yang saling berbagi akan lebih kuat dibanding masyarakat yang hanya saling bersaing. Dan Idul Adha mengajarkan itu setiap tahun.
Hebatnya lagi, sistem ini bekerja tanpa birokrasi rumit.
Tidak perlu formulir panjang. Tidak perlu database nasional. Tidak perlu gedung megah. Distribusi dilakukan langsung oleh masyarakat yang mengenal tetangganya sendiri. Mereka tahu siapa yang layak didahulukan, siapa janda yang hidup sendiri, siapa lansia yang membutuhkan, siapa keluarga yang jarang makan daging,
Sebuah sistem sosial yang berjalan bukan karena pengawasan negara, tetapi karena dorongan iman.
Mungkin inilah alasan mengapa Idul Adha mampu bertahan ribuan tahun.
Banyak sistem redistribusi runtuh karena manusia enggan berbagi ketika tidak ada keuntungan langsung. Namun kurban bekerja dengan fondasi yang berbeda. Ia bertumpu pada ketakwaan. Pada keyakinan bahwa harta terbaik justru tumbuh ketika dibagikan.
Dan sejarah membuktikan, nilai spiritual sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar insentif ekonomi.
Karena itu, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan.
Ia adalah pelajaran tentang bagaimana agama menghadirkan solusi sosial dengan cara yang sangat manusiawi. Tentang bagaimana ibadah mampu menggerakkan ekonomi rakyat, memperbaiki gizi masyarakat, sekaligus merawat persaudaraan.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, kurban mengingatkan kita bahwa kekuatan bangsa tidak dibangun hanya oleh pertumbuhan angka-angka ekonomi, tetapi juga oleh budaya berbagi dan kepedulian.
Maka ketika takbir kembali berkumandang tahun ini, mari kita pahami bahwa setiap hewan kurban yang disembelih bukan hanya simbol ketaatan kepada Allah.
Ia juga simbol hadirnya harapan.
Harapan bagi peternak kecil. Harapan bagi keluarga miskin. Harapan bagi anak-anak yang membutuhkan gizi. Dan harapan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat karena rakyatnya saling menguatkan.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H
Berkurban, Berbagi, Berdaya.
Foto: Suasana kurban Presiden PKS Almuzzammil Yusuf di Penjaringan Jakarta Utara


0 Komentar