oleh: Rahman Rumaday
Ketua Bidang Kepanduan dan Kepemimpinan Partai DPW Sulsel
Kalau nanti saya meninggal dalam perjalanan dakwah... saya minta dipakaikan baju ini...
Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Ustadz Trie Alfiard Hasyim sore itu.
Pelan sekali.
Nyaris tenggelam bersama suara tangisnya sendiri.
Tetapi entah kenapa, justru karena diucapkan dengan lirih, kalimat itu terasa menghantam dada lebih keras daripada pidato paling lantang sekalipun.
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berani menyela.
Dan saya...
Saya hanya menunduk sambil mencoba menenangkan dada yang tiba-tiba terasa sesak.
Saat itu saya sadar, saya tidak sedang menghadiri acara milad biasa.
Saya sedang menyaksikan cinta seseorang kepada jalan perjuangan yang telah ia peluk sepanjang hidupnya.
Dan sejak sore itu, satu pertanyaan terus berputar-putar di kepala saya:
Seberapa dalam seseorang bisa mencintai sebuah perjuangan... sampai ia ingin dikafani dengan seragam yang selama ini ia kenakan di jalan dakwah?
Siang itu langit Kota Anging Mammiri terasa begitu garang. Matahari seperti sedang menggantung terlalu dekat di atas kepala. Jalanan di sekitar Jalan Insinyur Sutami memantulkan panas yang membuat orang ingin segera mencari tempat berteduh. Tetapi anehnya, ketika saya menaiki tangga menuju lantai dua Kantor DPTW PKS Sulawesi Selatan, saya justru menemukan suasana yang berbeda.
Hangat.
Bukan hangat karena pendingin ruangan yang dimatikan atau karena banyak orang berkumpul di satu tempat. Tetapi hangat yang lahir dari perjumpaan orang-orang yang pernah sama-sama berjalan di jalan panjang bernama perjuangan.
Milad 24 Tahun PKS yang digelar Kamis, 28 Mei 2026 itu berlangsung sederhana. Sangat sederhana bahkan. Tidak ada panggung besar. Tidak ada lampu-lampu yang memaksa suasana terlihat megah. Tidak ada dekorasi mahal yang membuat acara tampak glamor.
Tetapi justru dari kesederhanaan itu saya merasa sedang melihat sesuatu yang mulai langka hari ini yakni ketulusan yang tidak dibuat-buat.
"Kesederhanaan adalah bentuk tertinggi dari kematangan." Leonardo da Vinci
Kadang saya berpikir, mungkin perjuangan yang paling jujur memang tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Sebab terlalu banyak hal hari ini tampak besar di luar, tetapi kosong di dalam.
Puluhan kader yang diundang berdatangan satu per satu. Ada yang rambutnya mulai memutih. Ada yang langkahnya tak lagi secepat dulu. Ada pula wajah-wajah lama yang tampak saling memandangi dengan mata yang seperti berkata, "Kita akhirnya bertemu lagi setelah sekian lama."
Sebagian berpelukan.
Sebagian tertawa kecil mengingat masa-masa lama.
Sebagian lagi hanya diam sambil tersenyum, sebab ada kenangan yang kadang terlalu dalam untuk diterjemahkan lewat kata-kata.
Saya duduk di bagian belakang ruangan. Membiarkan mata saya berjalan memperhatikan satu demi satu wajah yang hadir siang itu.
Entah kenapa, saya justru merasa seperti anak kecil yang sedang duduk di tengah orang-orang yang telah lebih dahulu menghabiskan hidupnya untuk sebuah keyakinan.
Di depan telah hadir lima orang narasumber yang sengaja diundang dalam sesi "Napak Tilas". Ada Pak Ismail Bahtiar, anggota Fraksi PKS DPR RI Dapil Sulawesi Selatan II. Ada Ustadz Trie Alfiard Hasyim, Ustadz Irwan Waji, Ibu Susy, dan Ibu Ida Royani.
Diantara lima narasumber itu 4 orang yang sedikit banyaknya saya kenal betul mereka, jika berbicara tentang awal dakwah dan partai di Sulawesi Selatan yaitu Ustadz Irwan Waji, Ustadz Trie, Ibu Susy, Ibu Ida Royani
Mereka duduk biasa saja.
Tetapi semakin saya memandang mereka, semakin saya merasa bahwa di depan saya bukan sebatas narasumber.
Mereka adalah arsip hidup perjalanan dakwah di Sulawesi Selatan.
Orang-orang yang pernah hidup di masa ketika dakwah belum punya kantor besar, belum punya kursi parlemen, belum punya banyak kekuatan politik. Masa ketika perjuangan lebih banyak dilakukan dari rumah ke rumah, dari masjid ke masjid, dari liqo kecil ke liqo kecil, dengan kendaraan seadanya dan kantong yang sering kali pas-pasan.
Saya tiba-tiba merasa sangat kecil.
Sangat kecil.
Karena dibanding mereka yang telah menghabiskan puluhan tahun menjaga jalan perjuangan ini, saya hanyalah orang yang baru kemarin sore mengenal dakwah dan memilih ber-PBB bersama Kepanduan hingga hari ini.
Padahal hari ini saya dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Kepanduan DPW PKS Sulawesi Selatan.
Dan justru karena amanah itulah, siang hingga sore itu terasa seperti tamparan batin untuk diri saya sendiri.
Sebab saya tidak hanya sedang mendengar cerita.
Saya sedang melihat manusia-manusia yang benar-benar hidup di dalam perjuangan.
Di antara seluruh narasumber yang hadir, salah satunya adalah Ustadz Trie Alfiard Hasyim (sesepuh di kepanduan) ketika beliau mulai berbicara.
Beliau hadir memakai seragam kepanduan.
Baju lapangan berwarna khaki yang sederhana itu tampak begitu melekat dengan dirinya. Di dada kirinya terpasang logo "Pandu Keadilan" dengan motto 'Siaga, Setia, Bakti." dan di lengan kanannya melekat logo KORSAD.
Saya memandangi baju itu cukup lama.
Anehnya, semakin lama saya melihatnya, semakin saya merasa bahwa itu bukan sebatas pakaian organisasi.
Ada umur perjuangan di sana.
Ada peluh yang mengering di sana.
Ada perjalanan panjang yang menempel di sana.
Lalu tiba-tiba saya teringat bahwa Kepanduan memang bukan sebatas soal seragam, barisan, atau kegiatan lapangan.
Kepanduan adalah cara menjaga ruh perjuangan agar tetap hidup.
Di dalam Kepanduan kami diajarkan empat prinsip besar yang harus mengalir bersama darah dalam tubuh kami yaitu pengamanan, pembinaan, pelayanan, dan pemenangan.
Empat kata yang sederhana.
Tetapi semakin lama saya berada di jalan ini, semakin saya sadar bahwa empat kata itu ternyata bukan sebataa konsep organisasi.
Ia adalah jalan hidup.
Pengamanan bukan hanya menjaga acara atau menjaga barisan. Tetapi menjaga dakwah agar tetap selamat melewati zaman yang terus berubah.
Pembinaan bukan hanya mengatur kaderisasi. Tetapi menjaga manusia agar tetap punya hati yang hidup.
Pelayanan bukan hanya membantu pekerjaan teknis atau bertugas saat bencana. Tetapi melatih diri agar ikhlas bekerja bahkan ketika tidak dilihat siapa-siapa.
Dan pemenangan bukan hanya bicara tentang pemilu atau politik. Tetapi memenangkan nilai-nilai kebaikan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Sore itu saya melihat seluruh prinsip itu hidup di dalam diri Ustadz Trie.
Beliau bukan sedang menjelaskan Kepanduan.
Beliau adalah kepanduan itu sendiri.
Ketika beliau mulai berbicara, suasana perlahan berubah hening.
"Saya... mengenal dakwah ini... lewat buku..."
Kalimat pertama itu langsung terasa berat.
Beliau berhenti cukup lama.
Menarik napas perlahan.
Saya melihat matanya mulai berkaca-kaca bahkan sejak awal berbicara. Suaranya tidak lantang seperti pidato. Justru terdengar terbata-bata. Kadang berhenti di tengah kalimat. Kadang menunduk cukup lama sebelum melanjutkan lagi.
"Saya dari kampung… Sulawesi Utara... ke Jakarta kuliah..."
Beliau kembali berhenti.
Anehnya, semakin beliau berhenti, suasana justru semakin terasa dalam.
Seolah setiap jeda yang keluar dari mulut beliau membawa kenangan yang terlalu berat untuk segera disampaikan.
"Yang pertama saya cari... gerakan dakwah... yang memperjuangkan Islam dan membela umat..."
Kalimat itu pecah perlahan bersama getaran suaranya.
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Semua larut mendengarkan beliau.
Saya melihat beberapa peserta mulai menunduk. Ada yang menarik nafas panjang. Ada pula yang memandang beliau dengan mata berkaca-kaca.
Sementara dada saya sendiri mulai terasa sesak.
Beliau kemudian bercerita tentang awal mula liqo tahun 1995. Tentang bagaimana dakwah ini ditemukannya saat muda. Tentang pekerjaan nyaman yang sebenarnya sudah menunggu setelah selesai kuliah. Tentang pilihan hidup ketika pamannya mengajak beliau ke Sorong.
Tetapi beliau memilih Sulawesi Selatan.
Beliau memilih jalan dakwah.
Dan ketika hendak ke Sulsel, beliau diminta menemui Ustadz Surya Darma.
"Itu... murabbi pertama saya..."
Kalimat itu kembali terputus.
Beliau menunduk lama sekali.
Saya melihat tangannya mulai gemetar memegang mikrofon.
Dan saya mulai merasa bahwa sore itu bukan lagi sebatas forum nostalgia.
Itu seperti ruang pengakuan seorang pejuang yang sedang membuka seluruh isi hatinya di depan kami yang hadir.
"Orang-orang besar bukanlah mereka yang hidup tanpa luka, tetapi mereka yang tetap berjalan meski berkali-kali terluka."
Matahari mulai turun perlahan. Cahaya sore masuk lembut dari memantulkan cahaya di jendela kantor DPW. Dan di momen itulah Ustadz Trie memegang baju kepanduan yang dikenakannya.
Tangannya mengusap pelan bagian dada tempat logo "Pandu Keadilan" terpasang.
Beliau diam cukup lama.
Sangat lama.
Hingga suasana terasa benar-benar sunyi.
Lalu dengan suara yang nyaris pecah, beliau berkata,
"Sejak awal... saya memilih... berjuang di lapangan... lewat baju ini..."
Air mata beliau jatuh.
Saya yang sejak awal masuk ruangan memilih duduk di kursi paling belakang itu merasa dada saya mulai penuh.
Beliau kembali berhenti. Mengusap matanya perlahan. Lalu mencoba melanjutkan lagi walau suaranya terus terbata-bata.
"Saya bilang sama anak-anak saya...”
Beliau tidak mampu melanjutkan beberapa detik.
Pundaknya mulai bergetar.
"...kalau nanti saya meninggal..."
Kalimat itu membuat ruangan terasa seperti kehilangan udara.
Saya menunduk.
Saya benar-benar seperti tiba-tiba tidak kuat.
"...dalam perjalanan dakwah..."
Beliau menangis.
Dan dengan suara yang sangat pelan, nyaris hilang bersama tangisnya sendiri, beliau berkata,
"...saya minta dipakaikan baju ini..."
Saat itu dada saya benar-benar sesak.
Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan itu.
Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam batin saya keras sekali.
Karena saya sadar, yang sedang berbicara di depan bukan sebatas kader senior.
Beliau adalah seseorang yang telah menyerahkan masa mudanya, tenaganya, bahkan seluruh hidupnya untuk jalan perjuangan ini.
Dan tiba-tiba saya merasa sangat kecil di hadapan ketulusan seperti itu.
Saya sendiri mengenal PKS lewat tarbiyah tahun 2003 ketika masih duduk di kelas dua MAN di Fakfak, Papua Barat. Mengenal kepanduan tahun 2006 saat saya lanjut kuliah di Makassar. Dan tahun 2007 saya menjadi bagian dari anggota KORSAD setelah mengikuti tes seleksi di tingkat wilayah dan lolos kemudian diberangkatkan ke Jakarta mengikuti pendidikan selama 8 hari dan dinyatakan lulus dan resmi menjadi KORSAD.
Dulu perjalanan itu terasa panjang bagi saya.
Tetapi sore itu saya sadar, perjalanan saya ternyata baru setitik embun dibanding samudra pengorbanan orang-orang sebelum saya.
Saya yang hari ini dipercaya memimpin bidang Kepanduan di DPW, mendadak merasa sedang belajar ulang tentang arti loyalitas.
Tentang arti pengabdian.
Tentang arti mencintai dakwah tanpa syarat.
Sebab selama ini mungkin saya baru memakai seragam kepanduan.
Tetapi sore itu saya melihat seseorang yang telah menjadikan baju Kepanduan sebagai bagian dari hidup dan kematiannya.
Saya akhirnya mengerti...
Mengapa sebagian orang tetap bertahan puluhan tahun di jalan dakwah meski lelah, meski jatuh, meski kadang tidak dihargai.
Karena bagi mereka, dakwah bukan aktivitas.
Dakwah telah berubah menjadi cinta.
Dan orang yang benar-benar mencintai, biasanya tidak pernah pandai berhitung tentang pengorbanannya sendiri.
Saya teringat perkataan Ali bin Abi Thalib:
"Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia perjuangkan."
Dan mungkin itulah yang saya lihat pada sosok Ustadz Trie sore itu.
Beliau tidak sedang memperjuangkan popularitas.
Tidak sedang memperjuangkan jabatan.
Beliau sedang menjaga cintanya kepada jalan dakwah hingga akhir hayatnya.
Lalu diam-diam saya bertanya kepada diri saya sendiri yakni.
Apakah saya mampu setia seperti mereka yang duduk didepan ketika usia saya nanti mulai menua?
Apakah saya masih akan mencintai jalan ini ketika tepuk tangan mulai hilang?
Apakah saya masih akan bertahan ketika perjuangan tak lagi terlihat indah?
Karena ternyata istiqamah bukan sebatas bertahan lama.
Istiqamah adalah tetap mencintai jalan yang sama bahkan ketika tubuh mulai lelah dan dunia berhenti memberi penghargaan.
Dan ketika matahari tenggelam sore itu, saya pulang dengan dada yang masih sesak.
Karena saya sadar...
Tidak semua orang mampu setia hingga rambutnya memutih.
Tidak semua orang mampu menangis karena perjuangan.
Dan tidak semua orang ingin dikafani dengan simbol jalan hidup yang dicintainya.
Tetapi Ustadz Trie Alfiard Hasyim...
Beliau mencintai dakwah itu sedalam itu.
Parang Tambung, 29/5/26 | pukul, 23.58


0 Komentar