Menakar Kartini: Refleksi atas Karya Letters of A Javanese Princess



oleh: Azwar Tahir


Menakar Kartini: Refleksi atas "Karya Letters of Javanese Princess"


Semester lalu saya memilih meneliti naskah "Letters of A Javanese Princess". Buku ini diterjemahkan dari Bahasa Belanda oleh Agnes Louise Symmers dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1921. Louise Coperus, sastrawan Belanda era 1880an, yang dibesarkan di Batavia ikut memberikan kata pengantarnya.


Judul penelitian saya, yang merupakan tugas akhir mata kuliah Women and Writing ini, adalah: Raden Adjeng Kartini's Attitude towards Foreign Language Learning in Letters of A Javanese Princess. Memilih titik tekan pada sikap RA Kartini pada pembelajaran bahasa asing.


Kesimpulan saya, Kartini memiliki sikap berbeda terhadap bahasa asing. Pertama, Kartini sangat antusias mempelajari Bahasa Belanda untuk kepentingan gerakan emansipasi. Bahasa di sini semacam alat pemberdayaan kalangan pribumi utamanya kaum hawa. 


Bahasa lain yang ingin Kartini pelajari lebih jauh adalah Bahasa Perancis dan Jerman. Yang menarik, meski skala prioritas Kartini adalah bahasa dari benua Eropa, antusiasme Kartini untuk Bahasa Inggris tidak sesemangat ketiga bahasa tersebut di awal. Bahkan, Kartini menyamakan Bahasa Inggris dengan bahasa Arab dalam konteks kerumitan mempelajarinya.


~


Perlu diketahui teks yang merupakan kumpulan surat menyurat Kartini dengan sahabat penanya di Belanda ini diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Inggris pada tahun 1921. Sementara Kartini wafat pada tahun 1904. Ada jarak bilangan tahun. Armin Pane, kelak pada tahun 1938, atau versi lain 1922, menerjemahkan buku tersebut ke Bahasa Indonesia dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang". 


Pun perlu dipertimbangkan, di pertengahan abad ke 17 ada serangkaian konflik antara Belanda dan Inggris yang dinamai Anglo-Dutch Wars. Perang ini tidak terlepas dari hasrat berkuasa keduanya. Pada akhirnya, buku terjemahan dari Bahasa Belanda ke Inggris ini berhenti pada titik di mana Kartini dikesankan sebagai pribadi yang lebih menaruh simpati pada bahasa pemerintah kolonial dibanding bahasa Arab sebagai bahasa Al Qur'an. 


Sampai di sini, para pembaca akan menaruh simpati pada "protagonis" Kartini atas gerakan emansipasi yang dirintisnya. Atas perjuangannya memberdayakan pribumi utamanya kaum hawa. Namun, ada celah yang riskan di situ. Karena titik di mana penulis, penerjemah, dan penerbit berhenti, membuka penafsiran bahwa bahasa Arab diletakkan di skala prioritas terendah protagonis. Padahal, Kartini beragama Islam dan tumbuh besar di negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Karena itu, pembaca jangan mau dibingkai! Menakar Kartini tidak boleh berhenti di sini! Saya menyarankan pembaca untuk menelisik tulisan berjudul “RA Kartini dan Islam” oleh Teguh Setiawan yang dimuat di Republika


~

Tulisan pertama kali dirilis 21 April 2020, sewaktu penulis menempuh studi S2 Sastra Inggris di Social Sciences University of Ankara, Turkey


Keterangan foto: Presiden PKS Periode 2020-2025 Ahmad Syaikhu bersama rombongan ziarah ke makam pahlawan kemerdekaan Raden Ayu (R.A) Kartini di Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Ahad (17/9/2023).



Posting Komentar

0 Komentar