Kartini dan Perjuangan yang Belum Selesai: Menjaga Keselamatan Ibu di Indonesia



oleh : Murtini 

Kabid Komdigi DPD PKS Kabupaten Madiun


Nama Raden Ajeng Kartini selalu hadir dalam ingatan kita sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Ia memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan martabat perempuan di tengah keterbatasan zamannya. Namun, ada satu bagian dari kisah Kartini yang sering luput dari perhatian: ia wafat bukan di medan perjuangan, melainkan setelah melahirkan.


Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, hanya empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. Usianya masih 25 tahun. Banyak catatan sejarah menyebutkan bahwa ia mengalami komplikasi pasca persalinan yang diduga berkaitan dengan preeklampsia—kondisi yang hingga hari ini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu.


Lebih dari satu abad berlalu, tetapi kenyataan pahit itu belum sepenuhnya menjadi masa lalu. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2024 mencatat sekitar 4.150 kematian ibu di Indonesia. Sementara itu, tren data Badan Pusat Statistik dalam beberapa tahun terakhir (2022–2024) menunjukkan angka yang masih berada di kisaran 4.000–4.400 kematian per tahun. Jika diterjemahkan, itu berarti sekitar 11–12 ibu meninggal setiap hari, atau hampir satu ibu setiap dua jam.


Secara rasio, Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih berada di kisaran 180–190 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh dari target global dalam United Nations melalui agenda Sustainable Development Goals (SDGs), yang menargetkan kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup. Ini menunjukkan bahwa upaya penurunan kematian ibu masih membutuhkan kerja keras dan kolaborasi yang lebih kuat.


Hal yang sering tidak disadari, risiko terbesar tidak berhenti saat proses persalinan selesai. Masa setelah melahirkan—yang dikenal sebagai masa nifas hingga 42 hari—justru menjadi periode yang sangat krusial. Data global menunjukkan bahwa hampir setengah dari kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Artinya, momen yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru bisa berubah menjadi situasi paling berisiko.


Di Indonesia, penyebab utama kematian ibu masih didominasi oleh perdarahan, preeklampsia/eklampsia, dan infeksi. Perdarahan dan infeksi bahkan sering terjadi pada fase pasca persalinan. Yang lebih memprihatinkan, banyak dari kondisi ini sebenarnya dapat dicegah apabila dikenali lebih dini dan ditangani dengan cepat serta tepat.


Persoalan ini tidak semata-mata soal medis. Dalam banyak kasus, kematian ibu terjadi karena rangkaian keterlambatan: terlambat mengenali tanda bahaya, terlambat mengambil keputusan untuk merujuk, dan terlambat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan. Tidak sedikit ibu yang akhirnya tiba di rumah sakit dalam kondisi sudah kritis. Ini menunjukkan bahwa keselamatan ibu adalah persoalan sistemik yang melibatkan banyak pihak—keluarga, tenaga kesehatan, hingga sistem layanan kesehatan itu sendiri.


Di balik angka-angka tersebut, ada kisah nyata yang tidak bisa diabaikan. Ada ibu yang tak pernah kembali ke rumah, bayi yang tumbuh tanpa pelukan pertama, dan keluarga yang harus menjalani hidup dengan kehilangan yang mendalam. Ini bukan sekadar statistik, melainkan nyawa yang sebenarnya memiliki peluang untuk diselamatkan.


Memperingati Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau simbol emansipasi semata. Kisah hidup Kartini justru menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan hari ini masih berlangsung—terutama dalam hal keselamatan dan kesehatan. Menjaga ibu berarti menjaga masa depan bangsa, karena dari rahim para ibu lahir generasi penerus yang akan menentukan arah negeri ini.


Keselamatan ibu tidak bisa ditopang oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan keluarga yang sigap, tenaga kesehatan yang responsif, serta sistem rujukan yang cepat dan terintegrasi. Sering kali, satu keputusan yang lebih cepat, satu langkah yang lebih tanggap, dan satu kerja sama yang lebih erat dapat menjadi pembeda antara kehidupan dan kehilangan.


Kartini mungkin telah tiada lebih dari seabad yang lalu, tetapi semangatnya hidup dalam setiap ibu hari ini. Dan setiap ibu, dalam perannya yang begitu besar bagi keluarga dan bangsa, adalah Kartini yang patut kita jaga bersama.


Keterangan foto: Sarasehan Tokoh Perempuan dan Dialog Kebangsaan DPP PKS, Selasa 21 April 2026

Posting Komentar

0 Komentar