Oleh: Dr Muhamad Abduh
Ini adalah tulisan ke dua, tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini
===
“Kok Bisa 27 Tahun Melaksanakan Rutinitas yang Sama?"
===
Sebenarnya saya pernah ‘tawaquf’ atau istirahat dari rutinitas pembinaan ini ketika kelas 3 SMA. Alasan utamanya karena janji saya kepada diri sendiri dan kepada Almarhum bapak saya yang saat itu bekerja sebagai sopir di Saudi Arabia, bahwa saya harus kuliah di kampus negeri. Sebab kalau masuk kampus swasta mungkin tidak ada uangnya ya.
Tawaquf nya berlanjut di tahun pertama kuliah di IPB. Kali ini alasannya karena fokus dengan IPK semester 1 & 2 untuk dapat beasiswa di tahun kedua dan untuk mencari uang biaya hidup selama di Bogor.
September 1999 saya daftar ulang ke IPB dengan membawa surat keterangan miskin dari kelurahan. Sebulan pertama kuliah saya menumpang tidur di kost-an kawan-kawan jurusan, berpindah-pindah. Di sini dua malam, di sana tiga malam, dan seterusnya. Sampai saya diterima jadi Raja (sebutan penghuni tetap) di Asrama IPB Ekalokasari, Tajur.
Saya sering jalan kaki untuk kuliah ke Baranangsiang dari Ekalos Tajur. Jualan keripik balado, beli kantong besar - jual kantong kecil, di dalam kelas TPB. Sampai bekerja bangunan. Alhamdulillah. Tahun pertama di IPB memang sangat berkesan. Yang paling pilu ketika bapak meninggal dunia tahun 2000 setelah balik dalam keadaan sakit parah dari Saudi.
Masuk tahun kedua di IPB sudah mulai stabil karena dapat mengajar private tuisyen dari rumah ke rumah. Raja Ekalos senior ada yang berbaik hati membagi muridnya untuk saya. Tahun ini saya memulai kembali proses pembinaan PKS. Mulai dari awal lagi sebab dua tahun istirahat adalah waktu yang cukup lama. Mulai saat inilah saya, Alhamdulillah, tidak pernah istirahat lagi mengikuti rutinitas pembinaan dalam PKS sampai sekarang, dan mudah-mudahan sampai saya menghembuskan nafas terakhir.
===
“Kok Nggak Bosen?”
===
Bosen?… ya nggak lah, kan program nya variatif dan dinamis. Mulai dari membaca Al-Qur’an sampai main Golf. Dari bergiliran memberi tausiyah sampai bicara proyek-proyek riil pembinaan masyarakat. Rekan-rekan se-grup nya juga menyenangkan. Beda profesi, beda umur, beda pendidikan, dan banyak beda lainnya. Tapi kami semua memiliki satu kesamaan yaitu selalu mencari ridlo Allah dengan senantiasa berusaha memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat. Dan satu kesamaan ini sudah cukup untuk membuat kami selalu rindu untuk berjumpa.
===
“Kenapa PKS, Kenapa Bukan yang Lain?”
===
Kalau ada yang memiliki visi-misi yang sama, program pembinaan yang sama, dan rasa persaudaraan sesama anggotanya yang sama, saya mungkin mau coba. Tapi dari riset kecil-kecilan saya, nda ada tuh yang sama.
===
“Tapi PKS kan Eksklusif?”
===
Menurut saya PKS tidak eksklusif, tetapi kebanyakan orang sudah terlebih dulu termakan berita yang di ”racik” untuk menyudutkan PKS dan menerimanya tanpa mencari tahu. Coba deh silaturahmi ke PKS (di manapun), sambutan nya begitu hangat dan mesra. Mungkin adalah 1-2 yang kurang mesra, biasanya karena sedang ada isu domestik.
===
“Tidak Iri dengan Aleg PKS? Anda yang Kerja, Mereka yang Naik?”
===
Tidak sama sekali. Bahkan ketika mengkampanyekan mereka biaya nya kami ambil dari sebagian pendapatan kami sendiri. Kami pun tidak berharap mereka mengenal kami, apalagi berharap mengembalikan biaya-biaya kampanye untuknya. Kami bekerja untuk mencari ridlo Allah. Hidup di dunia ini hanya untuk memastikan bahwa Allah itu ridlo dengan kita, bukan yang lain.
===
“Apakah tidak Takut Kehilangan Pekerjaan dan Teman Kalau Terlihat “PKS”-nya?”
===
Saat ini saya bekerja sebagai dosen di sebuah universitas di Brunei Darusallam. Rizki (termasuk pertemanan atau memiliki sahabat yang baik) itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Saya memang tidak bisa mengaturnya, tapi saya punya kualitas dan etos kerja yang tinggi, yang dengan izin Allah, bisa mengantarkan saya kepada posisi yang saya memang layak untuk mendapatkannya. Jika tidak, maka seperti ungkapan Imam Al-Ghozali, “tidak ada yang lebih baik, daripada apa yang telah terjadi."
Saya yakin dengan visi-misi, kejujuran, kebersihan, dan profesionalisme PKS. Silakan di bandingkan dengan kontestan lain nya. PKS juga sudah punya pemimpin skala Nasional di beberapa provinsi. Silahkan bandingkan dengan hati yang ikhlas dengan pemimpin-pemimpin dari parpol yang lain. Dan jika semua ini adalah kebaikan, kebaikan untuk negara, bangsa, dan agama, kenapa saya harus malu? dan tidak ada undang-undang yang menghalangi saya untuk berbuat itu.



0 Komentar