Dialog Guru-Murid di Hari Ibu dan Semangat BPKK PKS



"Saya memanggilnya Mamah. Beliau terdepan berjuang untuk keluarga. Mengasuh empat anak lelaki yang bandelnya minta ampun dan berbakti kepada suami. Ketika Papah sakit kronis karena diabetes dengan sabar Mamah mendampingi serta merawatnya. Bahkan ketika Papah meninggal, Mamah maju ke depan mengambil alih peran pencari nafkah. Hanya satu yang dipikirkan. Anaknya bahagia dan tercukupi kebutuhannya."


"Teriring doa untuk Mamah dan semua Ibu semoga senantiasa dibimbing hidayah dan diberi kelimpahan rezeki barokah serta husnul khotimah. Aamiin Allahumma aamiin," ungkap Ahadiyat, yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah di daerah Jakarta Timur, Rabu (22/12/2021).



"Selamat hari ibu bunda, aku harap bunda selalu mendukungku kemanapun aku pergi asal itu baik, makasih bunda sudah menjadi ibu yang baik buat aku dan kakak kakak, selalu berusaha untuk tetep kuat walau aku tahu kadang bunda rapuh dan tidak pernah menunjukan itu ke aku dan kakak-kakak."


"Terima kasih bunda sudah melahirkanku menjadi anak yang baik dan dewasa walau kadang aku sendiri masih kurang dewasa, aku berharap bunda selalu sehat hingga aku sampai nanti menikah dan punya anak, love you bunda," ungkap Meuthia, seorang siswa, di lingkungan sekolah yang sama. 


###


Dari dua kisah di atas membuktikan bahwa Ibu, Mamah, Bunda adalah orang teristimewa di hati setiap jiwa yang lahir dari rahimnya.


Begitu istimewanya Nabi kita mengatakan dalam haditsnya:


 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »


Artinya: Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, "Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?" Beliau mengatakan, "Ibumu." Dia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau mengatakan, "Ibumu." Dia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau mengatakan, "Ibumu." Dia berkata lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau mengatakan, "Ayahmu." (HR Bukhari dan Muslim).


Kemuliaan seorang Ibu dari hadits Nabi menjelaskan bahwa peran dan sumbangsih Ibu dalam menjaga ketahanan keluarga yang dididik dan diasuhnya amatlah besar.


Dalam Pendidikan Islam Ibu menyandang predikat "Ma'had Murobiyatul Al Awlad" sebagai pendidik utama keluarganya. Peran mulia ini menjadi tolak ukur perubahan sebuah peradaban dimulai dari pendidikan keluarga yang di dalamnya terdapat peran Ibu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.


Momentum 22 Desember yang dirayakan menjadi sebuah penghargaan yang layak diterima oleh para Ibu, walau bagi mereka ucapan ini mungkin saja berlebih bahkan asing di telinganya. Ya, bagaimana tidak asing, para Ibu menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk keluarga, suami, mertua dan anak-anaknya. Tak cukup bagi mereka meluangkan sedikit waktu untuk dirinya, karena banyak dan sedikit waktu adalah sebuah dedikasi seumur hidup atas peran Ibu yang disandangnya.


Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPP PKS melihat betapa pentingnya peran wanita salah satunya sebagai Ibu, maka dengan mengusung visi PKS 2020 - 2025 "Menjadi Partai Islam rahmatan lil 'alamin yang Kokoh dan Terdepan dalam Melayani Rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada aspek penguatan peran perempuan dan ketahanan keluarga."


Kerja BPKK 2020-2025 didukung oleh 4 pilar yakni ketahanan keluarga, penguatan paradigma ketahanan keluarga, peningkatan kapasitas dan penokohan anggota perempuan PKS serta optimalisasi hubungan kelembagaan perempuan.


BPKK meyakini bahwa penguatan peran perempuan PKS harus dibangun atas dua dimensi peran, yaitu peran asasi sebagai istri dan ibu serta peran perluasan sebagai anggota masyarakat yang memiliki kewajiban menyuarakan kepentingan politik perempuan.


Berdasarkan Visi tersebut, tegas sudah bagaimana peran seorang Ibu dalam menjaga ketahanan keluarga sebagai sebuah pilar bangsa yang kelak melahirkan generasi Indonesia yang unggul. 



Jakarta, 22 Desember 2021


Bun Wiet, Reli Jakarta

Posting Komentar

0 Komentar