Amat masih merengut memandangi badan dan pakaiannya yang basah kuyup.
"Maksud ane berdoa biar dapet kerjaan yang gajinya gede. Bukan basah begini." kata Amat.
Kisah sebelumnya: Amat Berdoa Pengen dapat Kerjaan di Tempat Basah
Imat masih nyengir. "Ya udah. Rejeki ente baru basah begini. Ikhlasin aja kerjaan yang tadi."
"Astaghfirullah, Amat!" tetiba terdengar suara keras. Rupanya Haji Murat datang. "Kalo mandi di kamar mandi. Jangan di sini!"
Imat segera menyampaikan informasi kejadian tadi agar Haji Murat tidak terus marah.
"Oooo gitu. Kerannya udah ente ganti?" tanya Haji Murat kepada Amat.
"Uu..uudah, Pa Haji" jawab Amat antara setengah takut dan setengah kedinginan.
"Ente ganti baju sana," perintah Haji Murat kepada Amat sambil mengeluarkan dompetnya. Diambilnya selembar uang duapuluh ribuan dan disodorkannya kepada Amat. "Sekalian beli sarapan buat ente sama Imat."
Amat jadi nyengir dan segera menyambar uang itu. Dia bergegas hendak pulang mengganti baju. "Im, ane berangkat dulu. Tolong keringin ubin yang basah, yak." pinta Amat. Dia lalu menambahkan sambil nyengir menggoda, "Yang ikhlas kerjanya."
Tapi saat itu juga dia lihat Haji Murat mengeluarkan selembar duit limapuluh ribuan dari dompetnya. Dikiranya bakal ada tambahan, Amat menghentikan langkahnya.
Gak tahunya duit itu disodorkan Haji Murat kepada Imat. "Nanti kalo matrial udah buka, tolong beliin keran lagi buat cadangan. Sekalian selotipnya yak."
Imat menerima uang itu. "Siap. Insyaa Allaah Pak Haji. Tapi duitnya gede banget. Masih banyak kembaliannya, Pak Haji."
Haji Murat tersenyum, "Kembaliannya buat ente aja, Im."
"Alhamdulillaah..." Imat menerima duit itu dengan penuh keikhlasan. Sementara Amat cuma bisa ngiri.
=o0o=
"(Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun." (Al Mulk : 2)
=o0o=
Imat mengantongi uang pemberian Haji Murat lalu bergegas ke belakang hendak menyiapkan peralatan buat mengeringkan genangan air di serambi.
Amat bukannya bergegas berangkat, malah kembali ke arah serambi. Rupanya dia hendak melobi Haji Murat.
"Pak Haji," panggilnya.
"Lha, ente masih di sini. Bukannya buruan ganti baju trus beli sarapan" Haji Murat udah mulai mau emoji, eh, emosi.
"Bentar dulu, Pak Haji. Ane cuma mau ngasih tahu. Tadi ane sampe basah kuyup begini karena berjibaku ganti keran. Soalnye patahnya pas banget di ujung drat."
Haji Murat cuma mengangguk-angguk. "Iye. Trus, ape?"
"Nah, berarti Pak Haji bisa lihat, kan. Ane nih berdedikasi tinggi sama kerjaan. Ulet. Pantang menyerah. Udah gitu hasil kerjaan rapi" Amat ga tanggung-tanggung promosiin dirinya sendiri. "Boleh dong, kapan-kapan ane dikasih kerjaan yang rada bagusan bayarannya." Amat menutup promosinya.
"Sebentar," kata Haji Murat. "Soal basah kuyup, ane udah lihat. Tapi soal hasil kerjaan mesti dicek dulu."
"Nah, silakan deh, Pak Haji lihat sendiri," Amat mempersilakan dengan hati penuh harapan.
Haji Murat segera bangkit dari duduknya lalu berjalan tegap ke arah tempat wudhu. Tapi tiba-tiba, "Adduhh!" Haji Murat berteriak. Kaki kanannya setengah diangkat. Dia terpincang-pincang. Rupanya kakinya tersandung sesuatu.
Haji Murat melihat ke bawah. Baru disadarinya ada kotak peralatan di sana. "Kerjaan siape, nih, naro kotak peralatan di tengah jalan!"
Tak ada yang menjawab, karena Amat keburu kabur.
=o0o=
Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya “Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya” (HR Al Bukhari)
=o0o=
Mas Toto


0 Komentar