Viralisme, Akan Kemana Masyarakat Digital ini Berujung?



Oleh: Abdul Rasyid 


Ada satu kalimat yang saat ini menjadi impian setiap orang, jika ingin cepat dan kilat menjadi “sultan”, kaya raya, dan terkenal sejagad, yaitu viralkan dirimu, karyamu bahkan aibmu. Mem-viral-kan sesuatu benar-benar telah menjadi buruan setiap orang, sehingga banyak cerita yang telah terlihat di media dari upaya mengejar konten hingga rela kehilangan nyawa terlindas mobil tronton karena ingin membuat konten yang viral. 


Inilah paradoks eksistensial dunia digital. Masyarakat digital seolah terhinggapi sebuah kesadaran baru yakni viralisme. Dimana jika ingin bertahan hidup dalam dunia digital maka mem-viral-kan adalah sebuah jalan kebahagiaan, kegembiraan dan prestasi tersendiri. Jika tidak viral maka seolah dihinggapi rasa ketidakberdayaan, kehampaan bahkan dianggap tidak ada. 


Viralisme ini sudah masuk ke seluruh sendi kehidupan sosial, budaya dan juga politik. Jumlah subscribe, jempol, like dan share menjadi rebutan untuk saling mengalahkan. Bahkan jumlah rekaan dunia maya tersebut menjadi penentu gerak dunia nyata. Maka tak heran jika dalam merumuskan sebuah gerak dunia nyata (kebijakan dan keputusan) selalu diikutkan rincian prediksi viralnya rencana tersebut. 


Jika demikian adanya, maka akan kemana masyarakat digital ini berujung? Apakah akan ada kondisi baru yang bisa disebut dengan dunia viralitas? Dan yang bagaimana pula ciri masyarakat viralitas tersebut? 


Memang belum banyak yang bisa dilakukan untuk memprediksi akan kemana viralisme membawa manusia digital ini akhirnya. Namun setidaknya fenomena viralisme ini memperlihatkan gejala sosial yang ada, diantaranya yakni konten-konten viral yang tak bermutu terkadang lebih dominan terakses sehingga orang berlomba untuk melakukan rekaan, rekayasa dan bahkan memanipulasi citra agar bisa semakin viral. 


Hal ini tentu secara perlahan bisa menggeser nilai-nilai sosial yang sudah lama mapan dan membentuk kultur yang ada. Pengaburan antara yang nyata dan rekaan (citra) sudah semakin kuat dalam dunia viralisme. Dulunya karakter sosial yang dibangun dengan bertahap dan lama (karena membutuhkan waktu untuk menciptakan kepercayaan), maka hari ini hal tersebut bisa lebih cepat dengan modal konten yang viral. 


Kelas Sosial Baru

Ukuran benar dan salah dalam viralisme lama kelamaan akan ditentukan oleh jumlah penikmat kontennya. Para penikmat konten viral menjadi penentu baik buruknya sesuatu. Nilai ditentukan oleh penikmat dan pembuat konten akan berupaya memenuhi selera penikmat. Bahkan alur ini bisa menjadi terbalik dimana pembuat konten akan membentuk kluster penikmat tertentu. Yang ujungnya bisa dikatakan bahwa kondisi viralitas akan membentuk kelas-kelas sosial baru sesuai dengan selera masing-masing. 


Inilah gambaran dunia viralisme yang ada hari ini. Begitu besarnya pengaruh era digitalisasi dewasa ini, yang telah merasuk sampai ke ruang privasi. Dan bisa jadi tulisan ini juga punya maksud tersembunyi yaitu untuk bisa menjadi viral. 

Tapi entahlah ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


#


Penulis adalah Ketua DPD PKS Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah

Posting Komentar

0 Komentar