Pembangunan yang Menyilaukan

PKSFoto/Kang Dudi


Ketika berjalan di sebuah kota besar, di sana kita akan melihat keindahan estetika bangunannya kala terpapar sinar matahari maupun riuhnya kilatan lampu di malam hari. Belum lagi fasilitas umum yang sengaja disiapkan untuk membuat nyaman setiap orang yang singgah di sana, hingga merasa nyaman seperti berada di rumah sendiri, dan bahkan terdapat fasilitas penunjangnya yang dapat memenuhi segala hasrat keinginan kita agar tercapai kepuasan diri. Begitu juga dukungan kemajuan teknologinya yang dapat meningkatkan efektivitas dari setiap kegiatan yang dilakukan.


Mungkin begitu gambaran sebuah negara maju yang kita harapkan. Kita mengharap dengan adanya kesiapan infrastruktur maka otomatis akan meningkatkan kinerja setiap individunya. 


Lalu, “Di manakah kedudukan manusia dalam sebuah pembangunan; sebagai sumber hadirnya kejayaan atau malah menjadi tujuan pembangunan itu sendiri?”


Sejarah akan menjadi sumber otoritatif untuk dijadikan rujukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Bahkan dapat menjadi jawaban bagi setiap detail permasalahan yang ada, sebagaimana Alquran—yang sepertiga isinya berisikan kisah sejarah—dan Sirah Nabi yang telah banyak bekerja dalam menyukseskan generasi setelahnya. 


“Dahulu kami diajarkan maghazi (Sirah Nabi) sebagaimana kami diajarkan ayat Alquran,” Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.


Dulu, kesuksesan itu diperjuangkan dengan mengubah manusianya terlebih dahulu. Karena sebelum berbicara bagaimana agar Islam bisa tersebar secara masif, lebih dahulu Rasulullah ﷺ mempersiapkan para sahabatnya yang siap memperjuangkan Islam hingga kini nikmat iman masih bisa kita rasakan. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatim-mush-shalihat.


Jika bertanya bagaimana cara membangun fisik bangunan yang kokoh, tentu kita lebih dahulu membutuhkan siapa yang dapat membangunnya. Tidak bisa bila kita hanya berbicara perihal detail struktur bangunan dan menafikan tentang bagaimana kualitas pekerja yang hendak membangunnya. Karena sehebat apa pun ide gambar rancangan yang dituangkan, tak akan pernah bisa dirasakan kehebatannya jika kualitas pekerja tak diperhatikan. Sedangkan apabila hanya mengedepankan kualitas tanpa dibarengi keimanan yang baik, kerusakan masih akan terjadi seperti hendak membangun sebuah kantor selayaknya hotel bintang lima dengan mengorbankan lahan terbuka hijau yang kedudukannya cukup vital sebagai area resapan air hujan yang paling efektif. Oleh karena itu, pembenahan sektor manusia yang hendak dikedepankan, utamanya kebersihan imannya.


“Islam sukses dengan cara menutupi puing-puing kondisi jahiliahnya, bukan dengan menghilangkannya. Apabila kejahilan itu telah hilang secara total, seharusnya tidak ada lagi manusia yang hidup semasa dengan Rasulullah ﷺ tetapi ia tetap tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” demikian yang disampaikan oleh guru kami. Sebab memahami kejahilan adalah sama dengan memahami sesuatu yang dilarang agama untuk kita jauhi, termasuk meninggalkan sesuatu yang lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya sembari memperbanyak ibadah guna mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Inilah bentuk implementasi ketaatan kita yang berupa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Islam dapat maju karena ilmu pengetahuan. Dulunya para ilmuwan Islam menggali ilmu pengetahuan Yunani, Persia, dan India yang kemudian dicelupkan dengan nilai-nilai qurani. Maka meninggalkan nilai-nilai Islam dalam upaya membangun negara jelas sebuah kemunduran.


Tidak ada kesuksesan melebihi capaian generasi terbaik umat Islam, generasi para sahabat Rasulullah ﷺ. Silaunya cahaya kebenaran telah menginspirasi para penerusnya untuk memperluas wilayah kekuasaan demi mensyiarkan agama Islam. Patut kita ingat bersama pesan Rasulullah ﷺ (HR. Ibnu Hibban) kepada sahabatnya—yang semasa hidupnya sampai akhir hayatnya begitu radikal (re: revolusioner) dalam mengingatkan para sahabat hingga para penguasa—Abu Dzar al-Ghifari, “Sesungguhnya kekayaan yang hakiki adalah kayanya hati, dan kemiskinan yang hakiki adalah miskinnya hati.” 


Jiwa yang optimis adalah modal yang baik dalam melakukan sebuah pembangunan peradaban yang maju. Akan tetapi optimis saja masih belum cukup, membentuk manusia yang beradil dan beradab perlu diperjuangkan agar tujuan serta manfaat pembangunan itu dapat dirasakan seluruh elemen masyarakat. 


Penggalan lirik dari salah satu lagu nasional kita pun turut mengaminkan bahwa pembangunan yang menyilaukan hendaknya dimulai dari jiwanya, “Bangunlah jiwanya! Bangunlah badannya! Untuk Indonesia Raya.”

Oleh: Maulana Helmi W. – Malang


Posting Komentar

0 Komentar