Untuk Ibu di Flores yang Menunggu Bantuan



Ada pemandangan dari sebuah bencana yang sulit dilupakan.

 

Seorang ibu duduk di antara puing-puing rumahnya. Wajahnya kusut oleh debu dan air mata. Di sampingnya, seorang anak menggigil di bawah tenda seadanya. Tidak jauh dari sana, seorang bapak menatap langit. Entah sedang berdoa, entah sedang bertanya kepada Tuhan:

 

“Sampai kapan kami harus menunggu?”

 

Di tempat seperti itu, rakyat tidak membutuhkan pidato. Tidak membutuhkan baliho.

Tidak membutuhkan seremoni.

 

Mereka hanya membutuhkan pertolongan.

 

Mereka membutuhkan makanan ketika dapur sudah tidak bisa mengepul. Mereka membutuhkan air ketika persediaan habis. Mereka membutuhkan obat ketika tubuh mulai sakit. Mereka membutuhkan selimut ketika malam datang membawa dingin.

 

Dan yang paling mereka butuhkan adalah satu perasaan sederhana:

 

Bahwa mereka tidak ditinggalkan.

 

Di tengah situasi itulah muncul sebuah cerita yang menarik perhatian.

 

PKS bergerak dengan struktur, kader, satgas bencana, bantuan dana, dan relawan. Partai ini juga mengumumkan penghimpunan bantuan 1 miliar rupiah melalui pemotongan sebagian gaji anggota Fraksi PKS DPR RI serta menyiapkan relawan untuk membantu asesmen, medis, penyelamatan, dan tanggap darurat.

 

Salut.

 

Bukan berarti PKS harus selalu benar.

 

Bukan berarti PKS tidak pernah punya kekurangan.

 

Dan bukan pula berarti setiap gerakan politik harus diberi tepuk tangan.

 

Tetapi dalam sebuah bencana, ukuran kepedulian sesungguhnya bukan seberapa bagus seseorang berbicara di depan kamera.

 

Ukuran kepedulian adalah seberapa cepat ia hadir ketika orang lain sedang kehilangan segalanya.

 

Dan dalam urusan itu, kerja kemanusiaan patut dihargai. Sebab rakyat tidak sedang bertanya:

"Partainya apa?"

 

Rakyat sedang bertanya:

 

“Siapa yang mau membantu kami?”

 

Di sinilah pemerintah harus bercermin.

 

BNPB dan pemerintah tentu bergerak. Bantuan juga telah disalurkan secara bertahap. Tetapi negara tidak boleh berhenti pada angka-angka laporan. Pemerintah harus mau mendengar suara warga di lapangan.

 

Kunjungan Sekjen PKS Muhammad Kholid ke Flores NTT

Sebab warga tidak makan laporan pertanggungjawaban. Warga tidak tidur di atas tabel anggaran.

Warga tidak bisa menghangatkan tubuh dengan spanduk dan konferensi pers. Mereka membutuhkan sesuatu yang nyata.

Karena itu, ketika kebutuhan warga jauh lebih besar daripada bantuan yang tiba, pertanyaan seorang koordinator warga menjadi sangat sederhana:

 

“Lalu sisanya dari mana?”

 

Kalimat pendek. Tetapi berat.

Karena di baliknya ada keluarga yang lapar. Ada anak yang menunggu makanan. Ada orang tua yang membutuhkan obat. Ada rumah yang sudah tidak bisa ditempati.

 

Dan ada rakyat yang sedang bertanya-tanya:

 

Apakah negara benar-benar melihat kami?

 

Pertanyaan itu jangan dianggap sebagai kebencian kepada pemerintah. Justru sebaliknya.

Kritik rakyat adalah alarm agar negara tidak kehilangan rasa.

 

Sebab ironinya, pada saat rakyat sedang menghitung berapa bungkus makanan yang tersisa, publik juga melihat begitu banyak perdebatan tentang prioritas anggaran negara.

 

Pengadaan merpati untuk rangkaian kegiatan kenegaraan, misalnya, menjadi sorotan karena nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Program Makan Bergizi Gratis memiliki anggaran ratusan triliun rupiah. Belum lagi berbagai program pembangunan dan belanja negara lainnya.

 

Semua tentu memiliki alasan. Semua tentu memiliki prosedur.

Semua bisa dijelaskan dengan bahasa birokrasi. Tetapi rakyat juga memiliki bahasa sendiri.

Bahasanya sederhana:

 

“Kalau untuk kegiatan negara uang bisa tersedia, mengapa ketika kami tertimpa bencana, kami harus menunggu?”

 

Inilah persoalan yang sesungguhnya. Bukan semata-mata soal merpati.

Bukan semata-mata soal kuda.

 

Bukan semata-mata soal perjalanan ke luar negeri. Bukan pula soal MBG atau program pemerintah lainnya.

 

Persoalannya adalah rasa keadilan dalam menentukan prioritas.

 

Sebab bagi orang yang sedang kehilangan rumah, seratus ribu rupiah bukan sekadar angka.

 

Itu beras.

 

Itu susu anak. Itu obat.

Itu air minum.

 

Itu makan untuk hari ini.

 

Maka ketika rakyat melihat negara mampu mengalokasikan anggaran begitu besar untuk berbagai kepentingan, tetapi korban bencana masih harus menunggu bantuan atau bahkan mengandalkan donasi, wajar bila muncul rasa getir.

 

Negara jangan sampai terlihat mewah ketika rakyat sedang sengsara.

 

Negara memiliki APBN. Partai memiliki kader.

Masyarakat memiliki solidaritas.

 

Dan ketika sebuah partai mampu menggerakkan kader serta relawannya turun membantu korban, itu seharusnya bukan membuat pemerintah tersinggung.

 

Itu seharusnya menjadi cermin.

 

Kalau relawan bisa bergerak cepat, negara harus bisa lebih cepat.

 

Kalau masyarakat bisa membuka donasi, negara harus mampu memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi.

 

Kalau kader partai bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu korban, pejabat negara pun semestinya menunjukkan empati yang bukan hanya terdengar dalam pidato, tetapi terlihat dalam tindakan.

 

Karena bencana tidak mengenal warna partai. Gempa tidak bertanya siapa yang memilih siapa. Tanah longsor tidak meminta kartu anggota.

Air mata seorang ibu tidak memiliki warna politik.

 

Di hadapan penderitaan rakyat, semua warna harus berhenti. Yang tersisa hanya kemanusiaan.

 

Maka kepada pemerintah, izinkan rakyat berbicara sedikit lebih keras.

 

Jangan hanya hadir sebagai negara di atas kertas. Hadirlah sebagai negara yang bisa dirasakan.

 

Dan kepada PKS, salut untuk kerja kemanusiaannya. Masyarakat berharap jangan berhenti di NTT.

Jangan biarkan kepedulian hanya menjadi momentum politik.

 

Jadikan kerja kemanusiaan sebagai tradisi pelayanan yang terus hidup, bahkan ketika kamera sudah pergi dan berita sudah berganti.

 

Dan semoga apa yang dilakukan PKS juga menjadi tamparan sehat bagi pemerintah, partai-partai lain, dunia usaha, dan kita semua:

 

bahwa membantu korban bencana bukan monopoli siapa pun. Sebab ketika rumah seseorang runtuh, yang dibutuhkan bukan warna. Ketika seorang anak lapar, yang dibutuhkan bukan slogan.

Ketika seorang ibu menangis, yang dibutuhkan bukan janji.

 

Yang dibutuhkan adalah tangan yang datang untuk mengangkatnya.

 

Pada akhirnya, rakyat mungkin lupa siapa yang paling banyak bicara. Rakyat mungkin lupa siapa yang paling sering tampil di televisi.

Tetapi rakyat tidak akan pernah lupa:

 

siapa yang datang ketika mereka kehilangan rumah, kehilangan harta, dan hampir kehilangan harapan.

 

Sebab dalam sebuah bencana, satu tangan yang benar-benar datang menolong,

 

jauh lebih berarti daripada seribu kata tentang kepedulian.

 

Dan kepada negara, satu pesan sederhana dari Flores:

 

Jangan biarkan merpati terbang lebih cepat daripada pertolongan untuk rakyat.

 

@PenaLegi

Posting Komentar

0 Komentar