oleh: Akiawan
Guru, di antara mu ada yang pergi justru paling awal. Kami sungguh tak ingin mendengar mereka yang sok bijak itu berujar: Allah lebih sayang padamu. Ini tidak adil, kami masih ingin bermanja dengan lembut tuturmu, menakjubkannya lakumu, tingginya ilmumu, serta fikiranmu.
Kisahmu dapat terus kami baca, kami dengar ceritanya dari mereka yang langsung mengenalmu. Rekaman-rekamanmu dapat kami tonton ulang. Pemikiran-pemikiranmu dan diksi-diksi indahmu dapat kami baca berjuta kali. Namun, tetap kehadiranmu yang kami rindukan—perasaan bahagia bahwa kau masih ada di sini bersama kami, yang akan kami nantikan berjumpa denganmu di pertemuan depan, yang kami nantikan tulisanmu di edisi depan—itu tak dapat terganti.
Meski di penghujung hari, kami tetap harus sadar, bangkit, menyeka air mata, dan menjalankan nasihat-nasihatmu tentang ikhlas, tentang mengikhlaskanmu.
Lalu, sahabat pun pergi. Seribu kenangan cengkerama bersamamu, gulita malam berteman bambu bendera, debat penuh retorika. Kami tahu kau mencintai kami; kesadaran akan itu sungguh membahagiakan bagi kami.
Tapi tetap saja, cintamu pada kami tak menghalangi Sang Maha Pemilikmu memanggilmu, menyisakan pilu yang begitu sembilu, mengantarmu pergi itu.
Duhai Allah, tak lama setelah itu, Kau panggil lagi sahabat kami yang lainnya. Belum pulih luka di dada kami, Kau malah menambah ujiannya dengan yang lain. Tersungkur, lemas nian kaki kami kala itu, tak dapat lagi kami berdiri.
Namun, di penghujung hari, kami tetap harus menyerah pada lelah; terlarunglah sedih dalam gulita.
Tapi esok, kami akan bangun lagi dengan kenyataan bahwa di dunia ini sudah tak ada lagi engkau, engkau, dan engkau—guru, ayah, sahabat. Mereka yang masih sangat kami ingat senyum hangatnya, yang masih sangat kami ingat deru semangatnya, serta masih sangat kami ingat lembut pedulinya.
Duhai Allah, jika tak cukup mulia kami terkategori seperti mereka, kiranya beri ganti kami yang seperti mereka yang itu. Para guru, para sahabat, sosok ayah, ibunda, mereka yang bagai malaikat di kehidupan kami. Sebab barisan kami ini, hingga kapan pun, mutlak butuh energi dari yang seperti mereka.


0 Komentar