Oleh: Ngesti Wihayu
Kebanyakan masyarakat Indonesia mengenal Raja Ampat sebagai salah satu wishlist akhir tahun mereka. Surga dunia yang Tuhan ciptakan untuk dikagumi. Meski demikian tidak banyak khalayak yang tahu akan kehebatan di Raja Ampat selain keindahan baharinya. Raja Ampat memiliki perempuan-perempuan hebat yang mendedikasikan diri tidak hanya untuk keluarganya, namun juga untuk masyarakatnya berlandaskan rasa tulus dan kehangatan cinta.
Tagline inspiratif ini digaungkan dalam Pelatihan Perempuan Siaga yang diinisiasi oleh Bidang Pembinaan dan Kaderisasi (Bipeka) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Papua Barat Daya. Menghadirkan 84 perempuan tangguh dari Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Sorong Selatan, hingga tuan rumah Raja Ampat, agenda ini seakan meruntuhkan stigmatisasi kepada perempuan yang selalu dianggap tidak memiliki keterlibatan pada ranah poitik praktis.
Saya menangkap salah satu point yang cukup krusial dari penyampaian pesan ketua DPW PKS Papua Barat dalam sambutannya mengatakan bahwa acara LATANSA ini bukan sekedar kemah pada umumnya. Namun, Syaiful Maliki Arief dengan tegas menyatakan bahwa anggapan perempuan sebagai "kanca wingking"—istilah tradisional yang menyempitkan peran domestik perempuan hanya di wilayah dapur dan belakang layar tidak selayaknya dipandang sebagai sebuah nilai mutlak. PKS mencoba memformulasikan keterlibatan perempuan pada komunitas-komunitas di lingkungan tempat tinggalnya, tempat kerjanya dan lebih dari itu PKS memberikan ruang kepada perempuan-perempuan hebat untuk mengambil langkah di legislatif.
Apa yang disampaikan tadi menjadi satu hal menarik dimana PKS membuka ruang berkiprah kepada perempuan, namun juga PKS memberikan bingkai kepada seluruh kader perempuannya untuk tetap menjalankan peran krusial dalam membangun fondasi negara melalui pengarusutamaan keluarga."
Di era modern ini, memosisikan perempuan sebagai pilar utama keluarga bukanlah bentuk pembatasan, melainkan sebuah pengakuan taktis. Menjadi pendidik utama bagi generasi masa depan dan menjadi support system terbaik dalam perjuangan kemasyarakatan adalah bentuk kepemimpinan yang riil. Fondasi negara yang kuat tidak dimulai dari podium parlemen, melainkan dari meja makan dan ruang tamu di setiap rumah.
Ketahanan Nasional Berbasis Keluarga
Hal menarik lainnya dari pelatihan ini adalah pendekatan praktis yang diadopsi. PKS tidak sekadar memberikan doktrin politik normatif, melainkan membekali para peserta dengan instrumen bertahan hidup dan kepemimpinan yang konkret melalui kolaborasi multi-sektor.
Melibatkan TNI AD untuk latihan kedisiplinan (LBB), Dinas Kesehatan untuk simulasi P3K, hingga Dinas Pemadam Kebakaran untuk mitigasi bencana, menunjukkan sebuah visi yang utuh: perempuan siaga adalah perempuan yang berdaya secara mental dan fisik.
Ketika seorang perempuan menguasai mitigasi bencana dan penanganan medis darurat, ia sedang menyelamatkan komunitas terkecilnya. Ini adalah esensi dari ketahanan nasional yang berbasis pada ketahanan keluarga.
Politik Humanis yang Mengakar
Di tengah arus politik hari ini yang sering kali terjebak dalam pragmatisme hidup, narasi "Memimpin dengan Cinta" yang dibawa DPW PKS Papua Barat Daya ini terasa seperti oase. Cinta disini tidak dimaknai untuk menunjukkan kelemahan, melainkan sebuah kekatan yang dapat menggerakkan dan terus memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman tanpa pamrih.
Antusiasme 84 peserta di Pantai Saleo membuktikan bahwa formula politik yang menyentuh sisi humanis dan program partai yang aplikatif jauh lebih dibutuhkan masyarakat ketimbang janji-janji di atas kertas. Peserta yang berusia pada rentang 18 tahun hingga 59 tahun ini tidak hanya pulang membawa sertifikat, tetapi membawa modal sosial sebagai pelopor kebaikan di daerah masing-masing.
Dari PKS Papua Barat Daya, kita belajar bahwa reformasi politik bisa dimulai dari yang paling dekat dengan kehidupana sehari-hari. Dan ketika 84 perempuan hebat tadi kembali ke rumah hangatnya masing-masing, mereka tidak hanya berjalan di belakang, namun mereka akan bisa menjadi pendamping yang sangat hebat sekaligus menjadi pemimpin untuk diri, anak dan lingkungannya tanpa menanggalkan peran utama mereka sebagai istri dan ibu.


0 Komentar