Satu Lingkaran Usai, Seribu Ikatan Tertinggal



oleh: Iki Abdul Mulki Aziz

UPA atau Unit Pembinaan Anggota di Partai Keadilan Sejahtera bagi sebagian orang mungkin hanya sekadar agenda rutin. Pertemuan mingguan, beberapa jam, lalu selesai. Tapi bagi saya, UPA bukan sekadar itu. Ia seperti tempat pulang. Tempat memperbaiki diri, menahan hal-hal negatif dalam diri, sekaligus tempat menumbuhkan kembali kebaikan yang kadang mulai melemah.


Bagi saya pribadi, UPA adalah salah satu penyelamat masa muda. Karena sejak awal saya selalu berusaha menjaga diri untuk tetap berada di dalam lingkaran UPA, di mana pun saya berada. Di tengah berbagai godaan dan arah hidup yang bisa saja melenceng, UPA menjadi penjaga ritme, pengingat arah, dan alasan kenapa masa muda ini bisa tetap terjaga.


Saya adalah seorang perantau dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Perjalanan hidup membawa saya ke beberapa tempat. Tahun 2021 ke Maros, Sulawesi Selatan. Tahun 2022 ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Lalu tahun 2023 saya kembali ke Sulawesi Selatan tepatnya di Makassar, dan di tahun yang sama Allah mempertemukan saya dengan jodoh dari Bulukumba, salah satu daerah terujung di provinsi yang sama. Saat ini saya tinggal di Makassar, bersama istri dan anak tersayang.


Mungkin bagi sebagian orang, berpindah-pindah seperti ini hal biasa. Tapi bagi saya, ini perjalanan yang punya makna. Ada satu kebiasaan yang selalu saya lakukan setiap tiba di tempat baru. Hal pertama yang saya cari bukan tempat nongkrong atau pusat keramaian, tapi di mana kantor DPD PKS terdekat. Setelah itu saya menunggu, bahkan tidak sabar, untuk bisa kembali ikut UPA dari mutasi tempat sebelumnya.


Karena di situlah saya merasa tetap terhubung.


Saya lahir dari keluarga yang sangat dekat dengan dakwah. Ibu dan ayah saya adalah seorang murabbi/ah. Di lingkungan kami, keduanya juga dikenal sebagai tokoh masyarakat, punya jadwal rutin untuk mengisi kajian islami di masjid dan madrasah setempat. Waktu kecil, saya sering ikut ibu dan ayah mengisi UPA di tempat yang cukup jauh. Bahkan bisa beberapa kali dalam sepekan.


Suasana rumah waktu itu sangat kental dengan nuansa dakwah. Setiap pagi terdengar dari Tape lantunan nasyid dengan lirik-lirik perjuangan yang menggugah jiwa, dari Izzatul Islam, Shoutul Harokah, Maidany dan lainnya. Identitas itu terasa di mana-mana. Stiker PKS tidak hanya ada di rumah, tapi juga menempel di baju, helm, motor, dan berbagai hal lainnya.


Sebagai anak bungsu, saya tumbuh melihat kakak-kakak saya lebih dulu menapaki jalan ini. Mereka juga disekolahkan di Sekolah Islam Terpadu, dan setelah menikah, bahkan ada yang menjadi Ketua DPC PKS di tempat domisilinya masing-masing. Lingkungan ini membentuk saya tanpa banyak kata.


Tahun 2010 ibu saya wafat. Waktu itu saya masih belia. Saya ingat betul bagaimana banyak orang merasa kehilangan. Dan bagi saya sendiri, itu adalah kehilangan yang sangat dalam. Mungkin dari situlah muncul dorongan setelah lulus dari pesantren untuk merantau dan melanjutkan perjalanan hidup, sambil tetap membawa nilai-nilai yang sudah ada.


Kembali ke UPA.


Kalau bicara soal ilmu, mungkin tidak terlalu banyak yang didapat secara mendalam. Karena waktunya terbatas, hanya sekali sepekan dan beberapa jam saja. Tapi ternyata bukan itu yang paling saya cari.


Yang saya dapat adalah kehangatan.


Sebelumnya kami bukan siapa-siapa. Tidak saling kenal satu sama lain. Tapi dalam lingkaran itu, perlahan tumbuh rasa yang sulit dijelaskan. Duduk bersama, membaca Alquran, mendengar materi KKP dan taujih murabbi, berbagi cerita kehidupan di qadaya rawa'i. Semua terasa sederhana tapi punya dampak besar.


Sering kali datang ke UPA dalam kondisi lelah, iman terasa turun, bahkan kadang malas. Tapi pulangnya selalu berbeda. Ada semangat baru. Lebih ringan. Lebih siap untuk beribadah, bekerja, dan menjalani aktivitas. Seorang teman pernah mengatakan, UPA itu seperti charging iman. Dan saya sangat merasakan itu. Datang dalam kondisi low, pulang dengan baterai yang kembali terisi.


Kadang kami juga harus menyesuaikan waktu. Tidak selalu di hari yang sama. Bahkan pernah UPA berlangsung sampai lewat tengah malam, melewati jam 12, karena kondisi tertentu. Tapi justru di situ terasa kesungguhannya.


Tempatnya pun tidak selalu di satu lokasi. Kami bergiliran dari rumah ke rumah. Kadang jika yang mendapat jadwal di rumah sedang berhalangan, kami berpindah ke kantor DPD. Di setiap pertemuan, selalu ada hidangan yang disiapkan. Sederhana, tapi penuh rasa kebersamaan yang tidak bisa dibeli.


Mungkin ini yang disebut keberkahan.


Dalam hadits disebutkan bahwa majelis yang di dalamnya dibacakan Alquran akan dinaungi malaikat, diliputi rahmat, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk-Nya yang mulia. Saya tidak tahu apakah kami termasuk di dalamnya, tapi yang saya rasakan memang ada ketenangan yang tidak biasa setiap kali UPA berlangsung.


Dan tanpa terasa, perjalanan dalam satu lingkaran UPA ini sampai pada fase pergantian.


UPA kami dimulai tanggal 24 Mei 2025, dan hari ini 15 April 2026 menjadi pertemuan terakhir dalam formasi ini. Hampir satu tahun bersama.


Bersama pembina kami Ust. Muhammad Shafir Gora, dan teman-teman Abdul Aziz Anwar, Ranto Ari Pratama, Sarwandi Eka Sarbini, Daris Lulang, Miftah Farid, Ahmad Dhiya Ulhaq, dan saya sendiri Iki Abdul Mulki Aziz, kami melewati banyak momen.


Dari berpindah tempat UPA, menghadapi hujan tapi tetap berusaha hadir, sampai obrolan-obrolan sederhana yang justru membuat kami semakin dekat.


Kami datang dari latar belakang yang berbeda, tapi dipertemukan dalam satu tujuan yang sama, ingin menjadi lebih baik.


Di PKS, pergantian grup UPA seperti ini adalah hal yang wajar. Bagian dari proses kaderisasi yang terus berjalan. Bukan berakhir, tapi justru melanjutkan perjalanan dengan suasana yang baru.


Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih.


Kepada pembina kami yang telah membersamai dengan kesabaran dan kehangatan. Dan kepada teman-teman UPA yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Terima kasih atas kebersamaan, cerita, dan pelajaran hidup yang mungkin tidak selalu tertulis, tapi sangat terasa.


Semoga Allah menjaga langkah kita semua.


Dan semoga kita tetap dipertemukan, di jalan yang sama, dalam tujuan yang sama.

Posting Komentar

0 Komentar