![]() |
| Foto ilustrasi oleh AI |
oleh: Azwar Tahir
Suatu tempo, Rahmah, seorang kawan yang diamanahi duduk di DPRD menghubungi Tanto. Rahmah minta referensi bantuan pemerintah untuk komunitas literasi. Tanto memang penggerak literasi di kampungnya. Pernah, Tanto sukses mendampingi muridnya menulis novel setebal 350 halaman. Tema fantasi berbau militer. Pernah juga, Tanto membina murid lain hingga terpilih jadi Duta Baca Pelajar tingkat kabupaten.
Dulu Tanto, pada kawannya Rahmah, memang pernah mengirimkan contoh sebuah komunitas literasi yang mendapatkan bantuan berupa sekretariat tempat berkegiatan di dalam gedung milik pemerintah. Dipikir-pikir bagus juga. Karena ruangan gedung pemerintah bisa jadi ada yang bisa "dititipkan" ke komunitas. Daripada kosong, daripada nganggur atau terpakai sih tapi tidak subtantif amat. Tentu bila komunitas tersebut punya track record kontributif. Kira-kira begitu di minda Tanto.
Tapi, pada Rahmah, Tanto sampaikan insight lain. Daripada sekretariat, dia lebih pilih aktivisi literasi. Apa pula itu? Memang sekretariat bagus jika dimiliki komunitas literasi. Tapi apa artinya fasilitas sekretariat jika sepi kegiatan? Toh, bagi komunitas literasi kegiatan bisa dilakukan di tempat-tempat umum. Bisa juga izin berkegiatan di Perpustakaan Desa misalnya. Jadi meski sekretariat bagus, tapi secara esensi bukan prioritas. Begitu di minda Tanto.
Maka secara tidak langsung, Tanto mendorong kawannya, Rahmah, yang Anggota Dewan tersebut untuk mengupayakan agar kontestasi Duta Baca digelar kembali. Dan tak sampai di situ, Tanto menitipkan asa agar Duta Baca terpilih nantinya diaktivasi, diberikan rangkaian kegiatan yang pada ujungnya menyemarakkan budaya literasi. Tanto membayangkan Duta Baca berkeliling sekolah mengkampanyekan minat baca pada para murid. Dan itu dibiayai Perpustakaan Daerah selaku pelaksana kontes Duta Baca. Tambahan, bayangan Tanto Duta Baca nantinya menggandeng komunitas literasi dan bersinergi. Begitu mimpi di minda Tanto.
Rahmah paham maksud Tanto. Dan paham apa yang bisa dilakukannya. Alhamdulillah kontes itu digelar. Dan Tanto coba daftar jadi peserta. Duta Baca pun terpilih. Bukan Tanto. Skornya memang tinggi. Nomor dua alias runner up. Satu juri memenangkannya. Tapi tidak dua lainnya. Sampai di sini ok lah pikir Tanto. Lagipula, harus diakuinya presentasi Juara 1 memang berkelas. Namun, berbulan-bulan berlalu, Tanto gusar. Ia belum mencium asap dari pembakaran aktivisi Duta Baca. Semoga karena angin kampung belum menerbangkan asap itu ke hidungnya. Begitu di minda Tanto.
~
Baydeway. April rupanya identik dengan literasi. Tanggal 2 lalu adalah Hari Buku Anak Sedunia. Tanggal 23 nanti Hari Buku Sedunia. Salam literasi.


0 Komentar