![]() |
| Foto: M. Kholid Sekjen PKS |
oleh: R. Irwan Waji
Rata-rata masa studi untuk meraih gelar sarjana strata satu (S1) ditempuh dalam waktu sekitar empat tahun. Dalam rentang waktu tersebut, ada satu fase yang biasanya paling berkesan bagi mahasiswa, yaitu masa persiapan menghadapi ujian tesis sebagai syarat akhir meraih gelar sarjana.
Pada fase inilah seseorang benar-benar merasakan makna perkuliahan yang sesungguhnya. Ia harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, menelaah kembali seluruh proses belajar yang telah dilalui, serta menyiapkan jawaban atas berbagai pertanyaan kritis dari para dosen penguji. Fase ini menjadi puncak dari seluruh perjalanan akademik yang telah ditempuh.
Demikian pula dengan bulan Ramadhan. Seluruh hari dalam Ramadhan adalah kemuliaan dan keberkahan. Namun di antara semua itu, ada satu fase yang paling berkesan dan monumental, yaitu sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Pada fase inilah kaum muslimin mengerahkan puncak semangat ibadahnya. Shalat malam diperbanyak, tilawah Al-Qur’an semakin ditingkatkan, doa dan istighfar semakin dipanjatkan. Semua itu dilakukan karena di antara malam-malam tersebut terdapat satu malam yang sangat agung, yaitu malam Lailatul Qadar.
Lailatul Qadar adalah fase terpenting dalam Ramadhan, karena pada malam itu nilai ibadah dilipatgandakan hingga melebihi ibadah seribu bulan. Malam ini menjadi momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh setiap orang beriman.
Apa yang sangat menggembirakan adalah ketika kita menyaksikan partisipasi dan keterlibatan umat Islam dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan. Bukan hanya orang tua atau kalangan dewasa, bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun turut hadir dengan penuh semangat, sebagaimana tergambar dalam pemandangan pada foto ini.
Masjid dipenuhi oleh berbagai lapisan usia. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berdzikir, ada yang beritikaf, dan ada pula yang sekadar duduk menikmati suasana ibadah yang penuh ketenangan. Pemandangan seperti ini sungguh mengesankan dan membahagiakan. Ia menumbuhkan optimisme akan masa depan keberagamaan umat.
Betapapun banyaknya persoalan yang berkenaan dengan kondisi umat Islam hari ini, pemandangan seperti ini memberikan harapan besar. Kita tetap yakin bahwa kesulitan selalu menjadi rahim terbaik dalam melahirkan generasi tangguh.
Sepuluh hari terakhir Ramadhan ini juga merupakan fase penutup. Ia menjadi indikator sekaligus bukti kualitas ibadah kita selama sebulan penuh.
Karena sesungguhnya kesempurnaan suatu amal tidak hanya dilihat dari awalnya, tetapi sangat ditentukan oleh bagaimana akhirnya.
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الأَعْÙ…َالُ بِالْØ®َÙˆَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya (akhirnya).” (HR. al-Bukhari)
Karena itu, melihat antusiasme kaum muslimin dan muslimah dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan ini, tidaklah mengherankan jika seorang ulama salaf pernah mengungkapkan kerinduannya kepada bulan yang mulia ini dengan berkata:
Ù„َÙˆْ Ùƒَانَتِ السَّÙ†َØ©ُ ÙƒُÙ„ُّÙ‡َا رَÙ…َضَانَ Ù„َتَÙ…َÙ†َّÙŠْتُ Ø£َÙ†ْ تَÙƒُونَ السَّÙ†َØ©ُ ÙƒُÙ„ُّÙ‡َا رَÙ…َضَانَ
“Seandainya satu tahun itu seluruhnya adalah Ramadhan, niscaya aku berharap agar satu tahun itu semuanya adalah Ramadhan.”
Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan gambaran kerinduan seorang hamba terhadap suasana iman yang begitu hidup, ketika masjid-masjid dipenuhi, Al-Qur’an dibaca dengan penuh kekhusyukan, dan hati manusia kembali dekat kepada Tuhannya.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu menutup Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Wallahu a'lam.
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamittoriq.
Masjid Baiturrahman Panaikang, Kamis 12 Maret 2026


0 Komentar