Oleh: Murtini (Kabid Komdigi PKS Kab. Madiun)
Dalam khazanah kearifan Jawa, kita mengenal pepatah sederhana, namun sarat makna: sambang, sambung, sumbang. Tiga kata ini bukan sekadar permainan bunyi, melainkan panduan etika sosial yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Sambang berarti mendatangi, menjenguk, atau bersilaturahmi. Ia menandai kehadiran fisik dan batin—datang bukan hanya membawa tubuh, tetapi juga empati. Sambung bermakna menyambung ikatan, menjaga hubungan, dan merawat rasa kebersamaan agar tidak putus oleh jarak dan waktu. Sementara itu, sumbang berarti membawa oleh-oleh, berbagi rezeki, atau memberi sesuatu sebagai tanda kepedulian.
Nilai-nilai ini menemukan relevansinya yang sangat kuat dalam kerja kemanusiaan hari ini, terutama ketika bencana melanda saudara-saudara kita di Sumatra. Di tengah duka, kehilangan, dan ketidakpastian, kehadiran relawan menjadi simbol bahwa para korban tidak sendirian.
Bencana tidak pernah memilih siapa korbannya. Namun, sikap kita terhadap bencana menunjukkan siapa diri kita sebagai bangsa dan sebagai umat. Relawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang datang secara bergantian ke lokasi bencana sejatinya sedang mempraktikkan pepatah sambang, sambung, sumbang dalam bentuk paling nyata.
Mereka sambang—mendatangi langsung wilayah terdampak, masuk ke kampung-kampung yang lumpurnya sudah mengeras, dan menyapa warga yang rumahnya porak-poranda. Kehadiran ini penting sebab dalam situasi bencana, sering kali yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan logistik, melainkan juga pengakuan kemanusiaan: bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang mau mendengar.
Lebih dari sekadar hadir, kader PKS juga menjalankan makna sambung. Menyambung ikatan ukhuwah yang diuji oleh musibah. Menyambung doa-doa rakyat dengan ikhtiar nyata. Doa-doa dari warga di berbagai daerah disampaikan melalui tangan-tangan relawan.
Menyambung harapan para korban agar tidak terputus dari perhatian negara dan masyarakat luas, agar empati tidak berhenti pada berita sesaat. Di sinilah kerja kemanusiaan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi juga spiritual dan emosional. Kerja kemanusiaan ini juga bagian dari dakwah bil hal—dakwah melalui tindakan—yang menjadi napas perjuangan PKS sejak awal berdiri.
Dan tentu, sumbang menjadi wujud konkret dari kepedulian itu. Bantuan yang disalurkan relawan PKS berasal dari gotong royong kader dan masyarakat: dari warga untuk warga, dari umat untuk umat. Bantuan itu mungkin berupa makanan, pakaian, obat-obatan, hingga tenaga dan waktu. Tidak selalu besar nilainya, tetapi selalu besar maknanya. Di balik setiap paket bantuan, ada keikhlasan dan gotong royong. Di tengah keterbatasan, kader belajar memberi, bukan menunggu berlebih. Karena dalam pandangan ideologis PKS, keberkahan terletak pada keberpihakan kepada yang lemah.
Kerja-kerja kemanusiaan ini sering kali disalahpahami sebagai pencitraan. Namun, tuduhan itu menjadi dangkal jika kita memahami bahwa dalam dakwah, keteladanan harus tampak agar bisa diteladani. Kebaikan yang terlihat bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk menggerakkan. Sebab, jika kepedulian disembunyikan sepenuhnya, siapa yang akan terinspirasi untuk ikut turun tangan?
Dalam tradisi Islam, amal kebaikan memang dianjurkan untuk ikhlas, tetapi juga dibolehkan untuk ditampakkan jika bertujuan menginspirasi. Relawan PKS hadir bukan untuk dipuji, melainkan untuk menjalankan amanah kemanusiaan dan kebangsaan.
Pepatah Jawa itu mengajarkan keseimbangan: datang dengan adab, menyambung dengan niat baik, dan memberi dengan ketulusan. Inilah yang menjadi roh kerja relawan PKS selama ini—kerja sunyi yang kadang terlihat, tetapi jauh lebih banyak yang tidak terdokumentasikan oleh kamera.
Selama kader PKS masih mau turun ke lokasi bencana, membersihkan lumpur, mengangkat puing, dan memeluk harapan para korban, selama itu pula dakwah kemanusiaan akan terus hidup. Karena bagi PKS, politik sejatinya adalah jalan pengabdian. Dan pengabdian paling mulia adalah berdiri di sisi rakyat, terutama saat mereka paling membutuhkan.
Bencana mungkin datang silih berganti. Namun, selama nilai sambang, sambung, sumbang terus hidup, kita punya harapan bahwa bangsa ini tidak akan kehilangan rasa. Bahwa di tengah reruntuhan, selalu ada tangan-tangan yang mau meraih. Bahwa dari warga, oleh warga, dan untuk warga—solidaritas Indonesia tetap menyala.


0 Komentar