Bertengger di kaki Gunung Papandayan, Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyimpan pesona alam pegunungan yang memukau. Hamparan kebun kopi, ladang sayuran, serta keramahan warganya menjadi ciri khas desa ini. Dengan moto "Karamatwangi Ngahiji, Sinergi, Jeung Masagi" yang berarti bersatu, bersinergi, dan seimbang, desa ini terus berupaya mengembangkan potensi pertanian dan pariwisata secara berkelanjutan.
Salah satu bukti nyata adalah pengembangan Agrowisata Tepas Papandayan (ATP), yang menggabungkan keindahan alam dengan edukasi pertanian dan rekreasi, seperti kolam air panas alami, kebun stroberi, serta area camping. Adalah kegigihan anak muda yang menjadi kepala desa bernama Rana Kurnia yang berhasil mewujudkan hal ini.
Dalam wawancara dengannya, Rabu (7/1/2026) membeberkan dua program unggulan yang menjadi andalan desa ini: modernisasi pertanian dan pengembangan agrowisata.
"Kami memiliki dua bidang program unggulan. Di bidang pertanian, kami sedang melakukan modernisasi. Tanaman unggulan adalah komoditas sayuran, seperti kentang dan lainnya. Untuk kentang, kami mengembangkan pembibitan kentang G0 dengan teknologi aeroponik. Program ini dikelola oleh BUMDes bersama beberapa pemuda desa yang telah mengikuti pelatihan di Lembang, Bandung," ujar Rana.
Ia melanjutkan, desa juga telah meluncurkan pengolahan produk kentang, termasuk "Pojok Kentang" sebagai wadah promosi dan penjualan hasil olahan lokal.
Sementara itu, di sektor pariwisata, Agrowisata Tepas Papandayan menjadi kebanggaan tersendiri. "Awalnya, kami harus meyakinkan berbagai pihak untuk mendukung program desa agrowisata ini, karena kami memang memiliki potensi besar di bidang pertanian dan agrowisata. Pembangunan infrastruktur dimulai sejak 2019 dan resmi diluncurkan pada 2023. Kini, memasuki tahun keempat, alhamdulillah progresnya sangat baik," cerita Rana.
Proses persuasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan memakan waktu lama, termasuk pengembangan sumber daya manusia dan penyusunan visi jangka panjang hingga 16 tahun ke depan.
![]() |
| Kepala Desa Karamatwangi Rana Kurnia (kiri) bersama Sekretaris Bidang Komdigi DPP PKS Eko Febrianto (kanan) |
Hasilnya kini terlihat nyata. Pada 2023, agrowisata ini menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp100 juta. Angka itu melonjak menjadi Rp130 juta pada 2024, dan Rp500 juta lebih pada 2025. "Untuk 2026, insyaallah terus berkembang. Saat ini bahkan sudah overload pengunjung. Semoga semakin berkualitas dan meningkat," harapnya.
Meski demikian, perjalanan tidak selalu mulus. Kendala utama adalah sumber daya manusia. "Tidak mudah meyakinkan masyarakat dengan beragam latar belakang dan pemikiran. Kami butuh waktu empat tahun untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, seperti DPD, aparat desa, RT/RW, MUI desa, LPM, dan seluruh elemen masyarakat," kata Rana.
Kendala kedua adalah keterbatasan modal, yang membuat perkembangan lebih lambat dibandingkan proyek berbasis kapital besar. Namun, desa terus berbenah dengan meningkatkan kapasitas karyawan agar mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan global.
"Kami telah ikut pameran di Malaysia bersama program Desa Emas dan menandatangani MoU dengan pengusaha Malaysia untuk kerja sama pengolahan kopi serta event internasional," tambahnya bangga.
Keberhasilan Desa Karamatwangi ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia. Dengan sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pemuda, potensi alam pegunungan berhasil diubah menjadi sumber pendapatan berkelanjutan yang memberdayakan ekonomi lokal. (EAS)




0 Komentar