Doa Penjahit yang Mengetuk Pintu Langit

 ‎

Hadiah Hari Ibu dari fraksi dan DPD PKS Kabupaten Bantul untuk para kader aromil dan kader dengan keluarga difabel

Oleh: Anunk Nuryani, S.Pd.I 

Ketua BIPEKA DPD PKS Bantul 


‎Di momen peringatan Hari Ibu DPD PKS Bantul hari ini, saya menemukan satu kisah kecil yang sarat makna. 

‎Ini tentang seorang kader, janda, dan berprofesi sebagai penjahit. Suaminya telah lebih dulu dipanggil Allah karena kecelakaan. Kemarin, ia benar-benar berada di titik paling sempit. Dompetnya kosong. Untuk membelikan bumbu seblak permintaan anaknya saja ia tak mampu, apalagi membeli kebutuhan pokok lainnya. 

‎Ia teringat masih ada jahitan pelanggan yang sebenarnya sudah selesai. Dengan harap-harap cemas, ia menghubungi si pelanggan, berharap jahitan itu segera diambil dan bisa menjadi uang hari itu juga. Namun jawabannya singkat dan belum sesuai harapannya.

‎“Saya masih di luar kota, besok saja ya bayarnya.” Meskipun kecewa, ia pasrah dan tetap berprasangka baik, Allah akan mencukupinya. 

‎Sore harinya saat UPA, pembimbingnya memberikan nasihat tentang roda kehidupan. Bahwa semua di dunia ini ada masanya. Ada susah, ada senang. Ada saatnya di atas, ada juga waktunya bersabar di bawah. Pembimbingnya kemudian meminta anggota kelompok saling berbagi cerita pengalaman terendah mereka. 

‎Sampailah ke binaan terakhir yang bercerita saat kehilangan suaminya. Ia mengaku sempat linglung dan hilang arah. Ditambah momen merawat orangtuanya yang sudah pikun di era pandemi hingga akhirnya meninggal dunia. Ia benar-benar terpukul ditinggalkan orang-orang terkasih dalam hidupnya. Suasana UPA hening. Satu sama lain saling menguatkan saudaranya. 

‎Setelah selesai UPA, pembimbingnya memberikan sebuah amplop. 

‎"Ada titipan dari DPD dan Fraksi PKS," begitu katanya. 

‎Saat dibuka, rupanya berisi beberapa lembar uang ratusan ribu. Ia menitikkan air mata, bukan karena besar kecilnya nominal, tapi karena Allah mencukupi tepat ketika ia benar-benar berada di ujung kemampuan.

‎Ia menangis sambil bercerita bahwa sebelum berangkat UPA, ia sengaja menyelesaikan jahitannya agar bisa mendapatkan uang jasa jahitannya. Tetapi ternyata posisi pelanggannya di luar kota.

‎"Saya tadi sempat bingung. Ya Allah, harus selesaikan jahitan yang mana lagi biar dapat uang. Biar bisa beli cabai dan minyak karena anak tadi minta dibelikan untuk membuat seblak, sedangkan bumbu sudah habis." 

"Tetapi tadi saya yakin kalau Allah itu Maha Pengasih. Ternyata benar, Allah memberikan rezeki yang tak terduga-duga sehingga saya bisa beli minyak dan cabai." Suaranya bergetar penuh syukur membuat yang lain ikut larut dalam haru. 


‎Ada para ibu yang setia merawat mimpi anaknya, meski jalannya tak selalu mudah. Menggenggam harapan kecil, lalu menjadikannya besar dengan ketekunan dan kasih yang tak pernah putus. 

‎Ini adalah puncak hari ibu. Sebuah momen sederhana tapi penuh makna. Para ibu yang kami sebut sebagai ibu Inspiratif Tangguh adalah mereka yang menguatkan keluarga dengan do'a, menghidupi rumah dengan kesabaran, dan menenangkan hati anak-anaknya dengan cinta meski lelah sering tak sempat terucapkan. Kita tak sekedar memanggil sebuah nama, kita sedang memuliakan perjuangan. Perjuangan para ibu yang setiap harinya memilih untuk berdiri, meski hidup kadang meminta mereka berjalan sendirian. 

‎Ibu-ibu hebat, ketangguhan panjenengan bukanlah sebab tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu bangkit dan tetap bermimpi, bahkan saat hidup terasa berat.

‎Keterangan foto: 

‎Minggu, 28 Desember 2025, fraksi PKS dan DPD PKS Kabupaten Bantul memperingati Hari Ibu dengan memberikan santunan kepada 77 kader aromil (janda) dan kader dengan keluarga difabel. Semoga menjadi penguat langkah mereka, dan pengingat bagi kita semua untuk terus menghadirkan empati dalam kerja-kerja pelayanan.

Posting Komentar

0 Komentar