"Di Hadapan Anak-Anak, Saya Bukan Anggota Dewan"



oleh: Dedi Supriyanto

Ketua F-PKS DPRD Banyumas

Politik, dalam imajinasi banyak orang, adalah ruang bising yang penuh debat, angka-angka survei, atau lobi-lobi di ruangan berpendingin udara yang kaku. Sebagai Ketua Fraksi PKS di DPRD Kabupaten Banyumas, saya telah akrab dengan itu semua. Saban hari saya berhadapan dengan konstituen yang menuntut perbaikan jalan, warga yang mengeluhkan birokrasi, hingga dinamika rapat paripurna yang menguras energi.

Namun, siapa sangka, ujian mental paling berat justru datang dari 33 pasang mata jernih di sebuah ruang kelas TK Pertiwi, Desa Pageralang.

Jujur saja, saya sempat demam panggung. Rasa gentar itu bahkan lebih intens ketimbang saat saya harus berpidato di hadapan ribuan massa kampanye. Menghadapi orang dewasa itu mudah; kita bicara janji, program, dan realitas. Namun, menghadapi anak-anak? Mereka tidak butuh jargon politik. Mereka butuh ketulusan. Di sana, di hadapan anak-anak yang luar biasa itu, saya menanggalkan atribut "Anggota Dewan". Saya kembali ke jati diri yang paling autentik: seorang peternak.

Kehadiran saya bukan untuk memperebutkan suara, melainkan memenuhi undangan para guru yang memiliki keresahan serupa: bagaimana mengenalkan realitas dunia kepada anak-anak di masa usia emas (golden age).

Selama ini, cita-cita anak sekolah seolah dipatok pada standar yang sempit. Jika tidak dokter, ya, polisi. Jika tidak tentara, ya, masinis. Seolah dunia hanya berputar pada profesi berseragam. Padahal, di balik piring nasi dan segelas susu mereka, ada peluh para petani dan peternak. Saya ingin mereka tahu bahwa menjadi peternak domba bukan sekadar soal kotor dan bau, melainkan soal merawat kehidupan, kemandirian pangan, dan martabat.

Saat bercerita tentang cara merawat domba, ada rasa bahagia yang meluap. Melihat antusiasme mereka, saya sadar bahwa inilah esensi politik yang paling mendalam: investasi pada imajinasi generasi masa depan. Politik bukan hanya soal apa yang bisa kita bangun hari ini, melainkan soal nilai apa yang kita tanamkan di benak calon pemimpin bangsa.

Secara emosional, pengalaman ini adalah sebuah oase. Di tengah hiruk-pikuk narasi politik yang sering kali kering dan transaksional, berinteraksi dengan anak-anak TK memberikan kesegaran spiritual. Mereka mengajarkan saya bahwa komunikasi paling efektif adalah bahasa hati. Mereka tidak peduli seberapa tinggi jabatan saya; mereka hanya ingin tahu bagaimana seekor domba bisa tumbuh besar dan sehat.

Secara gagasan, ini adalah langkah kecil untuk mendobrak sekat antara dunia politik dan pendidikan anak usia dini. Saya percaya pendidikan adalah fondasi segala kebijakan publik. Jika ingin membangun daerah yang kuat, kita harus mulai dengan membangun wawasan anak-anaknya. Mengenalkan mereka pada dunia peternakan adalah upaya memperluas cakrawala agar mereka tidak gagap melihat realitas lapangan. Mereka harus tahu bahwa peternak adalah profesi mulia yang menjaga keberlangsungan hidup orang banyak.

Kita sering bicara tentang "pemimpin masa depan", namun kerap lupa memberi mereka bekal pengalaman yang membumi. Di Pageralang, saya tidak sedang mengajari teori politik. Saya sedang mengajak mereka melihat bahwa dunia ini luas, dan mereka boleh menjadi apa saja—termasuk menjadi peternak sukses yang bermanfaat bagi sesama.

Pulang dari TK Pertiwi, saya membawa "oleh-oleh" berupa senyuman dan tawa renyah. Saya diingatkan kembali bahwa amanah sebagai anggota dewan yang saya emban, pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan mereka. Perjalanan ini menjadi catatan penting: bahwa politik harus punya rasa, punya empati, dan berani masuk ke ruang-ruang paling sederhana untuk menyemai inspirasi.

Sebab pada akhirnya, bukan kursi di gedung DPRD yang akan diingat sejarah, melainkan jejak-jejak kecil yang kita tinggalkan di hati anak-anak yang kelak meneruskan estafet perjuangan ini. Di Pageralang, saya belajar menjadi guru, dan di sana pula, saya belajar menjadi manusia yang lebih utuh.

Banyumas, 23 Januari 2026


Posting Komentar

0 Komentar