Tarbiyyah Itu: Transformasi Pembinaan Digital Lintas Teritorial dan Lintas Waktu



Di antara sunyi pagi dan riuhnya notifikasi, aku duduk berselimut sinyal dan doa.

Remote job menjadikanku pengembara digital, menjelajah ruang tanpa batas,  

WiFi adalah sahabat setia, fiber optik menjadi pedangku dalam medan kerja,

Aku bukan milik satu kecamatan, kabupaten, atau provinsi semata.

Aku milik mereka pejuang pangan yang tak butuh panggung dan layar. 

Mereka yang mencari cahaya, yang ingin menyalakan lilin kehidupan ilahi.  

Pembinaan diri adalah awal, pembinaan orang lain adalah jalan,  

Dan pembinaan semesta adalah cita yang tak pernah padam.

Tarbiyyah Ilahiyyah. Ya rabbi, berkahi ikhtiar ini, tuntun diri ini. 


Kini, dunia yang tak mengenal batas geografis, pembinaan online menjadi jembatan.  

Tak ada sekat antara waktu sungai-sungai di Kalimantan, Hutan-hutan di Papua dan paginya tanah sawah Jawa,  

Diskusi tugas akhir, diskusi sundep beluk, konsultasi pekerjaan, hingga nasihat pernikahan, pun sekedar cerita anak-anak GenZ, keluh kesah milenial dan juga tak lupa ngasuh para baby boomer.  

Semua mengalir dalam ruang digital yang hangat dan penuh makna.  


Adik-adik binaan dan mahasiswa bimbingan, petani binaan bukan sekadar nama di layar, 

Mereka adalah jiwa-jiwa yang terikat dalam simpul ukhuwah,  

Yang tak hanya resmi, tapi menyatu dalam rasa dan arah.

Keterikatan hati menjadi fondasi pembinaan fardiyyah yang sesungguhnya.  

Bukan sekadar memenuhi kuota suara nanti atau identitas administratif,  

Tapi membina manusia sebagai manusia, dengan cinta dan cita.  

Mereka yang datang dengan tanya, pulang dengan cahaya,  

Adalah bukti bahwa pembinaan digital bukan sekadar alternatif,  

Melainkan transformasi yang menyentuh masa depan umat.

Masa depan jamaah yang maknawiyyahnya akan terpatri dalam nadi.

Indonesia dengan tiga zona waktu bukanlah penghalang,  

Melainkan peluang untuk hadir lebih luas dan lebih dalam.  


Ketika aku baru memulai kerja pagi ini, saudaraku di Papua sudah rehat,  

Namun semangat tak pernah mengenal jeda.  

Karena waktu hanyalah angka,  

Sedang hati dan niat adalah kompas yang menyatukan langkah.

Mari terus membina, walau hanya lewat layar dan suara,  

Karena cahaya tak pernah memilih tempat untuk bersinar.  

Bila niat lurus dan hati terpaut,  

Maka jarak hanyalah angka yang tak berarti.  

Berkat sinyal dan cinta, kita bisa menyalakan dunia.  


Jarak boleh jauh, waktu boleh beda,

Tapi cahaya ilahi tetap menyapa.

Bina jiwa, bukan hanya raga,

Agar hidup bermakna, hingga akhir masa.


Serayu River View, 02 Oktober 2025_


By : Curugcindulang (Member Reli Kab Bekasi) 

Posting Komentar

0 Komentar