Indra G (Sekretaris Bidang Humas DPW PKS Kalbar)
Matahari yang hampir terbenam, menyisakan sinar hangatnya. Tenda maktab diselimuti khusyuk. Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia bersiap menjalankan ibadah lontar jumroh. Aku pun merasakan getaran semangat dan kekhusyukannya.
Mulanya, langkah kaki ini terasa berat, tapi hatiku tetap larut dalam khusyuk. Perjalanan 5 jam dari tenda maktab menuju lokasi jumroh terasa panjang, namun setiap langkahnya membawaku lebih dekat kepada-Nya.
Kami berjalan kaki di sepanjang terowongan Mina yang seakan tak berujung. Diiringi oleh doa talbiah, labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, yang dibaca oleh jamaah.
Di sepanjang jalan, aku melihat banyak jamaah lain yang juga sedang menuju ke tempat yang sama. Wajah-wajah mereka memancarkan ketenangan dan keikhlasan. Membuatku semakin yakin akan segera sampai ke jamarat.
Semakin dekat dengan lokasi jumroh, semakin terasa getaran spiritual yang menyelimuti hatiku. Aku merasakan kedekatan dengan Allah SWT, dan berharap agar ibadah ini diterima-Nya.
Satu-persatu aku lempar kerikil di tangan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah ini dan menjadikan aku hamba-Nya yang lebih baik.
Esoknya, hari ke-12. Mentari pagi masih tertidur lelap saat kami, rombongan 8 dan 9 dari Maktab 10 Kloter 20 BTH, kembali melangkahkan kaki menuju Mina. Jam masih menunjukkan pukul 2.30 dini hari. Detak jantung berdebar kencang, menjelang momen sakral Nafar Awal.
Udara sejuk menyapa kami saat kami melontarkan jumroh ula, wustho, dan aqobah di lantai 3. Suasana khusyuk kembali mengiringi setiap langkah, mengingatkan kami akan makna perjalanan suci ini.
Sholat Subuh berjamaah kami tunaikan di lantai dasar tempat jumroh. Menenangkan jiwa dan menguatkan tekad untuk menjalani rangkaian ibadah selanjutnya.
Menunggu terbitnya matahari, kami menikmati keramaian di Mina. Suasana penuh semangat dari para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia, menambah semangat kami dalam menjalani ibadah.
Saat syuruq menyapa, kami kembali melempar jumroh untuk hari ke-12. Sebanyak 21 lemparan batu, masing-masing 7 lemparan di satu tempat jumroh, menandai kesungguhan kami dalam menjalankan ibadah haji.
Namun, ada kenangan saat melempar jumroh di lantai 1 untuk hari terakhir ini. Ketika mau masuk ke barisan mendekati tempat jumroh, rombongan kami banyak terdorong oleh saudara-saudara dari Nigeria. Saat melempar, ada tangan mereka yang tidak sengaja memukul kepala kami. Termasuk saat berada dekat bibir monumen jumroh, kami terkena lemparan batu dari jama'ah yang melempar agak jauh. Jamarat yang padat dengan jamaah haji itu, menjadi kesan yang tak akan kami lupakan.
Setelah selesai melempar, kami pun kembali ke tenda di Mina Maktab 10. Rasa lelah terbayar lunas dengan kebahagiaan telah menjalankan ibadah dengan khusyuk. Kami segera mengemas barang-barang dengan semangat, siap dijemput bis untuk kembali ke hotel 130 di Syisah Mekkah. Di sana, kami akan beristirahat dan menantikan agenda berikutnya dalam perjalanan suci ini.
Nafar Awal bukan hanya sekedar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang menguatkan iman dan menorehkan kenangan indah di hati. Semoga Allah SWT menerima semua ibadah kami dan memberikan kami kemudahan dalam menjalani sisa perjalanan haji.
Karom 9, kloter 20 BTH


0 Komentar