"Ti, aja kelalen. Pilih caprese nomer siji, Calege pilih PKS nomer wolu, ajari mamake ya?"
Itu pesan untuk adikku yang semalam menyengaja pulang kampung dengan bayinya agar bisa ikut memilih pada Pemilu 2024 ini. Dia merantau di Bekasi, tapi terdaftar dalam DPT di Cilacap. Kalau gak pulang kampung, maka dia gak bisa memilih di Bekasi karena belum mengurus persyaratan pindah.
Suaminya masih kerja, baru akan pulang kampung Selasa malam Rabu dan rencananya langsung balik lagi ke Bekasi selepas mencoblos di Cilacap. Memang capek. Capek banget bahkan. Capek fisik, keluar biaya dan tenaga.
Memang begitulah pilihan yang tersedia. Bisa jadi banyak kasus serupa. Banyak para perantau yang tinggal di kota tetapi administrasi kependudukan masih di kampung. Jika berfikir semata-mata ekonomi, rasanya rugi banget kalau pulang kampung hanya untuk memilih. Berlakulah prinsip untung rugi.
Sebaliknya, semangat perubahan untuk negeri perlu diperjuangkan. Jika para pahlawan dulu berjuang dengan bambu runcing melawan penjajah, maka perjuangan hari ini melalui paku pemilu untuk mewujudkan kesejahteraan yang dicita-citakan oleh para pendiri Bangsa Indonesia.
"Ti, nitip salam kanggo mamake lan sedulur kabeh. Salam Perubahan untuk Indonesia Adil Makmur untuk Semua," pesanku mengakhiri chat WA.
Terselip Do'a terbaik untuk lahirnya pemimpin terbaik untuk negeri yang baik sebaik Indonesia Raya. (BP)


0 Komentar