oleh: Deti Febrina
1999 adalah pengalaman jadi pemilih culun di pemilu demokratis pertama pasca reformasi, namun satu yang gak terlupa adalah ketika diamanahi jadi saksi TPS.
"Hanya" mengawal pemilihan anggota legislatif 48 partai, penghitungan dan pelaporan baru selesai pukul 02.30 dini hari. Saksi-saksi dan petugas PPS sudah pun 'berguguran' bahkan waktu dentang cinderella 12 kali belum berbunyi.
Mungkin karena dasarnya cenderung night owl (kuat begadang), waktu itu punya teman kuat melek sesama mahasiswa dari Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) dan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) yang justru lebih aktif dan galak dibanding saksi-saksi partai.
Teman begadang dan galak itu penting karena makin malam orang makin hilang fokus.
Itu dulu. Zaman belum ada smartphone, konsumsi diurus sendiri, dan boro-boro ada honor saksi.
Kini beberapa kali pemilu, Alhamdulillah sudah ada honor, konsumsi siang malam diantar tiada henti, selalu haru melihat saksi-saksi gila itu bekerja (khususon saksi emak-emak, pokoknya aku padamuu ❤️). Menjaga C1 seperti melindungi anak sendiri, dari subuh sampai subuh lagi, sampai ada yang bertaruh nyawa. Bahkan caleg lintas partai bukan satu dua pernah menggunakan C1 kami untuk dibawa jadi bukti selisih suara ke MK.
Hitung cepat bisa jadi mengaduk persepsi dan emosi, tapi ada saksi-saksi gila yang menjaga kewarasan demokrasi untuk menghidangkan bukti real count itu, walau mungkin bagai angin yang meniup oligarki.
Mari angkat jilbab, eh, angkat topi.


0 Komentar