Oleh
: Laksma TNI Pur Ir. Fitri Hadi S, M.A.P
Dewan
Pakar PKS
Tahun 2024
ditapaki, saat waktunya memilih Presiden dan Wakilnya pada Pemilu 2024 semakin
dekat, Rabu 14 Februari sudah didepan mata. Saat yang paling menentukan untuk
masa depan, setidaknya untuk 5 tahun mendatang bahkan untuk masa depan bangsa
dan negara, menentukan pilihan siapa presiden dan wakilnya yang harus dipilih.
Ada 3 (tiga) calon pasangan presiden dan wakilnya. Anies Rasyid Baswedan dan
Muhaimin Iskandar nomor urut 1 (satu) atau calon lainnya, Prabowo Gibran nomor urut 2 dan Ganjar Mahfud nomor urut 3.
Pasangan
yang paling tidak disukai oleh rezim saat ini adalah pasangan nomor urut 1 Anies dan Cak
Imin. Anies dianggap oposisi, bahkan ada yang memfitnahnya sebagai bapak
politik identitas. Entah apa maksudnya politik identitas dan bapak politik
identitas? Tentu semua tahu bahwa
secara perorangan maupun kelompok menggunakan identitas. Kemudian ada pula
yang mengatakan Anies dan Cak Imin atau PKS dan PKB ibarat air dan minyak yang
tidak mungkin bersatu atau fitnah lainnya. Nyatanya Anies dan Cak Imin semakin
solid demikian pula partai pendukungnya. Sebagai pasangan yang pertama
mendaftar ke KPU dan mempersatukan umat NU dan Muhammadiyah. NU dan
Muhammadiyah yang semula tampak berjalan sendiri-sendiri kini mereka sejalan
dalam menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Akankah NU dan
Muhammadiyah bersatu sebagaimana pendirinya yang bersaudara sedarah,
sebagaimana awalnya Islam adalah satu dan kini, bukanlah kebetulan pasangan
Anies dan Cak Imin dalam pemilu 2024 pasangan urut nomor satu. Ini semua
tentunya atas kehendak Allah Tuhan semesta alam.
Siapakah yang akan terpilih menjadi presiden dan wakil presiden pada pemilu 2024 untuk memimpin bangsa dan negara Republik Indonesia pada tahun 2024 sampai tahun 2029 ini?
Sebelumnya
sempat didengungkan Jokowi 3 (tiga) periode atau perpanjangan masa jabatan
presiden Jokowi, namun rakyat tegas menolaknya. Mengapa rakyat menolak? Tentu
rakyat merasakan negara saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ada beberapa hal
yang menjadi pusat perhatian rakyat sehingga rakyat menolak jabatan 3 periode
atau perpanjangan masa jabatan Jokowi yaitu:
1.
Presiden 3 periode atau perpanjangan masa
jabatan presiden jelas melanggar konstitusi yang berlaku di Indonesia.
2.
Pemerintah mengklaim hilirisasi hasil tambang
telah menaikan nilai ekspor Indonesia, tapi kenyataanya kemana hasil tambang
itu semua? Rakyat tidak merasakan termasuk rakyat yang berada disekitar area pertambangan
yang kenyataannya dikelola oleh bangsa asing. Disisi lain hutang negara terus meningkat dan BUMN banyak yang bertumbangan
terbelit masalah keuangan atau hutang.
3.
Kemudian pemerintah juga mengklaim pertumbuhan
meningkat diatas 5%, pendapat perkapita juga diklaim meningkat, namun justru
bila mau jujur sebenarnya kemiskinan yang meningkat. Barang barang kebutuhan pokok
semuanya naik sedangkan disisi lain gaji pegawai atau buruh tidak naik, sebaliknya
nilai rupiah terus turun terhadap mata uang asing, itu berarti dari ketahun
ketahun daya beli rakyat semakin turun. Ini berarti klain kesejahteran yang
dikalim naik naik hanya dinikmati sebagian kecil rakyat Indonesia, ini berarti
ketimpangan antara simiskin dan sikaya semakin membesar. Salah satu fakta yang Ironis adalah berdasarkan
catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kekayaan pejabat atau penyelenggara
negara mengalami kenaikan selama pandemi Covid-19 sedangkan rakyatnya yang berjumlah ratusan juta berjuang hanya
sekedar untuk dapat hidup.
4.
Tidak impor beras dan tidak impor kebutuhan
pokok lainnya ternyata hanya sebatas rayuan atau janji politik belaka dan tetap
saja beras impor dan kebutuhan pokok lainnya masuk ke Indonesia. Parahnya tidak
jarang kebutuhan pangan dari impor masuk pasar justru disaat petani sedang panen raya. Akibatnya harga jual produk petani
Indonesia jatuh harganya dipasaran. Petani Indonesia selalu dalam ketidak pastian
harga jual produknya, bahkan hal yang lebih menyedihkan,
produk para petani harga jualnya dalam ketidak pastian rugi atau untung
dan biaya produksi seperti pupuk mahal.
Disisi lain uang negara lenyap tanpa
pertanggung jawaban pada proyek Food Estate. Inilah proyek aneh bin Ajaib,
mungkin saking bingungnya pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan,
sehingga Kementrian Pertahanan mendapat tugas dari pemerintah untuk
meningkatkan produksi pangan dengan nama Food Estate. Hasilnya? Merusak
lingkungan.
5.
Pembangunan IKN baru di Penajam Kalimantan Timur tidak
jelas pertimbangannya apa sehingga ibu kota harus
pindah, untuk kepentingan siapa IKN
pindah, dan disiapkan untuk kepentingan
apparat pemerintah pusat atau kepentingan rakyat Indonesia?, dananya begitu
besar yaitu sekitar 466 Triliun. Dulu konon sejak jaman Sukarno dicanangkan IKN
pindah, namun tidak juga terealisir karena patut
diduga tidak masuk skala prioritas. Buktinya IKN tidak masuk dalam RPJP dan dalam RPJP tahun 2005-2025 juga tidak ada, namun entah dari mana asal usulnya
pembangunan IKN tiba tidak dikebut.
6.
Penegakan hukum termasuk pemberantasan korupsi
tampak tebang pilih, tumpul keatas tajam kebawah dan lebih spesifik lagi tumpul
keteman tajam kelawan. Kasus kematian petugas pemilu tahun 2019, total ada 894 yang
meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit tanpa diselidiki kejelasan
penyebabnya, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Demikian pula kasus
kematian remaja 15 tahun bernama Harun Al Rasyid tidak ada kejelasan sampai
saat ini. Harun merupakan korban tewas dalam kerusuhan di kawasan Slipi,
Jakarta Barat, 22 Mei 2019 lalu. Ini semua menunjukan penegakan hukum telah disalah gunakan, penegakan
hukum dilakukan untuk kepentingan penguasa.
Dari
penjelasan diatas menunjukan bahwa pemerintahan Jokowi telah gagal melaksanakan
tugasnya seperti yang diamankan dalam UUD 1945, bahkan saat ini dapat dikatakan
negara dalam bahaya, bahaya hutang ke China yang terus menumpuk ditengah klaim
atau aneksasi China pada wilayah perairan Indonesia di kepulauan Natuna serta semakin
beratnya kehidupan rakyat Indonesia disatu sisi dan ambisi proyek mercusuar
Jokowi IKN dan KCIC. Lalu siapa yg dapat memghentikan penumpukan hutang dan
siapa pula yang mampu menegakan hukum tanpa pilih bulu atau siapa yang dapat
memperbaiki negara yang sedang tidak baik baik saja saat ini?
Jawabnya
bukan pada Presiden 3 periode, bukan pada perpanjangan masa jabatan presiden
dan bukan pula pada orang orang yang
menjadi kroni presiden Jokowi. Begitu pula dengan di Dewan Perwakilan Rakyat
atau DPR, partai penguasa dan partai pendungungnya saatnya mundur kepinggir,
untuk merenung diri atas apa yang telah mereka lakukan selama berkuasa dinegeri
ini. Lalu siapa yang dapat menghentikan
mereka itu? Jawabnya pasti adalah seluruh Rakyat Indonesia yang mempunyai hak
pilih pada Pemilu 2024. Pastikan seluruh rakyat tidak kembali terperosok
kelubang yang sama, pastikan rakyat tidak memilih kelompok mereka lagi.
Lalu
rakyat memilih siapa? Jawabnya tegas dan pasti Anies Rasyid Baswedan dan
Muhaimin Iskandar dipilih sebagai Presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024.
Juga rakyat didorong untuk memilih anggota legistlatif dari partai pendukungnya
yaitu PKS, Nasdem dan PKB, juga partai Umat yang bergabung belakangan.
Satu
hal yang perlu diketahui, mengapa, kenapa sih mereka NU dan Muhammadiyah
atau Nasdem, PKS dan PKB bisa jalan seiring mengusung Anies Rasyid Baswedan dan
Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden dan calon wakil presiden? Sungguh
bersatunya kekuatan Nasdem, PKS dan PKB adalah suatu kekuatan yang tidak
tertandingi. Nasdem adalah partai nasionalis, basis masa Nasdem terutama dari
kalangan nasionalis dan tidak berdasarkan agama. PKS membangun organisasi dari
dasar, dari militansi akar rumput dimulai dari kampus kampus, yang tidak
berbasis keislaman di Universitas Universitas
Indonesia. Karena dimulai dari gerakan dakwah dan pendidikan berdasarkan agama Islam maka partai beranggotakan
banyak dari kalangan Muhammadiyah. Namun
PKS terus bebebenah diri, kita tahu Islam adalah rahmad Allah Tuhan semesta
alam sehingga PKS adalah partai yang terbuka, terbuka bagi bangsa Indonesia
yang berideologi Pancasila dan tunduk pada UUD 1945.
Karena
itu, tidak mengherankan purnawirawan TNI dan Polri, dari kalangan perwira
tingginya sampai kepangkat yang paling bawah berbondong bondong masuk PKS. Para
purnwirawan tersebut bukan mencari pamrih atau imbalan uang masuk ke PKS, dan
mereka bukan pula untuk menjadi calon kepala daerah atau anggota legislativ
melalui PKS. Mereka bergabung ke PKS karena menyadari negara tidak sedang baik
baik saja. Dalam pandangan mereka PKS adalah partai yang paling konsisten
membela rakyat, tidak tergiur oleh materi yang tidak halal. PKS konsisten
membela rakyat bukan saja melalui DPR, juga PKS tahu betul apa kehendak rakyat
Indonesia sehingga PKS memilih Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI,
mengawalnya selama Anies menjabat dan mencalonkan Anies sebagai Presiden pada
pemilu 2024.
Nahh, sekarang, kalau TNI Polri purnawirawan
sudah jatuh cinta pada PKS, mengapa anda tidak? Nasib bangsa ditangan anda,
semoga Allah memudahkan dan meredhoi segala urusan kita. Aamiin…
Puncak Trawas Mojokerto, penghujung Desember
2023


0 Komentar