oleh: Titin Little Finger
Pesta rakyat Pemilu 2024 tinggal hitungan hari. Kami pengurus PKS terus semangat mengenalkan program -program PKS dan pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar (AMIN) ke masyarakat.
Seperti hari itu, saat kami berkeliling di wilayah Kecamatan Dau Kabupaten Malang Jawa Timur. Saat cuaca terik, kami satu tim yang berjumlah 5 orang datang ke sebuah perkampungan.
Saat tiba, dari kejauhan kami sudah melihat petugas pengawas pemilu yang telah datang lebih dulu.
Setelah menitipkan motor kami pun menyapa petugas pengawas dan menjalankan aksi direct selling andalan kami.
Rumah demi rumah kami ketuk tanpa ada jawaban dari dalam. Kami pun lanjut ke rumah berikutnya. Alhamdulillah satu rumah terbuka dan mempersilahkan kami masuk.
Sebelum nya kami berbagi tugas agar di kampung itu bisa kita temui semua maka kita akan mengetuk pintu rumah warga sendiri-sendiri. Maklumlah personil terbatas sehingga kami harus berani berjalan sendiri-sendiri.
Rumah berikutnya menyambut kami dengan hangat, walaupun kita hanya ngobrol di luar tetapi pemilik rumah menerima kami dengan baik meskipun berbeda keyakinan. Dari luar kami melihat pohon natal tertata di ruang tamu.
Tak masalah yang penting mereka menerima PKS. Sebelum pamit, tak lupa kami meminta nomor telepon untuk menyambung silaturahim selanjutnya, dan kami berikan se-plastik sayuran sebagai tanda kalau PKS memang partai yang peduli dengan masyarakat.
Perjalanan pun berlanjut menuju gang sebelah. Dengan pelan kami ketuk kembali pintu rumah warga.
Alhamdulillah kembali sambutan hangat menyapa, duh rasanya seneng banget.
"Maaf ibu mengganggu waktunya sebentar, perkenalkan saya Titin dari Partai Keadilan Sejahtera, gimana kabarnya ibu?" begitu sapaan pertama setiap kami membuka percakapan.
Pemilik rumah pun menyambut dengan hangat, dan berkata, "oh ini PKS yang kapan hari kampanye di jalan depan ya mbak?"
Ibu itu ternyata menyaksikan saat kami Flashmob di pinggir jalan.
Obrolan ringanpun berlangsung gayeng. Kami mengenalkan para caleg dari PKS dan simulasi pencoblosan.
"Wah, ini pelanggan saya mbak!" kata pemilik rumah menunjuk foto caleg di kertas simulasi pencoblosan. Rasanya kami senang banget saat masyarakat mengenal caleg yang kita bawa.
Ternyata direct selling itu candu. Sekali dua kali dan akhirnya ingin melakukannya terus. Bahkan sampai ada yang bilang selama sandal/alas kaki yang dipakai belum putus atau rusak jangan berhenti.
Rumah kesekian kami hampiri, dan dipersilahkan masuk. Oh ternyata ibu yang kita datangi belum tahu PKS.
Dengan APK yang kita bawa kita kenalkan partai nomor delapan peserta pemilu kepada si ibu.
Direct selling banyak cerita penuh makna. Pernah juga ketika kami silaturahim ke rumah warga, pemilik rumah banyak cerita tentang keluarganya.
Termasuk cerita saat si ibu pemilik rumah periksa ke bidan setelah sakit sekian lama dan setelah diperiksa ternyata ada kepala di dalam perutnya. Betapa kaget si ibu yang telah berusia 47 tahun mendapati di perutnya ada kepala.
Kami pun tertawa bareng saat mendengarkan ceritanya. Ternyata si ibu sakit hamil. He he....
Kadang kami ngobrol agak lama karena yang kita temui ternyata dulu anaknya pernah sekolah bareng dengan anak kita. Jadilah kami bernostalgia.
Di setiap pamit pulang kami selalu meminta doa dan dukungan untuk memilih PKS nomor delapan saat pemilu.
Usaha tak akan mengkhianati hasil. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti Allah akan menolong hambaNya.


0 Komentar