M. Irfan Abdul Aziz, menjadi salah satu Caleg PKS untuk DPRD Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Ia menjadi caleg di Dapil Kapuas Hulu I.
Bang Irfan, sapaan akrabnya. Adalah anak transmigrasi di desa Pala Pulau, Putussibau, Kapuas Hulu. Pemuda kelahiran Solo - Jawa Tengah ini sejak kecil mengikuti ayahnya merantau ke pedalaman Kalimantan Barat. Ia sempat mengenyam pendidikan usia dini dan sekolah dasar di kota Putussibau, yaitu di TK Pertiwi dan SD Negeri 6 Putussibau (yang kini menjadi SD Negeri 4 Putussibau). Jaraknya hampir 600 KM dari Pontianak, Ibukota Kalimantan Barat.
Irfan melalui masa kecilnya dengan ragam pengalaman yang kini menjadi modal pengembangan dirinya. Bersama kawan seusianya, ia biasa bermain kelereng dan layang-layang, memancing, masuk hutan mencari rebung dan damar meranti yang dijadikan bubuk guna dilemparkan ke obor saat malam takbiran sehingga tercipta semburan api. Bersama orang tuanya, ia dilibatkan dalam banyak aktivitas. Pernah menjadi kernet oplet (angkot) yang disopiri ayahnya, membantu membungkus kedelai yang diproduksi menjadi tempe, menjadi kurir surat-menyurat koperasi desa, juga dibonceng sepeda mengikuti agenda safari dakwah ayahnya ke desa-desa. "Bahkan saya pun dilibatkan dalam kampanye Partai Keadilan pada tahun 1999, saat itu belum ada larangan aktivitas politik bagi anak-anak. Jadi saya diajak ke Embaloh, Bunut, Jongkong, Boyan Tanjung dan sebagainya. Yang cukup berkesan saat di Embaloh, saat itu diadakan dialog terbuka antar partai politik, dan saya turut naik ke panggung serta dipersilakan menyanyikan lagu-lagu Partai Keadilan," kenangnya.
Perjalanan Pendidikan
"Saya menjalani pendidikan sekolah dasar dengan penuh kompetisi. Bersama beberapa kawan kelas, kami saling bersaing untuk mendapatkan rangking teratas. Tapi semangat kompetisi itu dibalut dalam semangat belajar bersama, jadi saya punya kelompok belajar yang kemudian menjadi kawan-kawan akrab," ungkapnya menceritakan perjalanan hidup sewaktu SD.
Di antara prestasinya adalah nilai Matematika tertinggi se-kabupaten saat Ujian Nasional (EBTANAS). Namun beberapa guru dan pegawai dinas pendidikan sempat menyayangkan saat akhirnya ia memilih melanjutkan ke pesantren. "Ya, waktu orang tua saya mau meminta surat pengantar dinas untuk melanjutkan sekolah ke daerah lain, beberapa ada yang menyayangkan kenapa dengan nilai Matematika tertinggi malah lanjut ke pesantren. Menurut mereka, mestinya ke sekolah negeri favorit. Tapi saya memang sudah berniat sejak kelas 4 SD untuk melanjutkan ke pesantren. Mungkin pegawai di dinas pendidikan itu membayangkan pesantren cuma belajar agama. Padahal pesantren yang saya tuju itu sebenarnya sekolah formal juga, yaitu SLTP Islam Terpadu (sekarang disebut SMP IT) dengan berasrama. Jadi prestasi akademik saya tetap bisa dilanjutkan di sana," ceritanya mengenang masa seperempat abad yang lalu.
Irfan menyelesaikan pendidikan di pesantren selama 8 tahun. Tiga tahun SMP, tiga tahun SMA, dan dua tahun pengabdian sebagai guru di pesantren tersebut. Setelah itu, ia sempat menjalani kursus bahasa Inggris di Kediri. Kemudian lanjut kuliah di Internasional Islamic University Islamabad (IIUI) untuk jenjang S1 dan S2.
Perjalanannya Bersama PKS
Pada masa awal kuliahnya, Irfan mengemban amanah di Bidang Kaderisasi PIP PKS Pakistan. Setelah itu, ditunjuk untuk melanjutkan sebagai Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera (PIP PKS) Pakistan. Saat itu usianya 24 tahun.
"Seperti di beberapa negara lainnya, PKS juga diminati oleh WNI yang ada di Pakistan," ungkapnya. "Di sana kan salah satu pusat Jama'ah Tabligh, nah teman-teman yang sedang belajar di madrasah-madrasah Tabligh itu ternyata pilih PKS juga," lanjutnya.
Kembali dari Pakistan, Irfan membantu di Bidang Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri (BPPLN) DPP PKS. Tepatnya sebagai staff di Kawasan Afrika dan Timur Tengah. Selain itu, ia juga terlibat di kepengurusan tingkat ranting, sebagai Koordinator Saksi pada saat Pemilukada DKI Jakarta dengan Calon Gubernur Anies Baswedan dan Pemilu 2019.
Sebelum dipanggil kembali ke Kalimantan Barat, Irfan mengemban amanah sebagai Ketua Seksi Humas DPC PKS Kecamatan Pasar Rebo. Selain itu, juga diamanahi sebagai Sekretaris Biro Diplomasi dan Pelayanan BPPLN DPP PKS.
"Jadi biasanya berurusan dengan luar negeri. Kini saya kembali ke daerah asal yang merupakan perbatasan negeri. Karena Dapil 1 tempat saya maju sebagai Caleg DPRD Kabupaten Kapuas Hulu ini zonanya sampai ke perbatasan Indonesia dengan Malaysia," jelasnya.
Kontribusi Bagi Daerah Perbatasan
Daerah Pemilihan 1 Kapuas Hulu terdiri dari 7 kecamatan, yaitu Putussibau Utara, Embaloh Hilir, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Empanang, Badau, dan Puring Kencana. Inilah wilayah perbatasan dengan Malaysia yang menjadi Dapilnya.
Menurutnya, masyarakat di wilayah perbatasan perlu mendapatkan perhatian yang memadai, agar tidak merasa lebih buruk dari warga negara tetangganya. "Ada istilah Diplomasi Perbatasan dalam konteks menjaga keutuhan NKRI. Diplomasi perbatasan ini bukan saja masalah penetapan perbatasan, tapi juga yang kaitannya pengelolaan. InsyaAllah berjuang sebagai Anggota DPRD di wilayah perbatasan akan turut berkontribusi dalam menaikan kelayakan hidup masyarakat di wilayah perbatasan. Sehingga tumbuhlah kebanggaan sebagai warga negara Indonesia," ujarnya.
Jadi, bila sebelumnya tema diplomasi menjadi bahan diskusi. Maka, kini tema diplomasi itu menjadi tantangan aksi baginya. Aksi untuk melayani dan membela rakyat di perbatasan negeri.[]


0 Komentar