Zico Alviandri
Akhi, hidup semakin mudah ya?
Tapi ini bukan tentang teknologi
Dulu, kita susupi hutan dalam perjalanan berjam-jam,
menyandang tas ransel berisi tenda, pakaian, peralatan memasak, dan perlengkapan lainnya.
Instruksi tak bisa dibantah dan hukuman push up kita akrabi untuk beberapa hari.
Kita adu nyali dengan suara auman kucing-kucing hutan. Bahkan ada yang pernah berhadap-hadapan dengan macan kumbang.
Kini, kita ditemani suara gemuruh bass pada lagu daerah yang kita tingkahi dengan gerakan hancur-hancuran.
Dengan napas tersengal menyesuaikan usia, kita tatapi instruktur di depan sambil bergumam, "duh, udah ganti gerakan aja. Susah banget sih ini senam."
Adakah istilah short march? Karena kaki kita cuma menyusuri jalan setapak dalam hitungan sekian menit saja. Itu pun perut buncit kita telah menyerah.
Kemah yang dibangun semakin mewah, memanjakan dan dikelilingi banyak warung jajanan.
"Mohon maklum, kita kan kader dakwah, asset penting lho dalam jamaah dan umat, jadi jangan dihadapkan dengan bahaya ya..." terdengar suara entah dari mana.
Sungguh pun begitu, setelah tiga hari dua malam terlewati, kita merasa masih memenuhi karakteristik "qowiyyul jism" seperti dulu.
Kita sudah (berembel-embel) sejahtera, dan usia semakin berbilang, maka setiap latihan menghadapi tantangan harus disesuaikan. Begitu kan?
Namun kita akan temukan semangat yang tak pernah pudar di dalam dada.... yang terbalut buncitnya perut. Eh...
*Catatan kembara 28-30 Juli 2023
Masih Tidung yang paling berkesan.


0 Komentar